Ayat bacaan: Yesaya 29:14-15
"Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi."
Di saat orang pertama kali jatuh cinta, mereka akan merasakan segala-galanya sangat indah. Yang paling pahit pun terasa manis. Segala kekurangan pasangannya akan dirasa seperti sebuah kelebihan dengan perasaan cinta yang meluap-luap. Semua hal yang dapat menyenangkan kekasih akan dilakukan dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Itu hal yang biasa kita jumpai ketika orang yang baru jatuh cinta. Pada suatu saat ketika sebuah hubungan berjalan sebagai sebuah rutinitas dari hari ke hari, perlahan orang akan mulai kehilangan rasa cinta yang meluap-luap seperti di awal. Tidak lagi ada gairah disana, tidak lagi ada semangat dan hasrat untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya demi orang yang kita cintai, tapi hanya didasarkan semata-mata karena itu adalah sebuah kewajiban. Ketika pertama kali lahir baru, kita pun mengalami cinta yang meluap-luap pada Kristus. Kita akan sangat termotivasi dan bersemangat ketika melakukan ibadah karena kita sangat mengasihi Kristus. Namun lama kelamaan jika semua itu menjadi satu rutinitas, tanpa sadar banyak diantara anak-anak Tuhan yang akhirnya kehilangan arah dan tujuan, kehilangan kasih mula-mula mereka.
Ada banyak orang yang rajin ke gereja, rajin berdoa, namun melakukannya hanya karena sebuah kebiasaan atau rutinitas. Dulu saya pernah bertanya kepada seorang teman, untuk apa ia pergi ke gereja pagi-pagi benar? Ia menjawab karena ia orang kristen, dan ia harus ke gereja supaya tidak dimarahi orang tuanya. Ketika ibadah dilakukan hanya atas alasan sebuah rutinitas semata, kebosanan dan kejenuhan pun mengintip. Gairah akan hilang, kasih menurun, dan akhirnya orang bisa kehilangan kasih mula-mula mereka kepada Tuhan.
Di dalam rutinitas seringkali kita temui kejenuhan. Segala sesuatu terasa membosankan dan monoton. Tidak ada gairah dan semangat di dalamnya, dan orang akan menjadi lupa pada motivasi, alasan atau tujuan sebenarnya dari apa yang mereka lakukan. Dalam kehidupan rohani pun tujuan beribadah ini bisa melenceng menjadi sekedar rutinitas. Mungkin awalnya dilakukan karena sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, namun seiring waktu, semuanya menjadi pola kebiasaan yang tidak lagi didasarkan dari hati yang mengasihi. Ada banyak orang yang berdoa hanya menyampaikan teks hafalan itu-itu saja, karena sudah setiap hari mengucapkan hal yang sama. Ada pula yang memang hadir di gereja, tapi mereka tidaklah memiliki hati yang haus akan firman Tuhan, bukan mencari Tuhan. Mereka akan mengobrol, mencari humor dari kotbah pendeta, atau sms-an. Ketika hal ini terjadi, kita bisa melihat bahwa kasih mula-mula yang pernah mereka alami sudah terkikis. Ketika ada orang yang menganggap sebuah kotbah membosankan, atau "acara"nya buruk, lagu-lagunya tidak enak, tidak sesuai selera dan sebagainya, itu karena mereka mementingkan tata caranya di atas hubungan pribadi dengan Tuhan. Jika itu terjadi, bukan gerejanya yang buruk, tapi hubungan pribadi mereka dengan Tuhan lah yang buruk. Ibadah tidak berbicara soal selera, melainkan berbicara tentang kerohanian seseorang dalam membangun hubungan dengan Tuhan.
Sebuah ibadah yang baik seperti yang diajarkan Yesus sendiri adalah menyembah Allah didalam Roh dan kebenaran. (Yohanes 4:24). Adalah penting bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas Roh dan kebenaran secara terus menerus, dan itu semua tidaklah akan berhasil apabila kita kehilangan kasih mula-mula dan melakukan ibadah hanya sebagai simbol maupun rutinitas semata. Sebuah ibadah sejati digambarkan jelas oleh Paulus. "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah : itu adalah ibadahmu yang sejati " (Roma 12:1). Sebuah ibadah hendaklah dilakukan atas kasih dan rasa syukur tak terhingga bagi Allah saja. Janganlah sampai semua itu hanya merupakan rutinitas tanpa disertai rasa maupun ucapan syukur yang tulus dari hati dan akibatnya kita menjadi bodoh dan kehilangan penyertaan Allah dalam hidup kita. "Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh." (Roma 1:21). Sebuah ibadah sejati tidak boleh terbatas hanya pada ritual-ritual keagamaan, rajin ke gereja, aktif dalam pelayanan atau ikut persekutuan, tapi ibadah sejati haruslah juga menyangkut sebuah hubungan atas kasih dan syukur kepada Tuhan dalam Roh dan Kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, kapan saja dan dimana saja.
Miliki motivasi dan dasar yang benar dalam beribadah agar kita tidak kehilangan kasih mula-mula
*Sumber : Renungan harian on line 30/11/2008
Sunday, November 30, 2008
Kehilangan Kasih Mula-Mula (4) : Cinta Dunia
Ayat bacaan: 1 Yohanes 2:15
"Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu."
Begitu banyak yang ditawarkan dunia ini buat kenyamanan, kemudahan dan kemewahan hidup. Harta, jabatan, status, semua itu dijamin bisa mempermudah hidup buat ukuran dunia. Berbagai iklan menawarkan banyak hal yang secara duniawi bisa membuat anda lebih nyaman. Dunia memang terus berlomba untuk membangun aspek-aspek yang bisa memuaskan keinginan manusia untuk memiliki harta dunia lengkap dengan kenikmatan dan kenyamanannya. Untuk mampu memperoleh itu semua, orang pun akan terus berusaha menimbun harta dan tanpa sadar akan terjerumus menjadi hamba uang. Mereka akan tidak lagi perduli darimana uang itu berasal, bagaimana cara mendapatkannya, karena mereka mendasarkan segala sesuatunya kepada benda-benda mati yang sifatnya duniawi. Jelas,karenanya mereka akan kehilangan kasih mula-mula dan semakin jauh dari Tuhan. Mereka akan lebih tertarik untuk mengamankan aset-asetnya sambil terus mencari jalan untuk memperoleh lebih banyak lagi ketimbang memikirkan hal-hal bersifat surgawi. Begitu pula jabatan. Lihatlah bagaimana orang menghalalkan segala cara untuk bisa memperoleh sebuah kedudukan. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa menjadi caleg alias calon legislatif? Berapa yang harus mereka bayar agar bisa menjadi calon bupati, walikota, gubernur dan sebagainya, bahkan kepala desa? Terkadang ambisi untuk mendapat jabatan membuat orang buta, dan mereka pun mengeluarkan biaya yang jauh melebihi kemampuannya. Akibatnya, kemudian kita mendengar berbagai kisah kegagalan yang berakibat buruk. Ada yang mengerahkan massa untuk memaksakan posisinya, bahkan ada pula yang melakukan tindakan bunuh diri akibat terlilit hutang setelah kalah. Dalam alkitab pun ada banyak kisah kejatuhan akibat menghamba pada tuan yang salah, bagaimana seseorang bisa kehilangan kasih mula-mula dan kemudian meninggalkan Tuhan. Salah satu contohnya adalah Demas, salah seorang teman sepelayanan Paulus. " Karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku..." (2 Timotius 4:10). Motivasi yang salah, menghambakan harta, pangkat dan jabatan, ini semua bertentangan dengan firman Tuhan, dan tidak akan pernah membawa kebaikan dalam hidup kita.
Ayat bacaan hari ini mengingatkan kita agar jangan mengasihi dunia dan apa-apa didalamnya, seperti harta, manusia, jabatan, status dan lain-lain. Mengapa demikian? Karena jika orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. (1 Yohanes 2:15). Mari kita baca ayat selanjutnya. "Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (ay 16-17). Kasih Bapa tidak akan ada didalam orang yang mengasihi dunia. Yesus juga mengingatkan bahwa manusia tidak dapat mengabdi pada dua tuan. "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Mamon adalah dewa uang. Karena kita tidak dapat mengabdi pada dua tuan sekaligus, maka ketika kita lebih memilih untuk mengasihi segala yang ditawarkan dunia, kasih Allah pun hilang dari diri kita. Tuhan sendiri mengecam keras mereka yang meninggalkanNya dan berpaling pada dunia. "Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!" (Yeremia 17:5). Jadi ketika orang mulai merasa memiliki segalanya, dan berkata seperti si kaya dalam "perumpamaan orang kaya yang bodoh" : "Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!" (Lukas 12:19), berhati-hatilah. Sebab itu tandanya orang tersebut sudah terperosok terlalu jauh meninggalkan Tuhan. Tuhan pun kemudian menjawab si kaya: "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?" (ay 20). Uang dan harta tidak bisa dibawa serta ketika manusia meninggalkan dunia, alangkah sia-sianya jika kita hidup semata-mata mengejar kekayaan dan jabatan kemudian meninggalkan kasih mula-mula,berpaling dari Tuhan.
Apapun yang kita miliki di dunia ini sifatnya hanya sementara, dan tidak akan dapat membahagiakan apalagi menyelamatkan kita. "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya." (Matius 6:19-20). Kita melihat bahwa ada banyak orang yang kaya raya, memiliki segalanya tapi tetap tidak bahagia dan terus dicekam kekhawatiran, karena untuk bisa menikmati pun merupakan karunia Tuhan. "Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit." (Pengkotbah 6:1-2) atau ayat berikut: "Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah." (5:19). Semua itu, baik kekayaan maupun kemampuan untuk menikmati semunya berasal dari Tuhan, dimana tanpa mengasihiNya, kita tidak akan bisa memperoleh itu semua lengkap dengan kuasa untuk bisa menikmati, juga untuk beroleh harta surgawi yang kekal. Tuhan tidak melarang kita untuk memiliki makanan, pakaian dan kebutuhan duniawi, tapi ingatlah bahwa yang jauh lebih penting dari itu semua adlah kepemilikan terhadap harta di surga dengan segala kemuliaannya. Harta surgawi yang seharusnya menjadi bagian orang-orang percaya itulah yang bersifat kekal, dan seharusnya menjadi fokus kita. Tuhan sanggup menyediakan segalanya buat kita, karenanya kita tidak perlu bergantung pada kekayaan dan kenikmatan duniawi. Tetapi itu semua hanya ada pada orang yang sungguh-sungguh mengasihiNya. "Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9). Karena itu, kita jangan sampai kehilangan kasih mula-mula, yang tidak saja menghalangi berkat Tuhan tercurah buat kita, tapi juga membuat kita kehilangan kesempatan untuk memperoleh harta surgawi.
Harta duniawi hanyalah mampu berfungsi sebagai alat tukar yang tidak kekal dan tidak ada perlindungan apalagi keselamatan di dalamnya
Sumber : Renungan harian on line 29/11/2008
"Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu."
