Ayat bacaan: Matius 11:28
"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."
Hari ini sehabis mengajar, saya melihat satu murid saya laki-laki melewati saya sambil menangis tersedu-sedu. Saya pun terkejut dan bertanya mengapa. Ternyata ia merasa tidak sanggup mengikuti pelajaran dan merasa tertinggal dibanding teman-temannya. Situasinya memang berat, karena sebelumnya dia belum pernah sekalipun menyentuh komputer. Dan ketika dihadapkan pada pelajaran-pelajaran untuk mendesain web dan grafis, dia pun merasa shock. Ketika bebannya terasa semakin berat, ia mulai patah semangat dan tidak lagi sanggup menahannya sehingga menangis. Saya kemudian berbicara padanya, menguatkannya dan memberi semangat, dan berjanji akan memberikan waktu ekstra kepadanya agar ia bisa mengejar ketertinggalannya. Setelah setengah jam, akhirnya dia tersenyum lagi.
Beban permasalahan hidup memang terkadang begitu berat untuk kita pikul. Jika untuk masalah kuliah saja orang bisa mengalami "breakdown" seperti murid saya tadi, saya membayangkan bagaimana jika beban itu ada dalam banyak segi kehidupan secara luas. Jangankan sekolah, untuk makan saja setiap hari mungkin sulitnya bukan main. Tidak heran jika banyak orang merasa tidak lagi punya solusi untuk hidupnya sehingga mengambil jalan pintas dengan cara bunuh diri. Di tempat saya tinggal, banyak orang menganggap saya kaya raya, meskipun saya sebenarnya jauh dari status kaya. Mengapa demikian? Karena saya selalu tampak seperti tidak punya beban, selalu senyum dan kehidupan rumah tangga saya pun terlihat "happy-happy" saja. Apa benar saya tidak punya permasalahan? Tentu saja seperti orang lain, saya pun punya masalah-masalah yang harus dihadapi. Jika saya tetap bisa tersenyum, tetap bersukacita dan tampil santai tanpa beban, itu semata-mata karena saya sungguh percaya ada Kristus yang bertahta di atas hidup saya dan keluarga saya, dan di dalam Kristus akan selalu ada pengharapan. Pengharapan bahwa segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya, karena semua itu saya anggap sebagai proses yang tidak akan saya lalui sendirian, melainkan ada Yesus, Raja di atas segala Raja yang jauh lebih besar dari permasalahan seberat apapun. Dia akan selalu memberi kelegaan, dan di dalamnya ada keselamatan. Dari mana saya bisa yakin? Perjalanan hidup saya bersama Yesus menjadi sebuah rangkaian kesaksian nyata, dan saya terus melihat firman-firman Tuhan selalu digenapi. Haleluya, puji Tuhan.
Saya terlahir sebagai orang yang selalu khawatir. Tapi setelah saya menerima Kristus, maka hidup saya diubahkan total. Ini tepat seperti apa yang dikatakan Paulus."Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Tuhan Yesus tahu benar bagaimana kehidupan di dunia ini tidak pernah lepas dari beban masalah dan kesengsaraan. Maka lihatlah apa kata Yesus. Dia mengajak semua orang yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepadaNya, dan Dia akan memberi kelegaan. (Matius 11:28). Jika anda mau belajar untuk percaya sungguh-sungguh dan meletakkan hidup padaNya, semua itu akan anda rasakan secara nyata, seperti apa yang saya alami dan saksikan berulang kali dalam hidup saya. Ketika masalah mulai datang, kita akan mulai diserang "virus" kekhawatiran, merasa ketakutan dan sebagainya. Tapi Yesus kembali mengingatkan kita dengan panjang lebar dalam Injil Matius 6:25-34. "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?" (Matius 25:34). Jika burung-burung di langit pun diberi makan oleh Bapa, atau rumput yang umurnya pendek pun didandani langsung oleh Allah, tidakkah kita jauh lebih berharga dari itu semua? (ay 26,30) Dan Yesus pun kemudian mengingatkan agar kita tidak perlu khawatir tentang makan, minum dan pakaian. (ay 31). "Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu." (ay 32). Yang penting bagi kita adalah terlebih dulu mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua itu akan disediakan bagi kita. (ay 33). Ini janji Allah yang pasti. Dalam Yesus, kita akan mendapat kelegaan, kedamaian, sukacita, keselamatan, dan tentu saja akan selalu ada pengharapan.
