Monday, April 26, 2010

Fwd: renungan harian online

renungan harian online


Bully

Posted: 25 Apr 2010 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: Yeremia 17:7
======================
"Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!"

dihina, disepelekan, bullyMasa orientasi kampus saat ini tidaklah seseram di waktu dulu. Ketika saya diterima di sebuah Perguruan Tinggi Negeri sekian tahun yang lalu, masa orientasi masih dikenal dengan nama ospek, dan pada saat itu perlakuan terhadap mahasiswa/i baru masih sangat tidak terpuji. Saya ingat betul pada saat itu kami harus merangkak melewati selangkangan para senior, atau merangkak di bawah kolong meja, bahkan kami para pria harus pula masuk menceburkan diri ke dalam parit besar dan tidak boleh mandi selama masa orientasi itu berlangsung. Itu belum termasuk tindakan-tindakan yang memalukan lainnya, apalagi bagi orang-orang yang tidak satu suku dengan kaum mayoritas penghuni kampus itu. Saya termasuk korban yang lumayan sering dikerjai, karena kulit saya waktu itu terbilang putih. Beberapa teman lain yang berbeda ras juga mendapat perlakuan yang keterlaluan. Dihina dari sisi ras, diejek dan dijadikan bahan tertawaan. Bentuk seperti ini ironisnya bukan saja menjadi makanan di kampus setiap kali ada penerimaan mahasiswa baru, tetapi hampir di setiap jenjang pendidikan perlakuan tidak terpuji terhadap anak baru seperti mewabah di mana-mana. Istilah yang seringkali disebut dengan "bully" atau penindasan/pelecehan sampai penganiayaan bagi pelakunya mungkin hanyalah sebagai permainan belaka, namun efeknya seringkali berbekas lama bagi para korban. Tidak jarang di antara mereka akan terluka percaya dirinya hingga waktu yang lama, bahkan ada pula yang sampai bunuh diri karena tidak tahan mendapat hinaan.

Apakah ada tokoh di Alkitab yang pernah mengalami hal ini? Dan apa yang kemudian terjadi dengan mereka? Jelas ada. Setidaknya kita bisa menyebut dua nama, Yefta dan Daud. Kedua nama ini pernah mendapatkan perlakuan tidak adil dan menjadi olok-olok orang lain, bahkan dari keluarganya sendiri. Dalam kitab Hakim-Hakim 11 kita bisa mendapatkan kisah bahwa Yefta dikatakan lahir dari seorang pelacur. Karena itulah ia diusir oleh ibunya (istri Gilead, ayah Yefta) karena ia tidak berasal dari rahim sang ibu, istri sah Gilead. Yefta bukan saja diusir oleh keluarganya, bahkan ayahnya sendiri tidak membelanya, namun juga oleh para tokoh terhormat (tua-tua) di tempatnya. Namun pada suatu ketika, di saat serangan bani Amon terasa begitu sulit untuk diatasi, mereka pun menjilat ludah sendiri dan meminta Yefta untuk menjadi panglima untuk berperang melawan bani Amon. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Yefta dengan gemilang menundukkan pasukan bani Amon. Dengan kejadian itu, Yefta berhasil mempermalukan keluarga serta orang-orang yang pernah menghina dan mengusirnya. Dalam Alkitab dikatakan demikian: "Kemudian Yefta berjalan terus untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangannya." (Hakim Hakim 11:32).