Begitu banyak yang ditawarkan dunia ini buat kenyamanan, kemudahan dan kemewahan hidup. Harta, jabatan, status, semua itu dijamin bisa mempermudah hidup buat ukuran dunia. Berbagai iklan menawarkan banyak hal yang secara duniawi bisa membuat anda lebih nyaman. Dunia memang terus berlomba untuk membangun aspek-aspek yang bisa memuaskan keinginan manusia untuk memiliki harta dunia lengkap dengan kenikmatan dan kenyamanannya. Untuk mampu memperoleh itu semua, orang pun akan terus berusaha menimbun harta dan tanpa sadar akan terjerumus menjadi hamba uang. Mereka akan tidak lagi perduli darimana uang itu berasal, bagaimana cara mendapatkannya, karena mereka mendasarkan segala sesuatunya kepada benda-benda mati yang sifatnya duniawi. Jelas,karenanya mereka akan kehilangan kasih mula-mula dan semakin jauh dari Tuhan. Mereka akan lebih tertarik untuk mengamankan aset-asetnya sambil terus mencari jalan untuk memperoleh lebih banyak lagi ketimbang memikirkan hal-hal bersifat surgawi. Begitu pula jabatan. Lihatlah bagaimana orang menghalalkan segala cara untuk bisa memperoleh sebuah kedudukan. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa menjadi caleg alias calon legislatif? Berapa yang harus mereka bayar agar bisa menjadi calon bupati, walikota, gubernur dan sebagainya, bahkan kepala desa? Terkadang ambisi untuk mendapat jabatan membuat orang buta, dan mereka pun mengeluarkan biaya yang jauh melebihi kemampuannya. Akibatnya, kemudian kita mendengar berbagai kisah kegagalan yang berakibat buruk. Ada yang mengerahkan massa untuk memaksakan posisinya, bahkan ada pula yang melakukan tindakan bunuh diri akibat terlilit hutang setelah kalah. Dalam alkitab pun ada banyak kisah kejatuhan akibat menghamba pada tuan yang salah, bagaimana seseorang bisa kehilangan kasih mula-mula dan kemudian meninggalkan Tuhan. Salah satu contohnya adalah Demas, salah seorang teman sepelayanan Paulus. " Karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku..." (2 Timotius 4:10). Motivasi yang salah, menghambakan harta, pangkat dan jabatan, ini semua bertentangan dengan firman Tuhan, dan tidak akan pernah membawa kebaikan dalam hidup kita.
Ayat bacaan hari ini mengingatkan kita agar jangan mengasihi dunia dan apa-apa didalamnya, seperti harta, manusia, jabatan, status dan lain-lain. Mengapa demikian? Karena jika orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. (1 Yohanes 2:15). Mari kita baca ayat selanjutnya. "Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (ay 16-17). Kasih Bapa tidak akan ada didalam orang yang mengasihi dunia. Yesus juga mengingatkan bahwa manusia tidak dapat mengabdi pada dua tuan. "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Mamon adalah dewa uang. Karena kita tidak dapat mengabdi pada dua tuan sekaligus, maka ketika kita lebih memilih untuk mengasihi segala yang ditawarkan dunia, kasih Allah pun hilang dari diri kita. Tuhan sendiri mengecam keras mereka yang meninggalkanNya dan berpaling pada dunia. "Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!" (Yeremia 17:5). Jadi ketika orang mulai merasa memiliki segalanya, dan berkata seperti si kaya dalam "perumpamaan orang kaya yang bodoh" : "Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!" (Lukas 12:19), berhati-hatilah. Sebab itu tandanya orang tersebut sudah terperosok terlalu jauh meninggalkan Tuhan. Tuhan pun kemudian menjawab si kaya: "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?" (ay 20). Uang dan harta tidak bisa dibawa serta ketika manusia meninggalkan dunia, alangkah sia-sianya jika kita hidup semata-mata mengejar kekayaan dan jabatan kemudian meninggalkan kasih mula-mula,berpaling dari Tuhan.
Apapun yang kita miliki di dunia ini sifatnya hanya sementara, dan tidak akan dapat membahagiakan apalagi menyelamatkan kita. "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya." (Matius 6:19-20). Kita melihat bahwa ada banyak orang yang kaya raya, memiliki segalanya tapi tetap tidak bahagia dan terus dicekam kekhawatiran, karena untuk bisa menikmati pun merupakan karunia Tuhan. "Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit." (Pengkotbah 6:1-2) atau ayat berikut: "Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah." (5:19). Semua itu, baik kekayaan maupun kemampuan untuk menikmati semunya berasal dari Tuhan, dimana tanpa mengasihiNya, kita tidak akan bisa memperoleh itu semua lengkap dengan kuasa untuk bisa menikmati, juga untuk beroleh harta surgawi yang kekal. Tuhan tidak melarang kita untuk memiliki makanan, pakaian dan kebutuhan duniawi, tapi ingatlah bahwa yang jauh lebih penting dari itu semua adlah kepemilikan terhadap harta di surga dengan segala kemuliaannya. Harta surgawi yang seharusnya menjadi bagian orang-orang percaya itulah yang bersifat kekal, dan seharusnya menjadi fokus kita. Tuhan sanggup menyediakan segalanya buat kita, karenanya kita tidak perlu bergantung pada kekayaan dan kenikmatan duniawi. Tetapi itu semua hanya ada pada orang yang sungguh-sungguh mengasihiNya. "Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9). Karena itu, kita jangan sampai kehilangan kasih mula-mula, yang tidak saja menghalangi berkat Tuhan tercurah buat kita, tapi juga membuat kita kehilangan kesempatan untuk memperoleh harta surgawi.
Harta duniawi hanyalah mampu berfungsi sebagai alat tukar yang tidak kekal dan tidak ada perlindungan apalagi keselamatan di dalamnya
Sumber : Renungan harian on line 29/11/2008
Kehilangan Kasih Mula-Mula (3) : Kepahitan Terhadap Sesama Manusia
Ayat bacaan: Wahyu 8:11
"Nama bintang itu ialah Apsintus. Dan sepertiga dari semua air menjadi apsintus, dan banyak orang mati karena air itu, sebab sudah menjadi pahit."
Kalau kemarin kita melihat hal kepahitan terhadap Tuhan, hari ini mari kita melihat kepahitan terhadap sesama manusia. Ada kalanya dalam perjalanan hidup kita mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan akibat perbuatan orang lain seperti ditolak, ditipu, dikhianati, dikecewakan, dilukai dan sebagainya. Hal-hal seperti ini menimbulkan luka dan terkadang membekas dalam diri kita. Endapan bekas itu kemudian menjadi trauma dan timbullah kepahitan dalam hidup. Seringkali kepahitan ini timbul bukan terhadap orang-orang yang jauh dari kita, tapi justru terhadap orang-orang yang dekat dengan kita. Orang yang kita cintai, orang-orang yang seharusnya bisa kita percaya, tetapi ternyata malah menyakiti perasaan kita. Begitu banyak istri yang mengalami kepahitan terhadap suaminya akibat dikhianati, anak yang mengalami kepahitan terhadap orang tuanya akibat tidak diperhatikan atau pengalaman-pengalaman traumatis di masa kecil, kepahitan terhadap saudara sendiri dan lain-lain. Orang yang mengalami kepahitan lama-lama akan mengalami krisis kepercayaan. Mereka akan selalu dilingkupi rasa curiga, akan selalu merasa tidak aman, yang seringkali berlebihan. Mereka akan sulit percaya agar tidak terjebak untuk kesekian kalinya. Mereka akan membangun tembok tebal dan tinggi dimana mereka akan mengurung diri mereka didalamnya. Ada seorang teman yang trauma karena dikhianati kekasihnya, dan saat ini ia tidak berani untuk menerima orang lain. Ia berkata bahwa ia harus menjaga jarak dari siapapun, tidak mau terlalu dekat dengan siapapun, karena semua orang punya potensi untuk mengecewakannya. Ia juga menjadi rendah diri,selalu merasa kurang dari orang lain. Rasa sulit percaya pada orang lain ini adalah masalah hati, yang jika dibiarkan berlarut-larut lama kelamaan akan mencemarkan kerohanian juga. Mereka pun akan sampai kepada tahap dimana mereka sulit percaya pada Tuhan, dan akhirnya kehilangan kasih mula-mula.
Saya mengerti bahwa terkadang tidaklah mudah bagi kita untuk mengampuni, apalagi jika kepahitan itu timbul akibat sesuatu yang sangat menyakitkan dan traumatis. Perkosaan, pelecehan seksual, siksaan dalam waktu lama dan lain-lain bisa membuat para korban merasa masa depannya hancur sehingga mereka akan sulit untuk melangkah ke depan. Tapi Alkitab tetap mengajarkan untuk mengampuni, seperti Tuhan pun senantiasa siap untuk mengampuni kita. Kita manusia yang tidak luput dari kesalahan dan terus berbuat dosa. "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23), tapi lihatlah betapa Allah begitu mengasihi kita. Ayat selanjutnya berkata "dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (ay 24). Itulah bentuk kasih Tuhan pada kita. Berkali-kali kita jatuh dalam dosa, tapi Tuhan tetap tidak kenal lelah memberi pengampunan. Inilah prinsip pengampunan yang tuntas. Dia tidak akan mengungkit lagi dosa-dosa di masa lalu yang telah kita akui dengan pertobatan sungguh-sungguh. Bentuk kasih seperti inilah yang diajarkan Kristus untuk kita lakukan. Dalam Matius 28:22, menjawab pertanyaan Petrus, Tuhan Yesus berkata bahwa kita haruslah mengampuni tidak hanya tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Ini menggambarkan pengampunan tak terbatas yang harus mampu kita sediakan. Lalu Yesus juga mengingatkan: "Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." (Lukas 17:3-4). Yesus meminta kita untuk menjaga diri agar selalu siap untuk memberikan pengampunan tanpa terkecuali dan tanpa batas. Selanjutnya ada hubungan kuat antara mengampuni dan diampuni. "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu. (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.") (Markus 11:26).
Kita harus mampu membuang segala kepahitan dalam hidup dan menggantikannya dengan kemampuan untuk mengampuni sebagaimana Tuhan sendiri mengampuni kita lewat Kristus. "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:31-32). Menghadapi kepahitan terhadap orang lain kunci pertamanya adalah memaafkan. Bukan sekedar memaafkan dari luar, tapi kita harus mampu memberi pengampunan tulus dan ikhlas yang berasal dari hati. Tanpa melakukan hal ini, kita akan terhalang untuk menerima berkat dan pertolongan Tuhan. Percayalah Tuhan mampu mengangkat kepahitan itu hingga ke akar-akarnya bahkan menggantikannya dengan damai sukacita dalam hidup yang berkelimpahan. Jika kita lihat ayat bacaan hari ini, sebuah bintang besar bernama Apsintus jatuh dari langit kemudian membuat sepertiga dari semua air menjadi pahit, dan orang yang meminumnya akan mati. Kepahitan itu mematikan. kepahitan terhadap orang lain haruslah diatasi sesegera mungkin agar tidak menjadi racun yang menghilangkan kasih mula-mula, terus menghancurkan bahkan mematikan kita. Jangan sampai kepahitan membuat kita kehilangan kasih mula-mula, tapi berikanlah pengampunan, tetaplah ingat kasih Allah, tetaplah percaya pada kuasaNya, sehingga Tuhan akan mengobati kepahitan itu dan menggantikannya dengan damai sejahtera, sukacita dan berkat-berkat lainnya.