Saya rindu melihat lebih banyak lagi senyum penuh sukacita hadir di sekitar kita, dimana kekhawatiran akan lenyap digantikan kelegaan dan pengharapan dalam Yesus. Apakah saat ini anda salah satunya yang tengah ditimpa berbagai masalah dan mulai kehilangan harapan? Datanglah pada Yesus yang akan melepaskan anda dari beban berat. Sebagai anak-anak Tuhan pun kita harus selalu menjaga iman kita agar tetap teguh. Alangkah ironisnya jika kita yang sudah menerima Yesus tapi masih terus dicekam kekhawatiran dan ketakutan. Karena itu, mari kita percaya dengan sepenuh hati janji Tuhan di atas, agar hidup kita bisa menjadi bukti nyata bahwa hidup bersama Yesus itu memang beda.
Ketika hidup semakin sulit, datanglah pada Yesus yang akan memberi kelegaan
Sumber : Renungan Harian Online, 12 Desember 2008
Sunday, December 14, 2008
Sunday, December 7, 2008
Belajar Dari Ibu Penjual Jamu
Ayat bacaan: Matius 28:19-20a
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu."
Kemarin saya sudah bercerita tentang mobil saya yang tiba-tiba mogok. Pagi hari tadi saya pergi ke bengkel, dan menunggu disana selama berjam-jam. Siang harinya istri saya datang menemani. Ketika sedang duduk, datanglah seorang ibu penjual jamu menghampiri istri saya, menawarkan jamu terbaru. Istri saya menolak, tapi si ibu itu tidak patah semangat! Ia terus ngobrol menggambarkan khasiat jamu dagangannya, dan ketika saya mendekati mereka, saya pun ditawari berbagai macam produknya. Ibu penjual jamu itu sangat ramah, keramahannya tidak seperti dibuat-buat, dengan senyum lebarnya ia terus menerangkan berbagai jamunya satu persatu. Bagaimana selanjutnya? Saya pun membeli segelas telur ayam kampung dicampur madu, yang menurut si ibu menghilangkan pegal-pegal dan baik untuk kelelahan. Mungkin dia tahu saya sudah dari pagi "terdampar" di bengkel. Apakah ibu itu bohong? Tidak. Segelas campuran telur dan madu itu membuat saya menjadi segar hingga malam, dan punya tenaga untuk mengangkat ember demi ember untuk mengisi bak mandi saya, karena kami belum juga mendapatkan pasokan air hingga saat ini. Saya akan melewatkan kesempatan untuk sesuatu yang menyehatkan jika ibu tadi tidak menawarkan (bukan memaksakan) dengan ramah dan penuh senyum canda.
Dan saya bersyukur bahwa Tuhan menuntun saya ke sebuah bengkel hingga bertemu si ibu tadi. Dari dia, saya pun diingatkan dan belajar akan satu hal. Ini sebuah analogi dari bagaimana kita sebagai murid Yesus harus bersikap menghadapi dunia. Ayat bacaan hari ini menulis bahwa Yesus meminta kita para muridNya untuk pergi dan menjadikan semua bangsa muridNya. Mengapa demikian? Karena kepada Yesus telah diberikan segala kuasa, baik di bumi maupun di surga. (Matius 28:18).Tidak ada orang yang bisa datang pada Tuhan tanpa melalui Yesus (Yohanes 14:6). Yesus adalah pintu, dimana siapapun yang masuk melalui Dia, maka orang itu akan selamat dan mempunyai hidup lengkap dengan segala kelimpahan. (Yohanes 10:9-10). Tuhan Yesus selalu merindukan domba-dombaNya yang hilang dan menginginkan mereka semua kembali padaNya, dan karenanya akan diselamatkan dari kematian yang kekal. "Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Matius 9:13). Kita sebagai murid-muridNya diutus untuk mewartakan kabar gembira, menyelamatkan banyak jiwa untuk mendapatkan keselamatan dalam kehidupan kekal yang penuh damai sejahtera.