Mari kita lihat masa kecil Daud dalam 1 Samuel 17. Ketika saudara-saudaranya dengan gagah menjadi prajurit dan disanjung oleh orang tuanya, ia diabaikan dan hanya diberi pekerjaan sebagai gembala kambing domba di padang gurun. Pada suatu ketika orang-orang Filistin termasuk di dalamnya Goliat yang berukuran raksasa mengintimidasi mental pasukan Israel. Dan tidak satupun dari mereka yang berani maju, kecuali Daud kecil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan prajurit bersenjata bangsa Israel. Namun apa reaksi saudara-saudara Daud? Ia disepelekan oleh kakaknya sendiri. "Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: "Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran." (1 Samuel 17:28). Namun Daud tidak kecil hati. Ia dengan berani maju menghadapi Goliat. Daud berkata: "Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." (ay 37a). Ketika berhadapan dengan Goliat yang atribut perangnya lengkap, ia kembali dicemooh oleh lawannya. Tapi apa kata Daud? "Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu." (ay 45). Dan kita tahu bagaimana kisah akhirnya, Daud sukses mengalahkan orang yang jauh berukuran lebih besar darinya yang bersenjatakan sangat lengkap.

Jika kita melihat dua kisah di atas mengenai Yefta dan Daud, ada satu benang merah yang dapat kita tarik yaitu keduanya mengandalkan Tuhan dalam mengatasi permasalahan mereka. Mereka sama-sama tahu bahwa kemampuan mereka memang terbatas, mereka tahu kondisi mereka sangat memungkinkan untuk dijadikan bahan olok-olok, disepelekan, dihina dan direndahkan, namun mereka juga tahu bahwa dengan mengandalkan Tuhan, mereka akan mampu mengatasi masalah apapun. Keberhasilan akan terjadi ketika manusia yang terbatas mau mengandalkan Tuhan yang tidak terbatas kuasaNya. Yefta sejak awal sudah menyebutkan hal ini sebelum ia menerima permohonan para tua-tua untuk memimpin pasukan. "Kata Yefta kepada para tua-tua Gilead: "Jadi, jika kamu membawa aku kembali untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka kepadaku, maka akulah yang akan menjadi kepala atas kamu?" (Hakim Hakim 11:9). Dan Daud pun sama, seperti yang kita lihat dalam beberapa ayat di atas. Apa yang menjadi landasan keberhasilan mereka adalah sama, yaitu mereka mengandalkan Tuhan dalam tindakan mereka.

Jika hari ini ada diantara anda yang diremehkan, baik di kantor, di lingkungan, pertemanan atau di sekolah, janganlah kecil hati dan putus asa karenanya. Ingatlah bahwa anda berharga di mata Tuhan. Anda diciptakan dengan gambar dan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26), dan tetap berada dalam telapak tangan dan ruang mataNya. (Yesaya 49:16). Dan bukankah Yesus pun dianugerahkan buat anda karena kasih Allah yang begitu besar terhadap diri anda? (Yohanes 3:16). Oleh karena itu, dalam menghadapi pelecehan atau penghinaan dari orang lain, tugas kita adalah terus berjuang dengan positif untuk membuktikan anggapan dan perilaku negatif mereka terhadap anda adalah salah. Buktikan bahwa anda bisa berprestasi, bisa sukses meski keadaan anda saat ini mungkin tidaklah sebaik mereka yang menghina anda. Bagaimana itu bisa dilakukan? Jelas, dengan mengandalkan Tuhan. Itulah yang menjadi kunci dari sebuah kesuksesan, dan bukan atas kuat kuasa dan hebatnya diri kita sendiri. Firman Tuhan sendiri berkata "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7) Diberkati bagaimana? "Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah." (ay 8) Itu janji Tuhan yang turun bukan kepada orang-orang yang berkuasa, kuat dan hebat secara manusiawi, tapi kepada mereka yang selalu mengandalkan Tuhan dan terus menaruh harapan pada Tuhan tanpa henti. Let's prove them wrong, and let them see how the story goes when we rely on God in everything we do.