Kepahitan itu mematikan. Pilihlah hidup yang penuh berkat dan kelimpahan dengan menjaga kasih mula-mula tetap menyala
*Sumber : Renungan harian On Line 27/11/2008
"Nama bintang itu ialah Apsintus. Dan sepertiga dari semua air menjadi apsintus, dan banyak orang mati karena air itu, sebab sudah menjadi pahit."
Kalau kemarin kita melihat hal kepahitan terhadap Tuhan, hari ini mari kita melihat kepahitan terhadap sesama manusia. Ada kalanya dalam perjalanan hidup kita mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan akibat perbuatan orang lain seperti ditolak, ditipu, dikhianati, dikecewakan, dilukai dan sebagainya. Hal-hal seperti ini menimbulkan luka dan terkadang membekas dalam diri kita. Endapan bekas itu kemudian menjadi trauma dan timbullah kepahitan dalam hidup. Seringkali kepahitan ini timbul bukan terhadap orang-orang yang jauh dari kita, tapi justru terhadap orang-orang yang dekat dengan kita. Orang yang kita cintai, orang-orang yang seharusnya bisa kita percaya, tetapi ternyata malah menyakiti perasaan kita. Begitu banyak istri yang mengalami kepahitan terhadap suaminya akibat dikhianati, anak yang mengalami kepahitan terhadap orang tuanya akibat tidak diperhatikan atau pengalaman-pengalaman traumatis di masa kecil, kepahitan terhadap saudara sendiri dan lain-lain. Orang yang mengalami kepahitan lama-lama akan mengalami krisis kepercayaan. Mereka akan selalu dilingkupi rasa curiga, akan selalu merasa tidak aman, yang seringkali berlebihan. Mereka akan sulit percaya agar tidak terjebak untuk kesekian kalinya. Mereka akan membangun tembok tebal dan tinggi dimana mereka akan mengurung diri mereka didalamnya. Ada seorang teman yang trauma karena dikhianati kekasihnya, dan saat ini ia tidak berani untuk menerima orang lain. Ia berkata bahwa ia harus menjaga jarak dari siapapun, tidak mau terlalu dekat dengan siapapun, karena semua orang punya potensi untuk mengecewakannya. Ia juga menjadi rendah diri,selalu merasa kurang dari orang lain. Rasa sulit percaya pada orang lain ini adalah masalah hati, yang jika dibiarkan berlarut-larut lama kelamaan akan mencemarkan kerohanian juga. Mereka pun akan sampai kepada tahap dimana mereka sulit percaya pada Tuhan, dan akhirnya kehilangan kasih mula-mula.
Saya mengerti bahwa terkadang tidaklah mudah bagi kita untuk mengampuni, apalagi jika kepahitan itu timbul akibat sesuatu yang sangat menyakitkan dan traumatis. Perkosaan, pelecehan seksual, siksaan dalam waktu lama dan lain-lain bisa membuat para korban merasa masa depannya hancur sehingga mereka akan sulit untuk melangkah ke depan. Tapi Alkitab tetap mengajarkan untuk mengampuni, seperti Tuhan pun senantiasa siap untuk mengampuni kita. Kita manusia yang tidak luput dari kesalahan dan terus berbuat dosa. "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23), tapi lihatlah betapa Allah begitu mengasihi kita. Ayat selanjutnya berkata "dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (ay 24). Itulah bentuk kasih Tuhan pada kita. Berkali-kali kita jatuh dalam dosa, tapi Tuhan tetap tidak kenal lelah memberi pengampunan. Inilah prinsip pengampunan yang tuntas. Dia tidak akan mengungkit lagi dosa-dosa di masa lalu yang telah kita akui dengan pertobatan sungguh-sungguh. Bentuk kasih seperti inilah yang diajarkan Kristus untuk kita lakukan. Dalam Matius 28:22, menjawab pertanyaan Petrus, Tuhan Yesus berkata bahwa kita haruslah mengampuni tidak hanya tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Ini menggambarkan pengampunan tak terbatas yang harus mampu kita sediakan. Lalu Yesus juga mengingatkan: "Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." (Lukas 17:3-4). Yesus meminta kita untuk menjaga diri agar selalu siap untuk memberikan pengampunan tanpa terkecuali dan tanpa batas. Selanjutnya ada hubungan kuat antara mengampuni dan diampuni. "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu. (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.") (Markus 11:26).
Kita harus mampu membuang segala kepahitan dalam hidup dan menggantikannya dengan kemampuan untuk mengampuni sebagaimana Tuhan sendiri mengampuni kita lewat Kristus. "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:31-32). Menghadapi kepahitan terhadap orang lain kunci pertamanya adalah memaafkan. Bukan sekedar memaafkan dari luar, tapi kita harus mampu memberi pengampunan tulus dan ikhlas yang berasal dari hati. Tanpa melakukan hal ini, kita akan terhalang untuk menerima berkat dan pertolongan Tuhan. Percayalah Tuhan mampu mengangkat kepahitan itu hingga ke akar-akarnya bahkan menggantikannya dengan damai sukacita dalam hidup yang berkelimpahan. Jika kita lihat ayat bacaan hari ini, sebuah bintang besar bernama Apsintus jatuh dari langit kemudian membuat sepertiga dari semua air menjadi pahit, dan orang yang meminumnya akan mati. Kepahitan itu mematikan. kepahitan terhadap orang lain haruslah diatasi sesegera mungkin agar tidak menjadi racun yang menghilangkan kasih mula-mula, terus menghancurkan bahkan mematikan kita. Jangan sampai kepahitan membuat kita kehilangan kasih mula-mula, tapi berikanlah pengampunan, tetaplah ingat kasih Allah, tetaplah percaya pada kuasaNya, sehingga Tuhan akan mengobati kepahitan itu dan menggantikannya dengan damai sejahtera, sukacita dan berkat-berkat lainnya.
Kepahitan itu mematikan. Pilihlah hidup yang penuh berkat dan kelimpahan dengan menjaga kasih mula-mula tetap menyala
*Sumber : Renungan harian On Line 27/11/2008
Kehilangan Kasih Mula-Mula (2) : Kepahitan Terhadap Tuhan
Ayat bacaan: Ibrani 12:15
"Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang."
Ada sebuah survei yang pernah saya baca di majalah mengatakan bahwa 70% orang marah akan sesuatu. Kemarahan bisa berasal dari berbagai masalah, ketidakpuasan atau kecemburuan. Rasanya tidak ada orang di dunia ini yang tidak pernah marah. Kemarahan ini dalam waktu tertentu bisa berubah menjadi kepahitan jika dibiarkan berlarut-larut. Kemarahan tidak hanya diarahkan kepada sesama manusia, tapi ada pula yang marah hingga mengalami kepahitan kepada Tuhan. Kenapa? Banyak alasannya. Misalnya, ada yang mengalami kepahitan karena orang yang sangat mereka sayangi mengalami hal-hal buruk dalam hidupnya atau mungkin juga kematian. Adik saya sendiri mengalami kepahitan sejak ibu kami meninggal. Disaat ibu kami meninggal, dua keadaan yang kontras terjadi. Saya mendapat pengalaman-pengalaman rohani luar biasa sehingga bertobat dan menerima Kristus, sedangkan adik saya mengalami kepahitan karena tidak rela ibu dipanggil Tuhan. Ada yang merasa apa yang mereka alami tidaklah adil. Ada banyak orang yang kecewa pada Tuhan karena ia melihat rekan sekerjanya mengalami karir yang meningkat pesat sementara mereka masih jalan di tempat, atau teman di kampus yang jarang masuk dan kerjanya menyontek mendapatkan nilai lebih baik daripada dirinya yang mati-matian belajar. Ada pula yang mengalami kepahitan akibat didera kemiskinan, tekanan hidup, masalah bertubi-tubi dalam waktu yang lama. "Buat apa beribadah? Toh hidup sama saja, terus menderita dan kekurangan.." Ini kira-kira keluhan seorang supir angkot yang pernah saya dengar.
Dalam Alkitab pun beberapa kali kita menemukan kisah tentang kepahitan. Ayub misalnya, pernah berkata: "Semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan-Nya. Bumi telah diserahkan ke dalam tangan orang fasik, dan mata para hakimnya telah ditutup-Nya; kalau bukan oleh Dia, oleh siapa lagi?" (Ayub 9:22-24). Kepahitan Ayub terus berlanjut, lalu ia berkata: "Allah menyerahkan aku kepada orang lalim, dan menjatuhkan aku ke dalam tangan orang fasik. Aku hidup dengan tenteram, tetapi Ia menggelisahkan aku, aku ditangkap-Nya pada tengkukku, lalu dibanting-Nya, dan aku ditegakkan-Nya menjadi sasaran-Nya. Aku dihujani anak panah, ginjalku ditembus-Nya dengan tak kenal belas kasihan, empeduku ditumpahkan-Nya ke tanah. Ia merobek-robek aku, menyerang aku laksana seorang pejuang." (Ayub 16:12-14). Pada kisah lain, kita melihat juga Naomi pernah mengalami kepahitan. Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku." (Rut 1:20-21). Yesus pernah pula menggambarkan kekecewaan dan kemarahan manusia akibat merasa diperlakukan tidak adil dalam perumpamaan tentang penggarap kebun anggur pada Matius 20:9-19.
Kepahitan dalam ayat bacaan di atas digambarkan dengan menarik. Kepahitan digambarkan sebagai akar. Sebuah pohon tumbuh akibat suplai makanan dari akar. Apabila akar ini pahit, maka kepahitan akan mencemari pohon mulai dari batang, ranting hingga daun. Kepahitan yang mengakar tidak saja merugikan diri sendiri tapi bisa membuat orang berpikir pendek dan akhirnya menimbulkan kekacauan. Tuhan tidak menginginkan hal itu terjadi pada kita. Kepahitan pada Tuhan ini akan timbul jika kita tidak melihat kejadian-kejadian yang kita alami dalam kerangka yang lebih besar. Jika kita melihat hanya pada saat ini, dengan kemampuan nalar manusia yang terbatas, mungkin kita akan melihat apa yang kita alami hanyalah penderitaan, ketidakadilan bahkan timbul rasa ketidakpedulian Tuhan pada kita. Tapi ingatlah bahwa rancangan yang disediakan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera (Yeremia 29:11), Ia juga menjanjikan kita sebuah hidup yang dipenuhi segala kelimpahan. (Yohanes 10:10). Dan Tuhan pun mengingatkan pada kita: "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:9). Kepahitan akan membuat kita semakin jauh dari Allah dan kehilangan kasih mula-mula, kemudian kehilangan kesempatan untuk menerima berkat-berkatNya.