Bagaimana seharusnya sikap kita untuk menjadi murid Yesus yang benar? Kita diminta untuk memiliki sikap-sikap baik kepada orang lain sebagai berikut: "Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian." (Kolose 3:12-13). Semua kualitas baik di atas haruslah didasarkan oleh kasih. "Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan." (ay 14). Kasih menjadi dasar kekristenan yang seharusnya kita miliki jika terang Kristus ada dalam diri kita. Kita harus mengasihi siapapun di dunia ini tanpa pandang bulu. Kita diminta untuk saling melayani lewat kasih, dan tidak menyalahgunakan kemerdekaan yang berasal dari Tuhan malah untuk berbuat dosa. "Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih." (Galatia 5:13). Kita harus selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang (Titus 3:2), dan dengan demikian orang akan mengenal Yesus. Lewat siapa lagi terang Kristus akan memancar dan memantul kepada orang lain jika tidak melalui kita?
Jagalah agar jangan sampai kita menjadi batu sandungan. Jangan diskriminatif, memasang pagar tinggi terhadap saudara-saudari kita yang lain, terutama yang belum mengenal Kristus. Jangan pasang double, triple atau multiply standard, tetapi perlakukanlah semua orang dengan baik berdasarkan kasih, seperti halnya Kristus mengasihi kita. Ibu penjual jamu gendong diatas menawarkan dagangannya dengan kelemahlembutan, kesabaran dan keramahan, dan saya mendapat manfaatnya untuk menjaga stamina saya yang terkuras habis beberapa hari belakangan ini. Kita pun bisa belajar dari ibu penjual jamu untuk bersikap sama terhadap orang yang belum mengenal Tuhan. Sebagai murid-murid Yesus, kita seharusnya memiliki kerinduan yang sama dengan Yesus agar lebih banyak lagi jiwa terhilang bisa diselamatkan. Bukan lewat kekerasan, lewat caci maki, penghinaan atau pemaksaan, karena semua itu tidaklah ada gunanya dan tidak ada untungnya baik bagi kita maupun bagi saudara-saudara kita. Tidak ada jalan lain untuk memperkenalkan pribadi Yesus yang sesungguhnya dan segala berkat, hidup yang kekal dan pintu keselamatan menuju Bapa tanpa segala sesuatu sikap baik yang berdasar pada kasih.
Kenalkan Kristus dengan bersikap ramah dan penuh kasih pada sesama
Sumber : Renungan Harian Online, 06/12/2008
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu."
Kemarin saya sudah bercerita tentang mobil saya yang tiba-tiba mogok. Pagi hari tadi saya pergi ke bengkel, dan menunggu disana selama berjam-jam. Siang harinya istri saya datang menemani. Ketika sedang duduk, datanglah seorang ibu penjual jamu menghampiri istri saya, menawarkan jamu terbaru. Istri saya menolak, tapi si ibu itu tidak patah semangat! Ia terus ngobrol menggambarkan khasiat jamu dagangannya, dan ketika saya mendekati mereka, saya pun ditawari berbagai macam produknya. Ibu penjual jamu itu sangat ramah, keramahannya tidak seperti dibuat-buat, dengan senyum lebarnya ia terus menerangkan berbagai jamunya satu persatu. Bagaimana selanjutnya? Saya pun membeli segelas telur ayam kampung dicampur madu, yang menurut si ibu menghilangkan pegal-pegal dan baik untuk kelelahan. Mungkin dia tahu saya sudah dari pagi "terdampar" di bengkel. Apakah ibu itu bohong? Tidak. Segelas campuran telur dan madu itu membuat saya menjadi segar hingga malam, dan punya tenaga untuk mengangkat ember demi ember untuk mengisi bak mandi saya, karena kami belum juga mendapatkan pasokan air hingga saat ini. Saya akan melewatkan kesempatan untuk sesuatu yang menyehatkan jika ibu tadi tidak menawarkan (bukan memaksakan) dengan ramah dan penuh senyum canda.