Ketika disepelekan, teruslah berjuang dan buktikan bahwa bersama Tuhan kita bisa berhasil

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
You are subscribed to email updates from renungan harian online
To stop receiving these emails, you may unsubscribe now.
Email delivery powered by Google
Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Saturday, April 24, 2010

Fwd: renungan harian online

Sumber: renungan harian online

Popularitas Tidak Penting

Ayat bacaan: Lukas 6:26 ===================== "Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu." Begitu banyak acara pencarian bakat yang menjamur di televisi. Berbagai bentuk idol dari anak kecil hingga dewasa terus bermunculan. Ketika dulu kita hanya menjumpainya dalam bidang seni suara alias menyanyi, saat ini hal-hal lain pun dijadikan ajang kompetisi mencari bakat. Dan ini sejalan dengan keinginan pasar dan gambaran dari impian kebanyakan orang. Siapa yang tidak ingin terkenal, dikagumi, atau diidolakan banyak orang? Sekali muncul di televisi, jutaan orang menyaksikan dan dengan sendirinya kita pun akan terkenal. Belum lagi berbagai tabloid atau majalah yang memuatnya. Tapi kebanyakan dari para idol ini hanya mendapatkan ketenaran dalam waktu singkat. Secepat mereka meroket, secepat itu pula mereka dilupakan. Berulang-ulang kita menyaksikan orang menjadi tenar dan dalam waktu singkat kemudian dilupakan, tetapi itu tidak menyurutkan niat manusia untuk berlomba-lomba mencapai ketenaran di mata manusia lainnya. Tidak jarang kita harus ikut-ikutan melakukan sesuatu yang, meskipun salah di mata Tuhan, namun kita merasa harus melakukannya agar bisa diterima di sebuah lingkungan atau kelompok tertentu. Semua hanya demi popularitas. Alkitab tidak pernah mengajarkan kita untuk mengejar popularitas. Populer di mata orang lain itu tidaklah penting. Firman Tuhan dengan tegas mengatakan "Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu." (Lukas 6:26). Celaka? Ya, karena semua itu bisa membuat kita lupa diri kemudian melupakan Sang Pemberinya sendiri. Apa yang dituntut dari kita adalah terus berupaya menjadi orang benar, semakin sempurna seperti Bapa di sorga (Matius 5:48), menghayati keberadaan kita sebagai manusia baru yang terus diperbaharui untuk lebih mengenal Allah dengan lebih dalam (Kolose 3:10) dan terus semakin menyerupai Yesus dengan pertolongan Roh Kudus yang telah dianugerahkan untuk diam di dalam diri kita. (2 Korintus 3:18). Itu yang diinginkan bagi kita, dan bukan untuk mengejar popularitas di mata manusia yang hanya sementara sifatnya. Semakin tinggi kita menapak naik, kita seharusnya semakin kecil, dan Allah sendiri yang harus semakin besar. Yohanes Pembaptis bisa saja membanggakan diri sebagai sosok yang membaptis Yesus, tetapi lihatlah apa katanya. "Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya...Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yohanes 3:28,30). Kemuliaan Allah harus terus semakin besar lewat pribadi kita dan dalam saat yang sama kita harus terus semakin rendah hati dan tidak tergiur oleh dorongan mencari popularitas di mata manusia. Jika memang kita harus dianggap aneh oleh dunia, atau malah harus menghadapi resiko disingkirkan atau dikucilkan, so be it. Itu jauh lebih baik ketimbang kita mentolerir berbagai bentuk pelanggaran yang akan semakin menjauhkan kita dari posisi kita sebagai ahli waris Tuhan. Yesus bahkan telah mengingatkan "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Mengapa demikian? "Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya." (Matius 16:25). Dan ini adalah sesuatu yang kekal. An everlasting, eternal life. Itu yang dijanjikan oleh Kristus. Dan itulah yang jauh lebih pantas kita usahakan ketimbang mencari popularitas di dunia yang sifatnya hanya sementara ini. Tepat seperti apa yang dikatakan Yesus selanjutnya: "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (ay 26). Apalah artinya popularitas di dunia dibandingkan dengan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hidup yang terberkati dalam Kerajaan Allah? Itu sama sekali tidak sebanding bukan? Semakin jauh kita bertumbuh, semakin banyak pula kita akan berhadapan dengan pilihan demi pilihan. Melakukan sesuatu yang benar tapi beresiko dibenci atau disisihkan banyak orang, atau sebaliknya melakukan hal yang salah tapi akan dipuja-puja orang lain. Semua itu tergantung kita. Tidak mudah memang untuk tampil benar di dunia yang penuh kesesatan. Tidak mudah untuk tampil lurus di lingkungan yang bengkok. Tapi itulah yang menjadi panggilan kita. Tuhan memanggil kita untuk melakukan apa yang benar dan bukan untuk menjadi populer di mata dunia. Meski di mata orang lain kita tidak diterima sekalipun, ingatlah bahwa Allah selalu menghargai dan menerima keputusan kita untuk tetap tampil sebagai orang benar. Dan itu jauh lebih cukup ketimbang ketenaran di mata manusia yang bisa semakin menyesatkan kita dan semakin menjauhkan kita dari Tuhan. Kita diminta untuk menjadi orang benar dan bukan untuk menjadi populer Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho You are subscribed to email updates from renungan harian online To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. Email delivery powered by Google Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Friday, April 23, 2010