Jika anda saat ini tengah mengalami kepahitan, berdoalah dan miliki kembali iman tanpa keraguan. Percayalah bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh kasih setia, tidak pernah meninggalkan kita dan selalu peduli. Tuhan sangat mengasihi kita. Mari kita periksa diri kita, apakah kita telah hidup sesuai firmanNya. Jangan sampai ada berkatNya terhalang karena kita belumlah hidup benar. Jangan sampai ada hal-hal yang kita lakukan tidak berkenan di hadapanNya dan karenanya kita mengalami berbagai penderitaan, yang sebenarnya bukan dari Tuhan tapi adalah sebagai konsekuensi dari tindakan kita yang salah. Kita hendaknya tetap menjaga diri agar tidak mengalami kepahitan yang tidak akan membawa apa-apa yang lebih baik kepada kita. Ketika hujan dan badai sirna, kita akan melihat pelangi yang indah. Ayub akhirnya menyadari kesalahan pola pikirnya dan berhenti menyalahkan Tuhan. (Ayub 42:1-6). "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal." (ay 2), "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu." (ay 5-6). Seperti Ayub yang kemudian menyadari kesalahan pola pikirnya, mari kita yang mengalami kepahitan kembali datang pada Tuhan. Berbaliklah sekarang juga. Alami kembali kasih mula-mula, karena tidak ada rencana Allah yang gagal atau sia-sia. Tuhan mengasihi anda!
Kepahitan akibat kekecewaan atau kemarahan pada Tuhan berasal dari kerangka pemikiran sempit. Percayalah akan rencanaNya yang indah bagi anda
*Sumber : Renungan harian online 26/11/2008
"Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang."
Ada sebuah survei yang pernah saya baca di majalah mengatakan bahwa 70% orang marah akan sesuatu. Kemarahan bisa berasal dari berbagai masalah, ketidakpuasan atau kecemburuan. Rasanya tidak ada orang di dunia ini yang tidak pernah marah. Kemarahan ini dalam waktu tertentu bisa berubah menjadi kepahitan jika dibiarkan berlarut-larut. Kemarahan tidak hanya diarahkan kepada sesama manusia, tapi ada pula yang marah hingga mengalami kepahitan kepada Tuhan. Kenapa? Banyak alasannya. Misalnya, ada yang mengalami kepahitan karena orang yang sangat mereka sayangi mengalami hal-hal buruk dalam hidupnya atau mungkin juga kematian. Adik saya sendiri mengalami kepahitan sejak ibu kami meninggal. Disaat ibu kami meninggal, dua keadaan yang kontras terjadi. Saya mendapat pengalaman-pengalaman rohani luar biasa sehingga bertobat dan menerima Kristus, sedangkan adik saya mengalami kepahitan karena tidak rela ibu dipanggil Tuhan. Ada yang merasa apa yang mereka alami tidaklah adil. Ada banyak orang yang kecewa pada Tuhan karena ia melihat rekan sekerjanya mengalami karir yang meningkat pesat sementara mereka masih jalan di tempat, atau teman di kampus yang jarang masuk dan kerjanya menyontek mendapatkan nilai lebih baik daripada dirinya yang mati-matian belajar. Ada pula yang mengalami kepahitan akibat didera kemiskinan, tekanan hidup, masalah bertubi-tubi dalam waktu yang lama. "Buat apa beribadah? Toh hidup sama saja, terus menderita dan kekurangan.." Ini kira-kira keluhan seorang supir angkot yang pernah saya dengar.
Dalam Alkitab pun beberapa kali kita menemukan kisah tentang kepahitan. Ayub misalnya, pernah berkata: "Semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan-Nya. Bumi telah diserahkan ke dalam tangan orang fasik, dan mata para hakimnya telah ditutup-Nya; kalau bukan oleh Dia, oleh siapa lagi?" (Ayub 9:22-24). Kepahitan Ayub terus berlanjut, lalu ia berkata: "Allah menyerahkan aku kepada orang lalim, dan menjatuhkan aku ke dalam tangan orang fasik. Aku hidup dengan tenteram, tetapi Ia menggelisahkan aku, aku ditangkap-Nya pada tengkukku, lalu dibanting-Nya, dan aku ditegakkan-Nya menjadi sasaran-Nya. Aku dihujani anak panah, ginjalku ditembus-Nya dengan tak kenal belas kasihan, empeduku ditumpahkan-Nya ke tanah. Ia merobek-robek aku, menyerang aku laksana seorang pejuang." (Ayub 16:12-14). Pada kisah lain, kita melihat juga Naomi pernah mengalami kepahitan. Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku." (Rut 1:20-21). Yesus pernah pula menggambarkan kekecewaan dan kemarahan manusia akibat merasa diperlakukan tidak adil dalam perumpamaan tentang penggarap kebun anggur pada Matius 20:9-19.
Kepahitan dalam ayat bacaan di atas digambarkan dengan menarik. Kepahitan digambarkan sebagai akar. Sebuah pohon tumbuh akibat suplai makanan dari akar. Apabila akar ini pahit, maka kepahitan akan mencemari pohon mulai dari batang, ranting hingga daun. Kepahitan yang mengakar tidak saja merugikan diri sendiri tapi bisa membuat orang berpikir pendek dan akhirnya menimbulkan kekacauan. Tuhan tidak menginginkan hal itu terjadi pada kita. Kepahitan pada Tuhan ini akan timbul jika kita tidak melihat kejadian-kejadian yang kita alami dalam kerangka yang lebih besar. Jika kita melihat hanya pada saat ini, dengan kemampuan nalar manusia yang terbatas, mungkin kita akan melihat apa yang kita alami hanyalah penderitaan, ketidakadilan bahkan timbul rasa ketidakpedulian Tuhan pada kita. Tapi ingatlah bahwa rancangan yang disediakan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera (Yeremia 29:11), Ia juga menjanjikan kita sebuah hidup yang dipenuhi segala kelimpahan. (Yohanes 10:10). Dan Tuhan pun mengingatkan pada kita: "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:9). Kepahitan akan membuat kita semakin jauh dari Allah dan kehilangan kasih mula-mula, kemudian kehilangan kesempatan untuk menerima berkat-berkatNya.
Jika anda saat ini tengah mengalami kepahitan, berdoalah dan miliki kembali iman tanpa keraguan. Percayalah bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh kasih setia, tidak pernah meninggalkan kita dan selalu peduli. Tuhan sangat mengasihi kita. Mari kita periksa diri kita, apakah kita telah hidup sesuai firmanNya. Jangan sampai ada berkatNya terhalang karena kita belumlah hidup benar. Jangan sampai ada hal-hal yang kita lakukan tidak berkenan di hadapanNya dan karenanya kita mengalami berbagai penderitaan, yang sebenarnya bukan dari Tuhan tapi adalah sebagai konsekuensi dari tindakan kita yang salah. Kita hendaknya tetap menjaga diri agar tidak mengalami kepahitan yang tidak akan membawa apa-apa yang lebih baik kepada kita. Ketika hujan dan badai sirna, kita akan melihat pelangi yang indah. Ayub akhirnya menyadari kesalahan pola pikirnya dan berhenti menyalahkan Tuhan. (Ayub 42:1-6). "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal." (ay 2), "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu." (ay 5-6). Seperti Ayub yang kemudian menyadari kesalahan pola pikirnya, mari kita yang mengalami kepahitan kembali datang pada Tuhan. Berbaliklah sekarang juga. Alami kembali kasih mula-mula, karena tidak ada rencana Allah yang gagal atau sia-sia. Tuhan mengasihi anda!
Kepahitan akibat kekecewaan atau kemarahan pada Tuhan berasal dari kerangka pemikiran sempit. Percayalah akan rencanaNya yang indah bagi anda
*Sumber : Renungan harian online 26/11/2008
Thursday, November 27, 2008
We Are The Body Of Christ
Ayat bacaan: Mazmur 122:1
"Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN."
Ada tiga orang teman saya dalam waktu yang berbeda bercerita bahwa mereka mulai kehilangan gairah untuk pergi ke Gereja. Alasannya pun berbeda-beda. Yang satu terlalu disibuki dengan pekerjaan, sehingga ia kerap merasa terlalu lelah untuk beribadah pada hari Minggu. Yang satu sudah terlalu lama hidup tanpa Gereja, sehingga ia kehilangan motivasi dan urgensi untuk pergi ke Gereja. Satu lagi teman saya merasa bahwa banyak jemaat di Gerejanya bersikap munafik, terutama teman-teman sekerja di kantornya yang juga kebetulan beribadah pada Gereja yang sama. Ia menganggap bahwa para jemaat yang notabene adalah rekan sekerja dan pimpinannya tidaklah mencerminkan sikap sebagai orang kudus dalam dunia kerja. "Buat apa ke Gereja kalau orang-orangnya seperti itu?" katanya. Salah satu dari teman saya itu kemarin saya ajak untuk sama-sama beribadah, dan awalnya ia bersemangat untuk pergi bareng. Apa yang terjadi di hari Minggu? Dia mengatakan bahwa dia tidak enak badan karena terlalu lelah bekerja dalam beberapa hari terakhir, dan membatalkannya.
Saya jadi ingat sebuah kisah tentang seorang ibu di salah satu kota kecil di Amerika. Si ibu ini masuk headline di harian lokal karena satu hal saja: ia tidak pernah absen ke Gereja selama 20 tahun. 20 tahun! Itu waktu yang tidak singkat. Fakta ini menimbulkan beberapa pertanyaan di benak saya:
Apakah ibu itu tidak pernah sakit atau tidak enak badan di hari Minggu?
Apakah dia tidak pernah punya masalah dengan jemaat lainnya, pengerja atau mungkin pendeta di Gerejanya?
Apakah selama 20 tahun tidak pernah terjadi hujan atau cuaca buruk di hari Minggu?
Apakah ia tidak pernah merasa terlalu lelah sehingga lebih tertarik untuk tidur?
Apakah ia tidak pernah melakukan liburan akhir pekan ke tempat lain?
Apakah ia tidak pernah ketiduran sehingga terlambat untuk berangkat?
Apakah tidak pernah ada sanak saudara atau tamu berkunjung ke rumahnya di hari Minggu sehingga ia harus melewatkan waktu bersama mereka?
Apakah tidak ada acara mendadak yang harus membatalkan jadwal ke Gereja?