Dan saya bersyukur bahwa Tuhan menuntun saya ke sebuah bengkel hingga bertemu si ibu tadi. Dari dia, saya pun diingatkan dan belajar akan satu hal. Ini sebuah analogi dari bagaimana kita sebagai murid Yesus harus bersikap menghadapi dunia. Ayat bacaan hari ini menulis bahwa Yesus meminta kita para muridNya untuk pergi dan menjadikan semua bangsa muridNya. Mengapa demikian? Karena kepada Yesus telah diberikan segala kuasa, baik di bumi maupun di surga. (Matius 28:18).Tidak ada orang yang bisa datang pada Tuhan tanpa melalui Yesus (Yohanes 14:6). Yesus adalah pintu, dimana siapapun yang masuk melalui Dia, maka orang itu akan selamat dan mempunyai hidup lengkap dengan segala kelimpahan. (Yohanes 10:9-10). Tuhan Yesus selalu merindukan domba-dombaNya yang hilang dan menginginkan mereka semua kembali padaNya, dan karenanya akan diselamatkan dari kematian yang kekal. "Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Matius 9:13). Kita sebagai murid-muridNya diutus untuk mewartakan kabar gembira, menyelamatkan banyak jiwa untuk mendapatkan keselamatan dalam kehidupan kekal yang penuh damai sejahtera.
Bagaimana seharusnya sikap kita untuk menjadi murid Yesus yang benar? Kita diminta untuk memiliki sikap-sikap baik kepada orang lain sebagai berikut: "Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian." (Kolose 3:12-13). Semua kualitas baik di atas haruslah didasarkan oleh kasih. "Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan." (ay 14). Kasih menjadi dasar kekristenan yang seharusnya kita miliki jika terang Kristus ada dalam diri kita. Kita harus mengasihi siapapun di dunia ini tanpa pandang bulu. Kita diminta untuk saling melayani lewat kasih, dan tidak menyalahgunakan kemerdekaan yang berasal dari Tuhan malah untuk berbuat dosa. "Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih." (Galatia 5:13). Kita harus selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang (Titus 3:2), dan dengan demikian orang akan mengenal Yesus. Lewat siapa lagi terang Kristus akan memancar dan memantul kepada orang lain jika tidak melalui kita?
Jagalah agar jangan sampai kita menjadi batu sandungan. Jangan diskriminatif, memasang pagar tinggi terhadap saudara-saudari kita yang lain, terutama yang belum mengenal Kristus. Jangan pasang double, triple atau multiply standard, tetapi perlakukanlah semua orang dengan baik berdasarkan kasih, seperti halnya Kristus mengasihi kita. Ibu penjual jamu gendong diatas menawarkan dagangannya dengan kelemahlembutan, kesabaran dan keramahan, dan saya mendapat manfaatnya untuk menjaga stamina saya yang terkuras habis beberapa hari belakangan ini. Kita pun bisa belajar dari ibu penjual jamu untuk bersikap sama terhadap orang yang belum mengenal Tuhan. Sebagai murid-murid Yesus, kita seharusnya memiliki kerinduan yang sama dengan Yesus agar lebih banyak lagi jiwa terhilang bisa diselamatkan. Bukan lewat kekerasan, lewat caci maki, penghinaan atau pemaksaan, karena semua itu tidaklah ada gunanya dan tidak ada untungnya baik bagi kita maupun bagi saudara-saudara kita. Tidak ada jalan lain untuk memperkenalkan pribadi Yesus yang sesungguhnya dan segala berkat, hidup yang kekal dan pintu keselamatan menuju Bapa tanpa segala sesuatu sikap baik yang berdasar pada kasih.
Kenalkan Kristus dengan bersikap ramah dan penuh kasih pada sesama
Sumber : Renungan Harian Online, 06/12/2008
Everyday Is A Test
Ayat bacaan: 2 Korintus 12:9
======================
"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."
Bosan mendengar air mati di rumah saya? Itulah yang lagi-lagi terjadi. Sudah dua hari air kembali mati. Tadi pagi komputer istri saya sepertinya terkena virus, sehingga tugas saya pun bertambah lagi, membawa komputer untuk direparasi. Cukup? Tidak, karena malam setelah saya selesai mengajar dan hendak pulang, mobil tiba-tiba rusak. Sabar, tentu itu yang seharusnya saya lakukan, dan saya tahu Tuhan pun menginginkan saya untuk bisa bersabar menghadapi berbagai masalah. Tapi sejak air berhenti mengalir kemarin, saya terus menerus mendengarkan ayat yang saya jadikan ayat bacaan hari ini di dalam hati saya.
"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna." What a wonderful God He is! Dalam tiap titik kesulitan di atas, saya merasakan kuasa Tuhan dinyatakan. Bagaimana? Mari saya ajak teman-teman melihat situasinya satu persatu.