Fwd: renungan harian online

Sumber: renungan harian online

renungan harian online

Kesesuaian antara Perkataan dan Perbuatan

Ayat bacaan: Efesus 6:4 ===================== "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Adalah lebih mudah untuk menjadi pengajar namun tidak gampang untuk menjadi pendidik. Maksud saya begini. Ketika kita menjalani profesi sebagai pengajar, yang diperlukan adalah kemampuan kita untuk mentransfer ilmu kepada anak didik kita. Jika proses itu berhasil menambah ilmu mereka, maka proses mengajar itu pun dikatakan sukses. Namun sebagai pendidik ada banyak lagi proses yang harus kita cermati. Kita harus tahu betul karakter dan sifat masing-masing anak, mengetahui kelemahan-kelemahan mereka dan berusaha menambalnya. Selama pengalaman saya menjadi dosen saya melihat bahwa seringkali proses mendidik ini lebih ditekankan kepada faktor diluar kurikulum pelajaran. Ada banyak anak yang sebenarnya tidak bermasalah dengan kemampuan menyerap ilmu, tetapi mereka bermasalah dari segi mental dan keberanian. Tidak jarang yang harus dibenahi justru di sektor ini karena kemampuan mereka sering terhambat oleh faktor non teknis. Satu lagi yang sangat penting untuk diperhatikan sebagai pendidik adalah bagaimana agar apa yang kita katakan dan ajarkan itu selalu selaras atau sejalan dengan sikap, perilaku atau perbuatan kita sendiri. Bagaimana mungkin orang mau mendengarkan nasihat kita jika kita sendiri tidak melakukannya? Kesesuaian antara perkataan dan perbuatan adalah sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pendidik. Menjadi teladan itu wajib bagi pendidik. Kemarin saya sudah menyinggung bagaimana untuk mendisiplinkan anak yang sesuai dengan firman Tuhan. Tuhan ingin kita mendidik anak-anak kita dengan caraNya. Ketika Tuhan menghajar kita demi kebaikan kita dan bukan karena ingin menyiksa, ketika Tuhan menghajar kita karena Dia mengasihi kita, seperti itu pula kita seharusnya mendidik anak-anak kita. Jika hukuman terpaksa diberikan maka berikan

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Wednesday, April 21, 2010

Fwd: renungan harian online

renungan harian online


Senang Melihat Musuh Jatuh

Posted: 20 Apr 2010 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: Yunus 4:1
====================
"Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia."