Tidakkah ia pernah merasa bosan mendengar kotbah atau firman tentang hal yang itu lagi, itu lagi?Semua ini seringkali menjadi alasan untuk absen dari ibadah Gereja. "ah..satu kali kan nggak apa-apa.. sekali-kali saja kok.." Ya, mungkin awalnya hanya satu kali, tapi ketahuilah bahwa iblis itu terus mengaum-aum mencari mangsa (1 Petrus 5:8), dan akan memanfaatkan berbagai alasan untuk mencegah kita beribadah, mencari dan bertemu Tuhan, memuliakan Tuhan, mendengar firman dan menerima berkat. Iblis akan terus berusaha untuk mencegah anak-anak Tuhan bersekutu dalam nama Yesus dan saling mendoakan. Lambat laun, kemalasan akan menebal seperti karat dan orang yang demikian akan kehilangan damai sejahtera dan sukacita karena terus semakin jauh dari Tuhan. Memang beribadah itu bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, dan sudah seharusnya kita beribadah tanpa membatasi waktu. Hati, pikiran dan mulut kita senantiasa dipenuhi ucapan syukur dan memuji Tuhan. Sungguh baik sekali jika kita rajin meluangkan waktu untuk bersekutu dengan intim dengan Tuhan lewat saat-saat teduh kita. Tapi penting pula untuk diingat bahwa Gereja adalah tempat dimana anggota-anggota keluarga Allah berkumpul menjadi satu keluarga dengan Yesus sebagai kepala, sedangkan kita adalah bagian dari tubuhNya (the body of Christ). "Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu." (Efesus 1:22-23) Selanjutnya Paulus mengingatkan lagi: "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan." (2:19-21). Ya, kita adalah bagian tubuh Kristus, dimana Yesus adalah Kepala. Ini adalah suatu kesatuan luar biasa. Tidak ada manusia yang sanggup hidup sendiri. Alangkah indahnya jika kita mempunyai teman berbagi, saling mendoakan, saling mengingatkan dan saling menolong. Ketika kita sedang dalam kesusahan, saudara yang lain yang kebetulan sedang tidak mengalami kesusahan akan mengulurkan tangan, begitu pula sebaliknya. Hidup bersama dan saling menguatkan sebagai satu kesatuan sebagai tubuh Kristus. "Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota." (1 Korintus 12:20). Dan ingatlah bahwa Kristus sendiri akan hadir jika kita berkumpul dalam namaNya. "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."(Mat 18:20). Kita juga bisa memiliki wadah dimana iman kita bisa bertumbuh. "sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, -yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota-menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih." (Efesus 4:14-16). Belajar dari ibu di atas, mari kita sama-sama menyadari perlunya saling membangun dalam kasih, saling menguatkan, dengan Kristus bertahta sebagai kepala dari kita semua, sehingga kita bisa berkata seperti Daud pada ayat bacaan hari ini: "Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Saling membangun dalam kasih sebagai satu tubuh utuh yang tidak tercerai-berai
*diambil dari renungan harian on line edisi 24 Nov'08
"Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN."
Ada tiga orang teman saya dalam waktu yang berbeda bercerita bahwa mereka mulai kehilangan gairah untuk pergi ke Gereja. Alasannya pun berbeda-beda. Yang satu terlalu disibuki dengan pekerjaan, sehingga ia kerap merasa terlalu lelah untuk beribadah pada hari Minggu. Yang satu sudah terlalu lama hidup tanpa Gereja, sehingga ia kehilangan motivasi dan urgensi untuk pergi ke Gereja. Satu lagi teman saya merasa bahwa banyak jemaat di Gerejanya bersikap munafik, terutama teman-teman sekerja di kantornya yang juga kebetulan beribadah pada Gereja yang sama. Ia menganggap bahwa para jemaat yang notabene adalah rekan sekerja dan pimpinannya tidaklah mencerminkan sikap sebagai orang kudus dalam dunia kerja. "Buat apa ke Gereja kalau orang-orangnya seperti itu?" katanya. Salah satu dari teman saya itu kemarin saya ajak untuk sama-sama beribadah, dan awalnya ia bersemangat untuk pergi bareng. Apa yang terjadi di hari Minggu? Dia mengatakan bahwa dia tidak enak badan karena terlalu lelah bekerja dalam beberapa hari terakhir, dan membatalkannya.
Saya jadi ingat sebuah kisah tentang seorang ibu di salah satu kota kecil di Amerika. Si ibu ini masuk headline di harian lokal karena satu hal saja: ia tidak pernah absen ke Gereja selama 20 tahun. 20 tahun! Itu waktu yang tidak singkat. Fakta ini menimbulkan beberapa pertanyaan di benak saya:
Apakah ibu itu tidak pernah sakit atau tidak enak badan di hari Minggu?
Apakah dia tidak pernah punya masalah dengan jemaat lainnya, pengerja atau mungkin pendeta di Gerejanya?
Apakah selama 20 tahun tidak pernah terjadi hujan atau cuaca buruk di hari Minggu?
Apakah ia tidak pernah merasa terlalu lelah sehingga lebih tertarik untuk tidur?
Apakah ia tidak pernah melakukan liburan akhir pekan ke tempat lain?
Apakah ia tidak pernah ketiduran sehingga terlambat untuk berangkat?
Apakah tidak pernah ada sanak saudara atau tamu berkunjung ke rumahnya di hari Minggu sehingga ia harus melewatkan waktu bersama mereka?
Apakah tidak ada acara mendadak yang harus membatalkan jadwal ke Gereja?
Tidakkah ia pernah merasa bosan mendengar kotbah atau firman tentang hal yang itu lagi, itu lagi?Semua ini seringkali menjadi alasan untuk absen dari ibadah Gereja. "ah..satu kali kan nggak apa-apa.. sekali-kali saja kok.." Ya, mungkin awalnya hanya satu kali, tapi ketahuilah bahwa iblis itu terus mengaum-aum mencari mangsa (1 Petrus 5:8), dan akan memanfaatkan berbagai alasan untuk mencegah kita beribadah, mencari dan bertemu Tuhan, memuliakan Tuhan, mendengar firman dan menerima berkat. Iblis akan terus berusaha untuk mencegah anak-anak Tuhan bersekutu dalam nama Yesus dan saling mendoakan. Lambat laun, kemalasan akan menebal seperti karat dan orang yang demikian akan kehilangan damai sejahtera dan sukacita karena terus semakin jauh dari Tuhan. Memang beribadah itu bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, dan sudah seharusnya kita beribadah tanpa membatasi waktu. Hati, pikiran dan mulut kita senantiasa dipenuhi ucapan syukur dan memuji Tuhan. Sungguh baik sekali jika kita rajin meluangkan waktu untuk bersekutu dengan intim dengan Tuhan lewat saat-saat teduh kita. Tapi penting pula untuk diingat bahwa Gereja adalah tempat dimana anggota-anggota keluarga Allah berkumpul menjadi satu keluarga dengan Yesus sebagai kepala, sedangkan kita adalah bagian dari tubuhNya (the body of Christ). "Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu." (Efesus 1:22-23) Selanjutnya Paulus mengingatkan lagi: "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan." (2:19-21). Ya, kita adalah bagian tubuh Kristus, dimana Yesus adalah Kepala. Ini adalah suatu kesatuan luar biasa. Tidak ada manusia yang sanggup hidup sendiri. Alangkah indahnya jika kita mempunyai teman berbagi, saling mendoakan, saling mengingatkan dan saling menolong. Ketika kita sedang dalam kesusahan, saudara yang lain yang kebetulan sedang tidak mengalami kesusahan akan mengulurkan tangan, begitu pula sebaliknya. Hidup bersama dan saling menguatkan sebagai satu kesatuan sebagai tubuh Kristus. "Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota." (1 Korintus 12:20). Dan ingatlah bahwa Kristus sendiri akan hadir jika kita berkumpul dalam namaNya. "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."(Mat 18:20). Kita juga bisa memiliki wadah dimana iman kita bisa bertumbuh. "sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, -yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota-menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih." (Efesus 4:14-16). Belajar dari ibu di atas, mari kita sama-sama menyadari perlunya saling membangun dalam kasih, saling menguatkan, dengan Kristus bertahta sebagai kepala dari kita semua, sehingga kita bisa berkata seperti Daud pada ayat bacaan hari ini: "Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Saling membangun dalam kasih sebagai satu tubuh utuh yang tidak tercerai-berai
*diambil dari renungan harian on line edisi 24 Nov'08
Kehilangan Kasih Mula-Mula (1) : Prolog
Ayat bacaan: Wahyu 2:4
"Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula."
Saya sering merasa kagum sekaligus terharu ketika melihat pasangan lanjut usia masih berjalan bersama-sama bergandengan tangan. Romantisme menurut saya, tidaklah terbukti secara nyata ketika hal tersebut terlihat pada pasangan muda, namun akan berbicara banyak ketika terjadi pada pasangan usia senja. Betapa indahnya ketika melihat kakek dan nenek masih saling memandang dengan penuh cinta, pandangan mata yang seolah-olah berbicara banyak mengenai sepanjang jalan kenangan yang mereka lalui bersama. Suka dan duka, derai tawa dan butir air mata, betapa mereka begitu bahagia mereka diciptakan untuk menjadi satu. Dalam doa-doa saya, saya selalu mengucap syukur atas "belahan jiwa" yang begitu luar biasa yang diberikan Tuhan pada saya. Manusia tidaklah ada yang sempurna, tapi saya sungguh percaya bahwa apa yang diberikan Tuhan itu adalah yang terbaik buat saya. Saya pun berdoa, agar saya mampu membahagiakan istri saya hingga akhir, dan berdoa agar tatapan mata penuh cinta,romansa antara pasangan lanjut usia ini suatu saat bisa saya alami.
Tapi sayangnya hal seperti itu semakin hari semakin jarang kita saksikan. Tekanan hidup, godaan keinginan daging, rutinitas, kesibukan yang menyita waktu, kebosanan, adanya keluhan yang terpendam dan sebagainya membuat banyak orang malah bercerai dalam usia pernikahan singkat. Begitu banyak tayangan film yang menggambarkan perselingkuhan dan pertengkaran rumah tangga yang, saya tidak tahu, apakah mengajarkan, menganjurkan, atau malah berupa potret realita kehidupan jaman sekarang. Usia pernikahan saya sendiri memang baru seumur jagung, sehingga sulit bagi saya untuk bersaksi apa-apa. Namun satu hal yang pasti, saya menyadari betul bahwa pasangan hidup saya adalah seseorang yang berasal dari Tuhan, dan saya yakin Tuhan tidak menginginkan saya menyakiti dirinya. Sebagaimana saya mengasihi Tuhan, bersyukur luar biasa atas karuniaNya, saya pun harus menjaga apa yang telah Dia berikan dengan segenap hidup saya. Itu satu hal yang saya imani.