Pertama, air mati. Ternyata di bawah rumah saya ada selang kecil yang lubangnya kira-kira sebesar sedotan (straw). Untuk menampung satu ember membutuhkan kira-kira setengah jam, tapi air itu mengalir dari gunung dan tidak berhenti, sehingga saya bisa menampung dengan sabar terus menerus untuk mengisi bak mandi saya. Tidakkah saya bersyukur bahwa Tuhan memberi saya tenaga yang cukup untuk menggotong ember demi ember sehingga kami tidak harus kekurangan air? Tidakkah saya bisa bersyukur bahwa masih ada selang yang walaupun kecil tapi masih bisa mengalirkan air ke dalam ember? Itu jauh lebih baik daripada tidak ada sumber air sama sekali, atau jika saya dalam keadaan sakit sehingga tidak mampu mengangkat ember.
Kedua, kasus komputer yang terkena virus. Saya tinggal membawa komputer itu ke kampus dimana saya mengajar, karena disana ada teknisi-teknisi yang siap membantu memperbaiki tanpa biaya. Ya, saya memang harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk membongkar pasang komputer, dan membawanya ke kampus, tapi saya masih punya tenaga lebih dari cukup untuk itu.
Ketiga, mobil mogok, ternyata Tuhan kembali menunjukkan kuasaNya. Walaupun hari sudah malam, tapi saya bertemu dengan montir sepeda motor yang bersedia membantu, setidaknya hingga mobil bisa saya bawa kembali ke rumah dengan selamat. Dan luar biasa, walaupun orang itu tidak saya kenal, dia tidak mau menerima bayaran sama sekali meski telah mengutak atik mobil berjam-jam. "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." That's absolutely right, and I praise the Lord for that. Haleluya!
Everyday's a test. Setiap hari adalah ujian, apakah kita mampu taat dan tetap bersukacita ketika menghadapi permasalahan hidup atau tenggelam dalam keluhan dan kekecewaan. Petrus mengingatkan akan hal yang sama pula. "Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya." (1 Petrus 4:13). Berbagai ujian itu pun akan mendatangkan ketekunan (Yakobus 1:3). Kita belajar sabar, belajar tekun, dan yang lebih penting lagi, belajar percaya sepenuhnya pada Tuhan bukan ketika kita sedang aman-aman saja, tapi justru ketika kita menghadapi kesulitan hidup. Kita bisa bersungut-sungut dan mengeluh karena kesulitan itu menyita waktu, tenaga dan pikiran kita, sebaliknya kita bisa bersukacita dan bersyukur bahwa Tuhan selalu beserta kita dalam hal apapun. Mukjizat dimana Tuhan menyatakan kuasaNya tidak harus selalu dari hal-hal "bombastis" seperti orang mati dibangkitkan, orang sakit parah tiba-tiba sembuh dan sebagainya, tapi dalam banyak hal yang mungkin terlihat kecil, - terkadang sangat kecil sehingga banyak yang tidak menyadarinya karena fokus pada masalahnya dan bukan pada penyelesaian - , itu semua tetaplah mukjizat Tuhan yang nyata, tidak kurang hebatnya dari mukjizat-mukjizat di atas. Tiga masalah yang saya alami beruntun mulai kemarin semuanya menjadi bukti bahwa penyertaan Tuhan tetap ada, dan mukjizatNya tetap terjadi. Semua telah dicukupkan, dan Dia tetap hadir dengan kuasaNya yang ajaib.
Apapun masalah yang tengah kita hadapi, itu semua adalah ujian, dan bagaimana sikap dan cara menjawabnya semua tergantung diri kita sendiri. Saya percaya, Tuhan menjanjikan berkat yang lebih lagi bagi anak-anakNya yang mampu melewati berbagai ujian dengan sukacita berlimpah dan tetap percaya penuh pada kuasaNya. Jadi ketika anda menghadapi masalah beruntun dan bertubi-tubi, bersukacitalah karena Allah telah mencukupkan kasih karuniaNya bagi kita agar mampu menghadapi semuanya itu. Haleluya!
Anda tengah didera masalah bertubi-tubi? Bersyukurlah karena itu artinya anda akan merasakan kuasa Allah yang ajaib
Sumber : Renungan Harian Online, 5/12/2008
======================
"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."