senang melihat musuh jatuhBagaimana perasaan hati kita ketika melihat orang yang tidak kita sukai jatuh? Kebanyakan orang akan senang melihatnya. Apalagi jika orang itu pernah menyakiti hati kita. Kata-kata yang keluar pun biasanya bernada puas. Rasakan, biar tahu rasa, biar kapok, bahkan kata-kata yang lebih kasarpun akan keluar dari mulut kita. Ketika saya mengingatkan seorang teman yang merasa puas melihat seterunya jatuh, ia pun berkata "mengapa tidak? Dia sudah menyakitiku kan? Wajar dong kalau aku senang melihatnya.." Secara manusiawi mungkin ya, tetapi tidak ada alasan bagi kita orang percaya untuk melakukan hal seperti itu. Mengapa? Karena kita seharusnya memiliki kasih Kristus di dalam diri kita yang sama sekali tidak menyediakan tempat buat beria-ria terhadap kejatuhan orang lain, bahkan yang telah berbuat jahat terhadap kita sekalipun.

Hari ini mari kita lanjutkan kisah Yunus. Setelah ia keluar dari perut ikan dan kemudian memutuskan untuk taat terhadap perintah Tuhan, ia pun pergi untuk mengingatkan Niniwe agar bertobat. Dan pertobatan bangsa Niniwe pun hadir. Seisi Niniwe berbalik dari tingkah laku yang jahat dan berselubung kain kabung tanda pertobatan. Bukan hanya manusia, tetapi ternak-ternak pun demikian. Melihat itu, Tuhan pun mengampuni mereka. "Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya." (Yunus 3:10). Apa yang wajar menjadi respon Yunus melihat hal ini? Seharusnya ia gembira. Seharusnya ia merasa lega, bahwa tugas maha berat yang dibebankan kepadanya mampu ia selesaikan dengan baik. Seharusnya Yunus merasa bahagia melihat begitu banyak manusia yang terluput dari kebinasaan dan beroleh keselamatan. Tapi bukan itu yang menjadi respon Yunus. Justru sebaliknya, Alkitab mencatat respon Yunus adalah seperti ini: "Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia." (Yunus 4:1).

Niniwe merupakan musuh bebuyutan dari Israel. Buat apa Allah Israel menyelamatkan musuh umatNya sendiri? Itu mungkin yang menjadi isi hati Yunus. Ia mengira bahwa hanya bangsa Israel saja yang mendapat janji Tuhan, dan dengan demikian hanya Israel lah satu-satunya yang berhak diselamatkan. Yunus bahkan berterus terang mengungkapkan rasa marahnya melihat Niniwe diselamatkan. Tapi pikiran seperti itu sungguh salah. Lewat pohon jarak yang ditumbuhkan dan kemudian layu di hari selanjutnya Tuhan memberi pelajaran kepada Yunus bahwa bukan hanya Israel, tapi bangsa-bangsa lain pun layak untuk dikasihi Tuhan. "Lalu Allah berfirman: "Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?" (Yunus 4:10-11). Bukankah mereka pun Tuhan yang menciptakan? Bukankah mereka juga diciptakan menurut gambar dan rupaNya? Jika demikian, bagaimana mungkin Tuhan tidak mengasihi mereka juga?

Yunus memang mentaati perintah Tuhan, namun hatinya ternyata masih sama kerasnya seperti saat ia melarikan diri dari penugasan Tuhan. Di dalam hatinya ia masih tetap menginginkan kehancuran Niniwe. Itu bukanlah sikap yang diinginkan Tuhan untuk kita miliki. Ada banyak orang-orang yang pernah, sedang dan akan menyakiti kita di kemudian hari. Terhadap mereka kita tidak diperbolehkan untuk mendendam apalagi mengutuk. Justru yang diinginkan Tuhan adalah sebentuk kasih yang didalamnya terdapat pengampunan tanpa batas. Kita juga dituntut untuk selalu berbuat baik bagi mereka, bahkan mendoakan mereka. "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu... kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat." (Lukas 6:27,35). Dalam Injil Matius dikatakan "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44). Ini merupakan perintah penting yang digariskan Tuhan untuk kita amalkan dalam kehidupan kita. Mungkin berat bagi kita, tapi ingatlah bahwa ada Roh Kudus di dalam diri kita yang akan memampukan kita untuk berbuat demikian.