Kehilangan kasih mula-mula. Itulah yang ingin saya gambarkan. Kehilangan kasih mula-mula, apapun alasannya, jelas salah satu faktor utama yang membuat orang terjatuh pada dosa perselingkuhan dan perceraian. "Gue udah nggak ada rasa sama dia.." kata seorang teman yang akhirnya memutuskan untuk bercerai. Padahal saya yakin pada masa pacaran, "kau-lah bulan, kau-lah bintang" menjadi tema hidup utama bagi para pasangan. Kehilangan kasih mula-mula, hilang rasa, atau bahasa gaulnya, ilfil (hilang feeling), tidak saja terjadi pada pasangan hidup, tapi juga bisa menimpa hubungan vertikal antara kita dengan Tuhan, Pencipta kita. Kita lihat, Tuhan tidak pernah ilfil atau kehilangan kasih kepada kita. "..Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20). "..sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Ulangan 31:6b). Begitu banyak ayat yang menyatakan Tuhan akan menyertai kita, dan kita tahu Tuhan tidak akan pernah ingkar janji. Tapi sebagai manusia, ada beberapa hal yang bisa membuat kita kehilangan kasih mula-mula, kasih meluap-luap ketika kita baru saja menerima Kristus sebagai Juru Selamat. Dan Tuhan tidak pernah menginginkan itu terjadi.
Kalau kita lihat ayat bacaan hari ini, ada firman Tuhan yang ditujukan pada jemaat Efesus. Jemaat Efesus adalah jemaat luar biasa yang setia dan penuh semangat penginjilan, mereka diberkati banyak karunia, rela menderita dan tidak kenal lelah dalam melayani Tuhan. Namun Tuhan kemudian menegur mereka, karena mereka kehilangan kasih mula-mula. Pekerjaan pelayanan mereka kemudian menjadi prioritas utama, lebih dari kerinduan untuk mengenal pribadi Tuhan secara intim dengan lebih jauh. Tuhan mencela anak-anakNya yang meninggalkan kasih mula-mula.
Seperti pesan Tuhan pada jemaat Efesus, pesan yang sama pun ditujukan pada kita semua agar jangan sampai kehilangan kasih mula-mula. Bagi yang mulai merasa jauh dari Tuhan, mulai kehilangan motivasi, kehilangan semangat untuk bersekutu denganNya, Tuhan mengingatkan untuk bertobat. "Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat." (Wahyu 4:5). Renungan dalam beberapa hari ke depan akan diisi dengan berbagai hal yang bisa menyebabkan orang kehilangan kasih mula-mula. Saya percaya Tuhan rindu pada anak-anakNya yang mulai berkurang kasihnya, Dia rindu untuk menerima anda kembali, dan Dia akan menyambut anda dengan sukacita! Beberapa hal yang bisa menyebabkan orang kehilangan kasih mula-mula akan saya bagikan, agar kita bisa berhati-hati ketika kita tengah mengalami hal-hal tersebut dalam hidup dan tanpa sadar mulai kehilangan kasih ini.
Keep love to Him alive, get deeper and never leave Him, for the Lord is Good!
*sumber : renungan harian on line edisi 26 Nov'08
"Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula."
Saya sering merasa kagum sekaligus terharu ketika melihat pasangan lanjut usia masih berjalan bersama-sama bergandengan tangan. Romantisme menurut saya, tidaklah terbukti secara nyata ketika hal tersebut terlihat pada pasangan muda, namun akan berbicara banyak ketika terjadi pada pasangan usia senja. Betapa indahnya ketika melihat kakek dan nenek masih saling memandang dengan penuh cinta, pandangan mata yang seolah-olah berbicara banyak mengenai sepanjang jalan kenangan yang mereka lalui bersama. Suka dan duka, derai tawa dan butir air mata, betapa mereka begitu bahagia mereka diciptakan untuk menjadi satu. Dalam doa-doa saya, saya selalu mengucap syukur atas "belahan jiwa" yang begitu luar biasa yang diberikan Tuhan pada saya. Manusia tidaklah ada yang sempurna, tapi saya sungguh percaya bahwa apa yang diberikan Tuhan itu adalah yang terbaik buat saya. Saya pun berdoa, agar saya mampu membahagiakan istri saya hingga akhir, dan berdoa agar tatapan mata penuh cinta,romansa antara pasangan lanjut usia ini suatu saat bisa saya alami.
Tapi sayangnya hal seperti itu semakin hari semakin jarang kita saksikan. Tekanan hidup, godaan keinginan daging, rutinitas, kesibukan yang menyita waktu, kebosanan, adanya keluhan yang terpendam dan sebagainya membuat banyak orang malah bercerai dalam usia pernikahan singkat. Begitu banyak tayangan film yang menggambarkan perselingkuhan dan pertengkaran rumah tangga yang, saya tidak tahu, apakah mengajarkan, menganjurkan, atau malah berupa potret realita kehidupan jaman sekarang. Usia pernikahan saya sendiri memang baru seumur jagung, sehingga sulit bagi saya untuk bersaksi apa-apa. Namun satu hal yang pasti, saya menyadari betul bahwa pasangan hidup saya adalah seseorang yang berasal dari Tuhan, dan saya yakin Tuhan tidak menginginkan saya menyakiti dirinya. Sebagaimana saya mengasihi Tuhan, bersyukur luar biasa atas karuniaNya, saya pun harus menjaga apa yang telah Dia berikan dengan segenap hidup saya. Itu satu hal yang saya imani.
Kehilangan kasih mula-mula. Itulah yang ingin saya gambarkan. Kehilangan kasih mula-mula, apapun alasannya, jelas salah satu faktor utama yang membuat orang terjatuh pada dosa perselingkuhan dan perceraian. "Gue udah nggak ada rasa sama dia.." kata seorang teman yang akhirnya memutuskan untuk bercerai. Padahal saya yakin pada masa pacaran, "kau-lah bulan, kau-lah bintang" menjadi tema hidup utama bagi para pasangan. Kehilangan kasih mula-mula, hilang rasa, atau bahasa gaulnya, ilfil (hilang feeling), tidak saja terjadi pada pasangan hidup, tapi juga bisa menimpa hubungan vertikal antara kita dengan Tuhan, Pencipta kita. Kita lihat, Tuhan tidak pernah ilfil atau kehilangan kasih kepada kita. "..Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20). "..sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Ulangan 31:6b). Begitu banyak ayat yang menyatakan Tuhan akan menyertai kita, dan kita tahu Tuhan tidak akan pernah ingkar janji. Tapi sebagai manusia, ada beberapa hal yang bisa membuat kita kehilangan kasih mula-mula, kasih meluap-luap ketika kita baru saja menerima Kristus sebagai Juru Selamat. Dan Tuhan tidak pernah menginginkan itu terjadi.
Kalau kita lihat ayat bacaan hari ini, ada firman Tuhan yang ditujukan pada jemaat Efesus. Jemaat Efesus adalah jemaat luar biasa yang setia dan penuh semangat penginjilan, mereka diberkati banyak karunia, rela menderita dan tidak kenal lelah dalam melayani Tuhan. Namun Tuhan kemudian menegur mereka, karena mereka kehilangan kasih mula-mula. Pekerjaan pelayanan mereka kemudian menjadi prioritas utama, lebih dari kerinduan untuk mengenal pribadi Tuhan secara intim dengan lebih jauh. Tuhan mencela anak-anakNya yang meninggalkan kasih mula-mula.
Seperti pesan Tuhan pada jemaat Efesus, pesan yang sama pun ditujukan pada kita semua agar jangan sampai kehilangan kasih mula-mula. Bagi yang mulai merasa jauh dari Tuhan, mulai kehilangan motivasi, kehilangan semangat untuk bersekutu denganNya, Tuhan mengingatkan untuk bertobat. "Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat." (Wahyu 4:5). Renungan dalam beberapa hari ke depan akan diisi dengan berbagai hal yang bisa menyebabkan orang kehilangan kasih mula-mula. Saya percaya Tuhan rindu pada anak-anakNya yang mulai berkurang kasihnya, Dia rindu untuk menerima anda kembali, dan Dia akan menyambut anda dengan sukacita! Beberapa hal yang bisa menyebabkan orang kehilangan kasih mula-mula akan saya bagikan, agar kita bisa berhati-hati ketika kita tengah mengalami hal-hal tersebut dalam hidup dan tanpa sadar mulai kehilangan kasih ini.
Keep love to Him alive, get deeper and never leave Him, for the Lord is Good!
*sumber : renungan harian on line edisi 26 Nov'08
Friday, November 21, 2008
Renungan Harian : Teguran Allah (1) : Bileam dan Keledainya
Ayat bacaan: Bilangan 22:30
"Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: "Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?"
Memang tidak enak rasanya jika kita ditegur. Walaupun teguran itu biasanya terjadi akibat kesalahan kita sendiri, dan demi kebaikan kita juga, tetapi tetap saja teguran seringkali meninggalkan perasaan tidak nyaman. Apalagi kalau sudah menyangkut harga diri, wah runyam ceritanya. Itu masih teguran dari sesama manusia. Bagaimana jika yang menegur bukan manusia, tetapi keledai? Apa rasanya? Mari kita tanya pada Bileam. Bileam mengalami peristiwa yang bagi kita mungkin terasa sangat memalukan. Kebandelannya membuat Tuhan berbicara melalui keledai yang ditungganginya.
Pada saat itu Raja Balak mengirim beberapa utusannya menemui Bileam, dengan tujuan menyuruh Bileam mengutuk bangsa Israel. Ketika hal itu disampaikan pada Bileam, Bileam pun meminta waktu untuk bertanya pada Tuhan. Apa kata Tuhan? "Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati." (Bilangan 22:12). Ini adalah sebuah larangan, dan Bileam pun taat. Tapi kemudian penolakan Bileam disikapi Balak dengan kembali mengutus orang-orang yang lebih banyak dan lebih terhormat, ditambah upah yang jauh lebih besar. Dan Bileam pun awalnya kembali menolak, tapi lihat ini, Bileam kembali mempertanyakan hal yang sama pada Tuhan. Meskipun keputusan bertanya pada Tuhan merupakan sebuah bentuk ketaatan, namun ketaatannya tidak penuh. Jika ia taat penuh, seharusnya Bileam tidak perlu bertanya lagi karena sejak awal Tuhan telah menyatakan tidak. Tapi Bileam kembali bertanya dan berharap Tuhan berubah pendirian. Tuhan tahu isi hati Bileam dan kemudian terpaksa menguji kesetiaannya. Tuhan mengijinkan dia pergi dengan catatan hanya diijinkan untuk melakukan apa yang difirmankan Tuhan. Dan keberangkatan Bileam pun membuat Tuhan marah. Ketika manusia tidak lagi mendengar perintah Tuhan lewat perkataan halus, Tuhan pun memakai sarana lain. Dalam kasus Bileam, Tuhan memakai keledainya! Keledai Bileam melihat Malaikat dan hal tersebut mengganggu kelancaran perjalanan, sehingga Bileam pun kesal lalu memukuli keledainya. Dan selanjutnya keledai itu pun berbicara menegur Bileam, yang kemudian disusul dengan penampakan Malaikat. Semua itu, membuat Bileam sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah salah. Dan untunglah, Bileam segera menyesali kesalahannya dan berubah menjadi taat sepenuhnya. Betapa ironisnya, seekor keledai saja mampu melihat, tapi manusia tidak. Semua ini tidak harus terjadi apabila Bileam patuh sepenuhnya sejak awal dan tidak berulang-ulang mempertanyakan keputusan Tuhan.