Bosan mendengar air mati di rumah saya? Itulah yang lagi-lagi terjadi. Sudah dua hari air kembali mati. Tadi pagi komputer istri saya sepertinya terkena virus, sehingga tugas saya pun bertambah lagi, membawa komputer untuk direparasi. Cukup? Tidak, karena malam setelah saya selesai mengajar dan hendak pulang, mobil tiba-tiba rusak. Sabar, tentu itu yang seharusnya saya lakukan, dan saya tahu Tuhan pun menginginkan saya untuk bisa bersabar menghadapi berbagai masalah. Tapi sejak air berhenti mengalir kemarin, saya terus menerus mendengarkan ayat yang saya jadikan ayat bacaan hari ini di dalam hati saya.
"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna." What a wonderful God He is! Dalam tiap titik kesulitan di atas, saya merasakan kuasa Tuhan dinyatakan. Bagaimana? Mari saya ajak teman-teman melihat situasinya satu persatu.
Pertama, air mati. Ternyata di bawah rumah saya ada selang kecil yang lubangnya kira-kira sebesar sedotan (straw). Untuk menampung satu ember membutuhkan kira-kira setengah jam, tapi air itu mengalir dari gunung dan tidak berhenti, sehingga saya bisa menampung dengan sabar terus menerus untuk mengisi bak mandi saya. Tidakkah saya bersyukur bahwa Tuhan memberi saya tenaga yang cukup untuk menggotong ember demi ember sehingga kami tidak harus kekurangan air? Tidakkah saya bisa bersyukur bahwa masih ada selang yang walaupun kecil tapi masih bisa mengalirkan air ke dalam ember? Itu jauh lebih baik daripada tidak ada sumber air sama sekali, atau jika saya dalam keadaan sakit sehingga tidak mampu mengangkat ember.
Kedua, kasus komputer yang terkena virus. Saya tinggal membawa komputer itu ke kampus dimana saya mengajar, karena disana ada teknisi-teknisi yang siap membantu memperbaiki tanpa biaya. Ya, saya memang harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk membongkar pasang komputer, dan membawanya ke kampus, tapi saya masih punya tenaga lebih dari cukup untuk itu.
Ketiga, mobil mogok, ternyata Tuhan kembali menunjukkan kuasaNya. Walaupun hari sudah malam, tapi saya bertemu dengan montir sepeda motor yang bersedia membantu, setidaknya hingga mobil bisa saya bawa kembali ke rumah dengan selamat. Dan luar biasa, walaupun orang itu tidak saya kenal, dia tidak mau menerima bayaran sama sekali meski telah mengutak atik mobil berjam-jam. "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." That's absolutely right, and I praise the Lord for that. Haleluya!
Everyday's a test. Setiap hari adalah ujian, apakah kita mampu taat dan tetap bersukacita ketika menghadapi permasalahan hidup atau tenggelam dalam keluhan dan kekecewaan. Petrus mengingatkan akan hal yang sama pula. "Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya." (1 Petrus 4:13). Berbagai ujian itu pun akan mendatangkan ketekunan (Yakobus 1:3). Kita belajar sabar, belajar tekun, dan yang lebih penting lagi, belajar percaya sepenuhnya pada Tuhan bukan ketika kita sedang aman-aman saja, tapi justru ketika kita menghadapi kesulitan hidup. Kita bisa bersungut-sungut dan mengeluh karena kesulitan itu menyita waktu, tenaga dan pikiran kita, sebaliknya kita bisa bersukacita dan bersyukur bahwa Tuhan selalu beserta kita dalam hal apapun. Mukjizat dimana Tuhan menyatakan kuasaNya tidak harus selalu dari hal-hal "bombastis" seperti orang mati dibangkitkan, orang sakit parah tiba-tiba sembuh dan sebagainya, tapi dalam banyak hal yang mungkin terlihat kecil, - terkadang sangat kecil sehingga banyak yang tidak menyadarinya karena fokus pada masalahnya dan bukan pada penyelesaian - , itu semua tetaplah mukjizat Tuhan yang nyata, tidak kurang hebatnya dari mukjizat-mukjizat di atas. Tiga masalah yang saya alami beruntun mulai kemarin semuanya menjadi bukti bahwa penyertaan Tuhan tetap ada, dan mukjizatNya tetap terjadi. Semua telah dicukupkan, dan Dia tetap hadir dengan kuasaNya yang ajaib.