Tuhan mengasihi semua ciptaanNya di dunia ini. Siapapun manusianya, baik atau jahat, semuanya tetap layak untuk diselamatkan. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia." (Yohanes 3:16-17). Kasih Allah itu besar bagi siapapun tanpa terkecuali, bukan hanya terhadap Israel saja. Kedatangan Yesus pun bukan hanya untk menyelamatkan segelintir umat pilihan, tapi berlaku untuk siapa saja yang percaya padaNya, tanpa pandang bulu, tanpa terkecuali. Tuhan Yesus berkata "Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala." (Yohanes 10:16). Semua ini menggambarkan besarnya kasih Allah kepada seluruh umat manusia di bumi ini. Dia rindu untuk melihat pertobatan dari bangsa-bangsa agar selamat. Jika Tuhan memiliki persepsi demikian, mengapa kita malah harus bersenang hati melihat kehancuran orang lain? Mari kita menjaga hati kita agar tidak terperosok kepada pemahaman keliru seperti Yunus. Tetaplah berbuat baik, jangan terpengaruh oleh provokasi atau pancingan-pancingan dari orang yang berlaku jahat, tetapi doakanlah mereka dan ampuni. Jika seteru atau orang yang menyakiti kita jatuh, jangan bersenang hati, tapi justru kita harus menunjukkan empati dan berusaha menolong semampunya. Jika itu sulit, berdoalah dan minta agar Roh Kudus memampukan kita untuk melakukannya. Dari Yunus kita bisa belajar, meski kita sudah melakukan tindakan yang benar, tetapi kita masih mungkin berbuat kesalahan jika kita tidak menjaga hati kita agar tetap seturut kehendak Allah. Mari miliki hati yang lembut dan penuh kasih, karena Allah pun memperlakukan kita semua dengan cara seperti itu.

Damai sejahtera dan sukacita akan selalu ada jika kita mentaati Tuhan dengan segenap hati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
You are subscribed to email updates from renungan harian online
To stop receiving these emails, you may unsubscribe now.
Email delivery powered by Google
Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Tuesday, April 20, 2010

Fwd: WALK AS A NEW MAN

Subject: WALK AS A NEW MAN

David Wilkerson

Today TUESDAY, APRIL 20, 2010

WALK AS A NEW MAN

You know the story. A young man took his portion of his father's inheritance and squandered it on riotous living. He ended up broken, ruined in health and spirit, and at his lowest point he decided to return to his father. Scripture tells us, "He arose, and came to his father. But when he was yet a great way off, his father saw him, and had compassion, and ran, and fell on his neck, and kissed him" (Luke 15:20).
Note that nothing hindered this father's forgiveness of the young man. There was nothing this boy had to do—not even confess his sins—because the father had already made provision for reconciliation. Indeed, it happened all by the father's initiative; he ran to his son and embraced him as soon as he saw the boy coming up the road. The truth is, forgiveness is never a problem for any loving father. Likewise, it's never a problem with our heavenly Father when he sees a repentant child.
So forgiveness simply is not the issue in this parable. In fact, Jesus makes it clear that it wasn't enough for this prodigal merely to be forgiven. The father didn't embrace his son just to forgive him and let him go his way. No, that father yearned for more than just his son's restoration. He wanted his child's company, his presence, communion.
Even though the prodigal was forgiven and in favor once more, he still wasn't settled in his father's house. Only then would the father be satisfied, his joy fulfilled when his son was brought into his company. That is the issue in this parable.
Here the story gets very interesting. The son clearly was not at ease with his father's forgiveness. That's why he hesitated to enter his father's house. He told him, in essence, "If you only knew what I've done, all the filthy, ungodly things. I've sinned against God and against your love and grace. I just don't deserve your love. You have every right to cut me off."
Note how the father responds to his son. He utters not a single word of reproof. There is no reference to what the prodigal had done, no mention of his rebellion, his foolishness, his profligate living, his spiritual bankruptcy. In fact, the father didn't even acknowledge his son's attempts to stay outside, unworthy. He ignored them! Why?
In the father's eyes, the old boy was dead. That son was out of his thoughts completely. Now, in the father's eyes, this son who had returned home was a new man. And his past would never be brought up again. The father was saying, "As far as I'm concerned, the old you is dead. Now, walk with me as a new man. No need for you to live under guilt. The sin problem is settled. Now, come boldly into my presence and partake of my mercy and grace."