Sikap Bileam ini sebenarnya menjadi cerminan sikap banyak orang percaya. Inilah pergumulan banyak anak Tuhan, termasuk saya sendiri, dan mungkin anda juga. Bileam bukan orang yang tidak percaya, dia sama seperti kita, percaya pada Tuhan, dan menunjukkan ketaatan, tapi sayangnya ketaatan itu masih sering tidak sepenuhnya utuh. Terkadang kita pun berusaha meyakinkan Tuhan, bahkan memaksa Tuhan untuk menyetujui apa yang kita anggap baik, padahal itu belum tentu yang terbaik menurut Tuhan. Doa-doa kita bukanlah dibangun dalam bentuk ketaatan dan penyerahan sepenuhnya, namun malah bertujuan untuk meminta Tuhan mengabulkan apa yang kita inginkan. Maka tidak heran jika ada saat dimana kita ditegur. Teguran Tuhan bisa datang lewat apa saja, baik secara lembut lewat hati nurani, lewat firman Tuhan yang disampaikan pada kita, lewat orang-orang yang berbicara pada kita, hingga teguran keras lewat berbagai kejadian jika kita masih juga bandel dan tuli.
Saya sendiri beberapa kali mendapat teguran dari Tuhan lewat berbagai hal. Saya tahu pasti, Tuhan bisa memakai sarana apapun untuk menegur. Saya pun tahu pasti, teguran itu bukanlah bertujuan untuk menyakiti atau mempermalukan kita, tapi bertujuan demi kebaikan kita juga. Tidakkah lebih baik ditegur saat ini daripada dibiarkan untuk masuk ke dalam siksaan kekal? Ayub pernah berkata, "Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa." (Ayub 5:17). Berbagai teguran itu jika kita sikapi dengan baik akan membuat kita terus bertambah baik pula. Itu pasti. Bentuk teguran adalah untuk mendidik kita, karena Tuhan begitu mengasihi kita dan tidak ingin kita menderita kelak. Dan karena itulah, kita pantas berbahagia ketika ditegur Tuhan. Pertanyaannya, apakah kita cukup ditegur dengan halus, atau harus lewat teguran "memalukan" seperti Bileam, atau bahkan harus melalui penderitaan dan rasa sakit? Semua tergantung sejauh mana kita mau mendengarkan dan menuruti teguran Tuhan, sejauh mana kita mau berubah dari jalan yang salah dan kembali pada "rel" yang sesuai keinginan Tuhan. Bagi saya sendiri, adalah jauh lebih baik untuk terus ditegur demi kebaikan, daripada dibiarkan tersesat dan berakhir pada penyesalan. Saya bersyukur untuk teguran demi teguran, juga untuk kesempatan yang masih diberikan pada saya untuk bertobat dan berubah menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Oleh sebab itu, janganlah keraskan hati ketika kita ditegur. "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" (Ibrani 4:7b).
Dengarkan dan patuhi segera teguran Tuhan sesegera mungkin
*sumber : Renungan Harian Online
"Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: "Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?"
Memang tidak enak rasanya jika kita ditegur. Walaupun teguran itu biasanya terjadi akibat kesalahan kita sendiri, dan demi kebaikan kita juga, tetapi tetap saja teguran seringkali meninggalkan perasaan tidak nyaman. Apalagi kalau sudah menyangkut harga diri, wah runyam ceritanya. Itu masih teguran dari sesama manusia. Bagaimana jika yang menegur bukan manusia, tetapi keledai? Apa rasanya? Mari kita tanya pada Bileam. Bileam mengalami peristiwa yang bagi kita mungkin terasa sangat memalukan. Kebandelannya membuat Tuhan berbicara melalui keledai yang ditungganginya.
Pada saat itu Raja Balak mengirim beberapa utusannya menemui Bileam, dengan tujuan menyuruh Bileam mengutuk bangsa Israel. Ketika hal itu disampaikan pada Bileam, Bileam pun meminta waktu untuk bertanya pada Tuhan. Apa kata Tuhan? "Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati." (Bilangan 22:12). Ini adalah sebuah larangan, dan Bileam pun taat. Tapi kemudian penolakan Bileam disikapi Balak dengan kembali mengutus orang-orang yang lebih banyak dan lebih terhormat, ditambah upah yang jauh lebih besar. Dan Bileam pun awalnya kembali menolak, tapi lihat ini, Bileam kembali mempertanyakan hal yang sama pada Tuhan. Meskipun keputusan bertanya pada Tuhan merupakan sebuah bentuk ketaatan, namun ketaatannya tidak penuh. Jika ia taat penuh, seharusnya Bileam tidak perlu bertanya lagi karena sejak awal Tuhan telah menyatakan tidak. Tapi Bileam kembali bertanya dan berharap Tuhan berubah pendirian. Tuhan tahu isi hati Bileam dan kemudian terpaksa menguji kesetiaannya. Tuhan mengijinkan dia pergi dengan catatan hanya diijinkan untuk melakukan apa yang difirmankan Tuhan. Dan keberangkatan Bileam pun membuat Tuhan marah. Ketika manusia tidak lagi mendengar perintah Tuhan lewat perkataan halus, Tuhan pun memakai sarana lain. Dalam kasus Bileam, Tuhan memakai keledainya! Keledai Bileam melihat Malaikat dan hal tersebut mengganggu kelancaran perjalanan, sehingga Bileam pun kesal lalu memukuli keledainya. Dan selanjutnya keledai itu pun berbicara menegur Bileam, yang kemudian disusul dengan penampakan Malaikat. Semua itu, membuat Bileam sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah salah. Dan untunglah, Bileam segera menyesali kesalahannya dan berubah menjadi taat sepenuhnya. Betapa ironisnya, seekor keledai saja mampu melihat, tapi manusia tidak. Semua ini tidak harus terjadi apabila Bileam patuh sepenuhnya sejak awal dan tidak berulang-ulang mempertanyakan keputusan Tuhan.
Sikap Bileam ini sebenarnya menjadi cerminan sikap banyak orang percaya. Inilah pergumulan banyak anak Tuhan, termasuk saya sendiri, dan mungkin anda juga. Bileam bukan orang yang tidak percaya, dia sama seperti kita, percaya pada Tuhan, dan menunjukkan ketaatan, tapi sayangnya ketaatan itu masih sering tidak sepenuhnya utuh. Terkadang kita pun berusaha meyakinkan Tuhan, bahkan memaksa Tuhan untuk menyetujui apa yang kita anggap baik, padahal itu belum tentu yang terbaik menurut Tuhan. Doa-doa kita bukanlah dibangun dalam bentuk ketaatan dan penyerahan sepenuhnya, namun malah bertujuan untuk meminta Tuhan mengabulkan apa yang kita inginkan. Maka tidak heran jika ada saat dimana kita ditegur. Teguran Tuhan bisa datang lewat apa saja, baik secara lembut lewat hati nurani, lewat firman Tuhan yang disampaikan pada kita, lewat orang-orang yang berbicara pada kita, hingga teguran keras lewat berbagai kejadian jika kita masih juga bandel dan tuli.
Saya sendiri beberapa kali mendapat teguran dari Tuhan lewat berbagai hal. Saya tahu pasti, Tuhan bisa memakai sarana apapun untuk menegur. Saya pun tahu pasti, teguran itu bukanlah bertujuan untuk menyakiti atau mempermalukan kita, tapi bertujuan demi kebaikan kita juga. Tidakkah lebih baik ditegur saat ini daripada dibiarkan untuk masuk ke dalam siksaan kekal? Ayub pernah berkata, "Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa." (Ayub 5:17). Berbagai teguran itu jika kita sikapi dengan baik akan membuat kita terus bertambah baik pula. Itu pasti. Bentuk teguran adalah untuk mendidik kita, karena Tuhan begitu mengasihi kita dan tidak ingin kita menderita kelak. Dan karena itulah, kita pantas berbahagia ketika ditegur Tuhan. Pertanyaannya, apakah kita cukup ditegur dengan halus, atau harus lewat teguran "memalukan" seperti Bileam, atau bahkan harus melalui penderitaan dan rasa sakit? Semua tergantung sejauh mana kita mau mendengarkan dan menuruti teguran Tuhan, sejauh mana kita mau berubah dari jalan yang salah dan kembali pada "rel" yang sesuai keinginan Tuhan. Bagi saya sendiri, adalah jauh lebih baik untuk terus ditegur demi kebaikan, daripada dibiarkan tersesat dan berakhir pada penyesalan. Saya bersyukur untuk teguran demi teguran, juga untuk kesempatan yang masih diberikan pada saya untuk bertobat dan berubah menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Oleh sebab itu, janganlah keraskan hati ketika kita ditegur. "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" (Ibrani 4:7b).
Dengarkan dan patuhi segera teguran Tuhan sesegera mungkin
*sumber : Renungan Harian Online
Renungan Harian : Iri Hati (2) : Mencabut Kabel Iman
Ayat bacaan: 1 Yohanes 3:11-12
"Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi; bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar."
Apa yang terjadi jika seseorang mencabut kabel dari stop kontak ketika anda sedang menonton televisi? Televisinya akan mati bukan? Sama halnya seperti peralatan elektronik lainnya, jika kabel dicabut, aliran listrik yang mengalir akan terputus dan akibatnya peralatan elektronik yang menggunakan listrik sebagai sumber dayanya tidak akan dapat berfungsi. Lewat ilustrasi singkat ini saya ingin menyambung renungan kemarin.
Kemarin kita telah melihat bahwa dimana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat (Yakobus 3:16). Iri hati bukanlah bagian dari sifat rohani orang percaya. Itu adalah sebuah perasaan yang iblis coba tekankan pada diri kita, bagaikan umpan yang digantung di depan mata, menunggu kita menggigitnya. Mengijinkan iri hati masuk pada diri kita adalah seperti membuka pintu bagi segala kekacauan dan kejahatan untuk masuk. Kasih termasuk salah satu buah Roh (Galatia 5:22), sedangkan iri hati adalah bagian keinginan daging (ay 19-21). Kemudian lihatlah ayat ini: "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki" (ay 17). Artinya, ketika hal ini terjadi, aliran kasih dalam diri kitapun akan terganggu. Saya mengilustrasikannya sebagai kabel yang tercabut dari stop kontak. Selanjutnya apa yang terjadi? Begitu kasih terganggu, iman kita pun bisa berhenti bekerja, karena "iman bekerja oleh kasih" (ay 6).