Apapun masalah yang tengah kita hadapi, itu semua adalah ujian, dan bagaimana sikap dan cara menjawabnya semua tergantung diri kita sendiri. Saya percaya, Tuhan menjanjikan berkat yang lebih lagi bagi anak-anakNya yang mampu melewati berbagai ujian dengan sukacita berlimpah dan tetap percaya penuh pada kuasaNya. Jadi ketika anda menghadapi masalah beruntun dan bertubi-tubi, bersukacitalah karena Allah telah mencukupkan kasih karuniaNya bagi kita agar mampu menghadapi semuanya itu. Haleluya!
Anda tengah didera masalah bertubi-tubi? Bersyukurlah karena itu artinya anda akan merasakan kuasa Allah yang ajaib
Sumber : Renungan Harian Online, 5/12/2008
Walk With God

Ayat bacaan: Kejadian 5:24
"Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah." ("And Enoch walked with God; and he was not, for God took him")
Pagi tadi saya dan istri membawa kedua anjing kami jalan pagi. Betapa menyenangkannya melihat kedua anjing mungil itu berjalan dengan gembira bersama kami. Ketika salah satu dari anjing berjalan terlalu ke depan, kami pun harus mempercepat langkah, karena jika tidak, lehernya akan tercekik. Sebaliknya jika salah satu dari mereka terlalu lambat, kami pun harus memperlambat langkah agar leher mereka tidak tercekik. Perjalanan menjadi lancar jika mereka berjalan beriringan, dengan ritme yang sama dengan kami. Saya merasa pagi tadi adalah pagi yang sangat membahagiakan, berjalan beriringan dengan istri dan kedua anjing yang begitu saya sayangi seperti anak sendiri.
Malam ini ketika hendak menulis renungan, saya teringat pada Henokh. Kisah mengenai Henokh dalam Alkitab tidaklah panjang, namun Henokh memberi sebuah kisah yang istimewa. Dalam ayat bacaan hari yang diambil dari kitab Kejadian 5:24 ini kita melihat bahwa Henokh dikatakan hidup bergaul dengan Allah(walked with God) , dan ia tidak mengalami kematian jasmani karena langsung diangkat Allah. Kata "hidup bergaul" atau "walked with God" ini kembali terulang pada kisah Nuh. "Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah." ("...Noah walked with God.") (Kejadian 6:9). Dan apa yang terjadi pada Nuh? Ketika Tuhan kecewa dan kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidup segala mahluk di bumi akibat bumi telah rusak akibat perbuatan manusia-manusia, hanya Nuh dan keluarganya lah diantara manusia-manusia lainnya yang diselamatkan. Kuncinya? Nuh adalah seorang yang benar, tidak bercela dan tentu saja hidup bergaul dengan Allah. Selanjutnya pada Perjanjian Baru, Henokh dan Nuh kembali disebutkan. "Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah." (Ibrani 11:5). "Karena iman, maka Nuh--dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan--dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya." (ay 7). Henokh dan Nuh mengalami sesuatu yang sangat luar biasa karena iman mereka, sebuah iman yang memungkinkan mereka berjalan bersama Tuhan dimana Allah berkenan atasnya.
Hidup bergaul tidaklah bisa berjalan sempurna jika tidak dilakukan beriringan. Seperti jalan pagi saya diatas, ketika satu tertinggal perjalanan tidak akan lancar, begitu pula jika satu berjalan terlalu cepat di depan. Hidup bergaul yang baik adalah ketika kedua pihak berjalan seirama, ada hubungan timbal balik atau take and give. Mari kita periksa diri kita. Apakah kita hanya berdoa untuk meminta berkat, agar terjadi kesembuhan atas sakit, agar Tuhan melepaskan kita dari kesulitan, tanpa mempersembahkan apa-apa bagi Tuhan, bahkan sebuah ucapan syukur yang sederhana sekalipun? Sudahkah kita melakukan kehendakNya untuk menjadi terang dan garam bagi dunia? Sudahkah kita memikirkan untuk melakukan hal-hal yang menyenangkanNya, atau kita masih terus bersungut-sungut menganggap Tuhan kurang tanggap mendengar jeritan kita? Take and give, semuanya seimbang, dalam satu ritme langkah yang beriring sempurna. Itulah sebuah hidup bergaul sesungguhnya. Tuhan rindu agar kita mau berjalan bersamaNya, mengalami hal-hal luar biasa, merasakan kehadiranNya yang penuh damai dan sukacita. Sebuah perjalanan bersama Tuhan adalah perjalanan indah dimana kita tidak perlu ragu tentang apapun yang ada di depan sana. Bukan saja perjalanan dimana sukacita dan damai sejahtera dari kehidupan kekal menanti di depan sana, tetapi kita pun bisa menikmati setiap langkah perjalanan kita bersamaNya. It's just too beautiful to imagine. Tidak ada kata terlambat untuk mulai berjalan bersama Tuhan dalam setiap detik hidup kita. Mulailah dari sekarang, karena setiap langkah itu berharga.