Read this devotion online
Pulpit Series Newsletters We See Jesus 04.05.10 The Present Greatness of Christ 03.15.10 Hold Onto Your Confidence 02.22.10 Sermons By David Wilkerson By Now You Ought to Be Teachers 01.11.09 A Friend of Sinners 04.30.06 The Cry of Sodom and Gomorrah 03.23.04 For more sermons by David Wilkerson visit our Pulpit Series Newsletters and Sermon Media Center Audio sermons by David and Gary Wilkerson are also available via our audio podcast in iTunes Connect with World Challenge and Gary Wilkerson on Twitter Connect with World Challenge and Gary Wilkerson on Facebook ©2010 World Challenge, Inc.
You are welcome to make copies for FREE distribution or retransmit the devotional via e-mail, but all devotionals must be copied or retransmitted in their entirety. However, devotionals may not be posted on any website, printed, or used in any media without written permission from World Challenge, Inc. Each request is considered on a case-by-case basis. Please contact World Challenge, Inc. using our online contact form or by calling (903) 963-8626
To receive the plain text version of this newsletter send a blank email to sympa@lists.worldchallenge.org with the subject "set devotions-en txt". Do not include the quotes.
To receive the multipart (text & HTML) version of this newsletter send a blank email to sympa@lists.worldchallenge.org with the subject "set devotions-en mail". Do not include the quotes.
To unsubscribe from this mailing list send an email to devotions-en-unsubscribe@lists.worldchallenge.org or unsubscribe online.
To subscribe to this mailing list visit our online subscription screen.


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Fwd: renungan harian online

Sumber : Renungan harian online

Lari dari Panggilan Tuhan

Ayat bacaan: Yunus 1:2-3 ====================== "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku. Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN." Lari dari panggilan. Kita sering melakukan hal ini dalam berbagai kesempatan. Mungkin kita merasa kurang mampu, mungkin kita kurang percaya diri, mungkin kita merasa beban itu terlalu berat atau segudang alasan lainnya. Untuk menjawab panggilan memang tidak mudah. Seringkali kita harus meninggalkan zona kenyamanan kita bahkan mengorbankan sesuatu dan masuk ke dalam situasi sulit ketika kita memilih untuk patuh terhadap panggilan. Tapi kita juga tidak boleh lupa bahwa sebuah panggilan bisa menjadi sebuah titik balik yang bisa mengubahkan hidup kita untuk menapak ke arah yang lebih baik. Ketika saya mendapat panggilan untuk menulis renungan setiap hari, saya merasa itu adalah hal yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin saya yang sangat jarang membuka Alkitab, malah jarang berdoa, disuruh untuk melakukan sesuatu yang seperti ini? Apa yang bisa saya tulis jika saya tidak mengetahui sebagian besar dari isi Alkitab? Tapi saya memilih untuk taat. Setiap hari saya meluangkan waktu di tengah kesibukan untuk memastikan renungan hadir bagi anda tanpa putus, dan tidak terasa sudah lebih dua tahun saya melakukannya. Bukan karena diri saya sendiri, tapi Tuhan yang memampukan. Selalu saja ada hal yang Dia bukakan untuk ditulis, seperti janjiNya. Dan tidak hanya itu, selama saya aktif menulis, saya mengalami dan menyaksikan begitu banyak mukjizat yang tidak akan mampu terselami akal manusia. Saya pun melihat langsung bahwa ketika Tuhan memberi penugasan, bukan kehebatan kita yang Dia butuhk