Kasih adalah prinsip dasar kekristenan. Ketika kita dikuasai rasa iri hati, selalu merasa diri lebih baik dan lebih benar dari orang lain, kita tidak menyadari bahwa "kabel iman" kita telah tercabut, dan akibatnya kita tidak dapat berjalan bersama berkat-berkat dari Tuhan. Karena itu tidaklah heran jika Yohanes dengan tegas mengingatkan kita agar terus saling mengasihi seperti yang bisa kita baca pada ayat bacaan hari ini. Kemudian Yohanes melanjutkan: "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut" (ay 14), dan "Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia" (ay 15). Maka dengan tegas kita harus menolak kehadiran iri hati untuk masuk ke dalam kehidupan kita sedini mungkin. Kita harus berhenti membiarkan iblis mencabut kabel iman kita. Sudah waktunya kita untuk memulai hidup di dalam terang. Waktu kedatangan Kristus untuk kedua kalinya sudah dekat. Dan ketika Dia datang, tentu kita tidak ingin Dia menemukan kita dalam keadaan rohani yang sakit dan lemah, menjalani hidup dalam kondisi diracuni iri hati dan segala bentuk keinginan daging lainnya. Saya terus berdoa, semoga ketika Dia datang, Dia akan menemukan kita semua berdiri gagah di dalam Roh, penuh kasih, iman dan pengharapan. Saya ingin kita Dia dapati hidup di dalam kemenangan yang telah Dia bayar lunas di atas kayu salib. Pastikan kabel iman kita senantiasa terpasang dengan baik.
Iri hati mengganggu aliran kasih dan mencabut kabel iman. Katakan tidak pada iri hati!
*sumber : renungan harian online
"Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi; bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar."
Apa yang terjadi jika seseorang mencabut kabel dari stop kontak ketika anda sedang menonton televisi? Televisinya akan mati bukan? Sama halnya seperti peralatan elektronik lainnya, jika kabel dicabut, aliran listrik yang mengalir akan terputus dan akibatnya peralatan elektronik yang menggunakan listrik sebagai sumber dayanya tidak akan dapat berfungsi. Lewat ilustrasi singkat ini saya ingin menyambung renungan kemarin.
Kemarin kita telah melihat bahwa dimana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat (Yakobus 3:16). Iri hati bukanlah bagian dari sifat rohani orang percaya. Itu adalah sebuah perasaan yang iblis coba tekankan pada diri kita, bagaikan umpan yang digantung di depan mata, menunggu kita menggigitnya. Mengijinkan iri hati masuk pada diri kita adalah seperti membuka pintu bagi segala kekacauan dan kejahatan untuk masuk. Kasih termasuk salah satu buah Roh (Galatia 5:22), sedangkan iri hati adalah bagian keinginan daging (ay 19-21). Kemudian lihatlah ayat ini: "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki" (ay 17). Artinya, ketika hal ini terjadi, aliran kasih dalam diri kitapun akan terganggu. Saya mengilustrasikannya sebagai kabel yang tercabut dari stop kontak. Selanjutnya apa yang terjadi? Begitu kasih terganggu, iman kita pun bisa berhenti bekerja, karena "iman bekerja oleh kasih" (ay 6).
Kasih adalah prinsip dasar kekristenan. Ketika kita dikuasai rasa iri hati, selalu merasa diri lebih baik dan lebih benar dari orang lain, kita tidak menyadari bahwa "kabel iman" kita telah tercabut, dan akibatnya kita tidak dapat berjalan bersama berkat-berkat dari Tuhan. Karena itu tidaklah heran jika Yohanes dengan tegas mengingatkan kita agar terus saling mengasihi seperti yang bisa kita baca pada ayat bacaan hari ini. Kemudian Yohanes melanjutkan: "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut" (ay 14), dan "Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia" (ay 15). Maka dengan tegas kita harus menolak kehadiran iri hati untuk masuk ke dalam kehidupan kita sedini mungkin. Kita harus berhenti membiarkan iblis mencabut kabel iman kita. Sudah waktunya kita untuk memulai hidup di dalam terang. Waktu kedatangan Kristus untuk kedua kalinya sudah dekat. Dan ketika Dia datang, tentu kita tidak ingin Dia menemukan kita dalam keadaan rohani yang sakit dan lemah, menjalani hidup dalam kondisi diracuni iri hati dan segala bentuk keinginan daging lainnya. Saya terus berdoa, semoga ketika Dia datang, Dia akan menemukan kita semua berdiri gagah di dalam Roh, penuh kasih, iman dan pengharapan. Saya ingin kita Dia dapati hidup di dalam kemenangan yang telah Dia bayar lunas di atas kayu salib. Pastikan kabel iman kita senantiasa terpasang dengan baik.
Iri hati mengganggu aliran kasih dan mencabut kabel iman. Katakan tidak pada iri hati!
*sumber : renungan harian online
Thursday, November 20, 2008
Sejarah Fellowhsip Of Bikers
Akhirnya setelah sekian lama tertunda, gw mencoba untuk menjabarkan apa sich Fellowship Of Bikers itu dan apa aja yang sedang kita rencanakan dalam waktu dekat, berdasarkan hasil kumpul – kumpul bareng beberapa orang yang kurang lebih sudah berjalan selama 3 kali hari Rabu di Cafe PaMor dan Patung Panahan Senayan. Jika ada kesalahan dan ada kata – kata yang kurang berkenan mohon dimaafkan karena pada dasarnya gw gak pernah pintar dalam menyusun kata – kata apalagi dalam bentuk tulisan.
Fellowship Of Bikers
Latar Belakang Sejarah
Pada dasarnya Fellowship Of Bikers atau yang sekarang lebih banyak disingkat dengan sebutan FoB tercetus dari omongan – omongan beberapa rekan bahwa pada dasarnya mereka sangat rindu untuk dapat memuji dan menyembah Tuhan dengan tetap mempertahankan ciri khas bikers didalamnya. Akhirnya pada suatu kesempatan yang sangat tidak terduga tercetuslah nama “Fellowship of Bikers” terdengarnya mungkin konyol dan terkesan meniru niru film The Lord of The Rings, tapi yach ... pada saat itu yang terlintas di pikiran teman – teman yang berkumpul adalah bagaimana agar kita dapat menyebarkan kasih, memperluas Kerajaan Tuhan dan menjadi saksi hidup bagiNya dengan tetap mempertahankan ciri khas Bikers yang diantaranya terkenal dengan semangat Brotherhood nya. Pada saat itu yang terpikirkan adalah kata – kata yang cukup “kuat” untuk mewakili persaudaraan dalam Kasih Kristus dan semangat Brotherhood para bikers adalah “Fellowhsip”
Setelah nama itu tercetuskan ... kemudian dibuatlah alamat mailing list di google yaitu fellowship-of-bikers@googlegroups.com . Mailing list ini dibuat dengan tujuan sebagai wadah komunikasi bagi kita semua untuk memudahkan dalam berkoordinasi untuk rencana – rencana yang mudah – mudahan bisa kita realisasikan di masa depan.
Visi dan Misi
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Visi dan Misi FoB adalah sebagai wadah komunikasi yang menjembatani anggota klub, komunitas dan independent bikers dalam usaha untuk menyebarkan kasih, memperluas Kerajaan Tuhan dan menjadi saksi hidup bagiNya dengan tetap mempertahankan ciri khas bikers di dalamnya. Teman – teman, pada saat berkumpul tersebut juga ada kata sepakat bahwa FoB bukan klub/komunitas baru ataupun berusaha untuk menjadi “tandingan”.
Susunan Kepengurusan
Karena bukan klub/komunitas baru, maka di FoB tidak akan pernah ada Dewan Pendiri (Founder), Ketua Umum,Susunan Kepengurusan dan juga nomor anggota sebagaimana layaknya suatu klub/komunitas. Di FoB hanya ada seorang yang Sekretaris dan Bendahara (bisa saja dipegang oleh satu orang) untuk mengarsipkan dokumen – dokumen, surat menyurat dan juga mengelola dana yang ada serta melaporkannya secara terbuka kepada semua rekan-rekan yang tergabung dengan FoB melalui sarana mailing list.
Waktu kumpul
Setiap hari Rabu, pukul 19.00 WIB s/d selesai di Patung Panahan Senayan (jika hari cerah) atau di Pasar Motor Kebayoran (jika hujan)
Demikianlah sekilas tentang FoB, mudah – mudahan bisa memuaskan rasa ingin tahu Bro and Sis semua tentang FoB. Kritik dan saran sangat diharapkan bagi kemajuan kita bersama.
Fellowship Of Bikers
Latar Belakang Sejarah
Pada dasarnya Fellowship Of Bikers atau yang sekarang lebih banyak disingkat dengan sebutan FoB tercetus dari omongan – omongan beberapa rekan bahwa pada dasarnya mereka sangat rindu untuk dapat memuji dan menyembah Tuhan dengan tetap mempertahankan ciri khas bikers didalamnya. Akhirnya pada suatu kesempatan yang sangat tidak terduga tercetuslah nama “Fellowship of Bikers” terdengarnya mungkin konyol dan terkesan meniru niru film The Lord of The Rings, tapi yach ... pada saat itu yang terlintas di pikiran teman – teman yang berkumpul adalah bagaimana agar kita dapat menyebarkan kasih, memperluas Kerajaan Tuhan dan menjadi saksi hidup bagiNya dengan tetap mempertahankan ciri khas Bikers yang diantaranya terkenal dengan semangat Brotherhood nya. Pada saat itu yang terpikirkan adalah kata – kata yang cukup “kuat” untuk mewakili persaudaraan dalam Kasih Kristus dan semangat Brotherhood para bikers adalah “Fellowhsip”
Setelah nama itu tercetuskan ... kemudian dibuatlah alamat mailing list di google yaitu fellowship-of-bikers@googlegroups.com . Mailing list ini dibuat dengan tujuan sebagai wadah komunikasi bagi kita semua untuk memudahkan dalam berkoordinasi untuk rencana – rencana yang mudah – mudahan bisa kita realisasikan di masa depan.
Visi dan Misi
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Visi dan Misi FoB adalah sebagai wadah komunikasi yang menjembatani anggota klub, komunitas dan independent bikers dalam usaha untuk menyebarkan kasih, memperluas Kerajaan Tuhan dan menjadi saksi hidup bagiNya dengan tetap mempertahankan ciri khas bikers di dalamnya. Teman – teman, pada saat berkumpul tersebut juga ada kata sepakat bahwa FoB bukan klub/komunitas baru ataupun berusaha untuk menjadi “tandingan”.
Susunan Kepengurusan
Karena bukan klub/komunitas baru, maka di FoB tidak akan pernah ada Dewan Pendiri (Founder), Ketua Umum,Susunan Kepengurusan dan juga nomor anggota sebagaimana layaknya suatu klub/komunitas. Di FoB hanya ada seorang yang Sekretaris dan Bendahara (bisa saja dipegang oleh satu orang) untuk mengarsipkan dokumen – dokumen, surat menyurat dan juga mengelola dana yang ada serta melaporkannya secara terbuka kepada semua rekan-rekan yang tergabung dengan FoB melalui sarana mailing list.
Waktu kumpul
Setiap hari Rabu, pukul 19.00 WIB s/d selesai di Patung Panahan Senayan (jika hari cerah) atau di Pasar Motor Kebayoran (jika hujan)
Demikianlah sekilas tentang FoB, mudah – mudahan bisa memuaskan rasa ingin tahu Bro and Sis semua tentang FoB. Kritik dan saran sangat diharapkan bagi kemajuan kita bersama.
Subscribe to:
Posts (Atom)