Kita menuju arah yang benar jika berjalan bersama Tuhan
Sumber : Renungan Harian Online, 4/12/2008
Ketika Gereja Bisa Jadi Tempat Sholat
Sebuah gereja di Negara Bagian Wisconsin, Amerika Serikat timur laut,telah memperkenankan umat Islam melaksanakan shalat dua kali sehari.
"Kami merasa berterima kasih kepada gereja itu," kata Ajaz Qhavi,seorang tokoh Islam setempat.
Gereja Presbiterian di Kota Franklin, Wisconsin selatan, itu telahmengijinkan kaum Muslimin setempat melaksanakan shalat sebanyak limahari dalam sepekan, tulis Journal Sentinel, seperti dilaporkan IINA.
Sejak pekan lalu, kaum Muslimin berkumpul di ruagan Sekolah Minggugereja itu untuk melaksanakan shalat Subuh dan Isya.
Pusat Islam Milwaukee membayar biaya sewa untuk menutup pengeluarangereja. Langkah tersebut diambil sehubungan tak adanya mesjid terdekatdi kawasan itu.
Para jemaah biasanya shalat di mana saja, seperti di rumah, di luarrumah, bandara, kata Isa Sadlon, Direktur Eksekutif Pusat Islam Milwaukee.
Namun demikian, banyak umat Islam lebih suka shalat berjamaah dan limaperjalanan per hari ke mesjid sangat membebani pengeluaran mereka, katamereka.
Tempat shalat tersebut, kata Sadlon, memungkinkan mereka untuk memenuhikewajiban mereka dan jaraknya dekat dengan rumah atau tempat kerjamereka. Di Kota Franklin, kini terdapat sekitar 150 keluarga Muslim.
Sebuah terobosan yang luar biasa. Dengan toleransi seperti ini, jika diaplikasikan di berbagai tempat tentu berbagai ketegangan berisu SARAtidak perlu terjadi.
Sumber : *Antara/VM, December 02, 2008
"Kami merasa berterima kasih kepada gereja itu," kata Ajaz Qhavi,seorang tokoh Islam setempat.
Gereja Presbiterian di Kota Franklin, Wisconsin selatan, itu telahmengijinkan kaum Muslimin setempat melaksanakan shalat sebanyak limahari dalam sepekan, tulis Journal Sentinel, seperti dilaporkan IINA.
Sejak pekan lalu, kaum Muslimin berkumpul di ruagan Sekolah Minggugereja itu untuk melaksanakan shalat Subuh dan Isya.
Pusat Islam Milwaukee membayar biaya sewa untuk menutup pengeluarangereja. Langkah tersebut diambil sehubungan tak adanya mesjid terdekatdi kawasan itu.
Para jemaah biasanya shalat di mana saja, seperti di rumah, di luarrumah, bandara, kata Isa Sadlon, Direktur Eksekutif Pusat Islam Milwaukee.
Namun demikian, banyak umat Islam lebih suka shalat berjamaah dan limaperjalanan per hari ke mesjid sangat membebani pengeluaran mereka, katamereka.
Tempat shalat tersebut, kata Sadlon, memungkinkan mereka untuk memenuhikewajiban mereka dan jaraknya dekat dengan rumah atau tempat kerjamereka. Di Kota Franklin, kini terdapat sekitar 150 keluarga Muslim.
Sebuah terobosan yang luar biasa. Dengan toleransi seperti ini, jika diaplikasikan di berbagai tempat tentu berbagai ketegangan berisu SARAtidak perlu terjadi.
Sumber : *Antara/VM, December 02, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)