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Fwd: renungan harian online

renungan harian online

An Eye for an Eye

Ayat bacaan: 1 Petrus 2:15 ====================== "Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh." An eye for an eye, mata ganti mata, itu merupakan sebuah hukum yang berlaku di masa Perjanjian Lama sesuai dengan hukum Taurat. Kita bisa menjumpai perihal mata ganti mata ini dalam beberapa bagian kitab Perjanjian Lama, diantaranya dalam Imamat 24:19-20, Ulangan 19:21 dan Keluaran 21:24. Ini adalah hukum yang diberlakukan untuk mencegah semangat balas dendam yang berlebihan di masa itu. Hukum yang sudah berusia sangat tua ini ternyata masih dianggap relevan oleh banyak orang bahkan hingga hari ini. Prinsip balas dendam ini berlaku bukan saja untuk perorangan, tapi seringkali sudah menyangkut lintas bangsa. Berbagai peperangan pun acap kali disebabkan oleh prinsip mata ganti mata seperti ini. Bukan saja dilakukan oleh orang-orang dunia, tetapi ironisnya di kalangan anak Tuhan sekalipun prinsip balas dendam ini masih saja terjadi. Ketika kita disakiti, kita pun tidak akan tinggal diam untuk membalas, malah kalau bisa lebih sakit lagi. "Saya bisa lebih baik 100x lipat jika orang baik pada saya, tapi sebaliknya jika saya disakiti orang, saya bisa menyakitinya 1000x lipat dari itu." kata seorang teman menyatakan prinsipnya. Ketika kita merasa dikecam, dipersulit, dipermalukan atau dihujat orang, tindakan manusiawi kita biasanya adalah membalas kembali. Jika tidak, artinya kita menyerah kalah dan akan semakin dipijak-pijak. Itu pola pikir dunia yang sudah dianggap sebagai sesuatu yang wajar oleh banyak orang. Padahal jika dipikir lagi, apa yang bisa kita dapatkan dari balas dendam seperti itu? Kepuasan? Biasanya tidak, karena masalah puas dan tidak itu sangat subjektif dan begitu semu. We tend to fight fire with fire. "Itu yang adil, bukan?" demikian isi pikiran kita. Yang sering terjadi adalah, kita hanya akan menambah masalah, menambah bahan bakar pada api yang sudah menyala. Api

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Friday, April 16, 2010

Fwd: renungan harian online

Sumber : Renungan harian online

Abraham dan Bintang-bintang di Langit

Ayat bacaan: Kejadian 15:5-6 ========================= "Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Adalah mudah untuk membaca firman Tuhan, tapi seringkali sulit untuk mempercayai bahwa firman itu bisa berlaku bagi kita. Menyetujuinya mungkin mudah, tapi mudahkah bagi kita untuk percaya baha pernyataan Tuhan itu akan berhasil bagi kita? Setiap kita akan pernah berhadapan dengan masa-masa dimana kita akan berhadapan dengan situasi dimana kita begitu terpukul dengan keadaan yang sangat buruk sehingga sulit bagi kita untuk percaya akan janji Tuhan. Ketika Paulus berkata "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37), bagaimana mungkin hal itu bisa kita terima ketika masalah sedang berat-beratnya menimpa kita? Tidak mudah memang, tapi bukan tidak mungkin. Setidaknya Abraham pernah mengalami dan membuktikan sendiri. Lihatlah bagaimana Abraham di masa tuanya tiba-tiba mendapatkan janji Tuhan yang secara logika sama sekali tidak masuk akal. Tuhan menyatakan kepada Abraham bahwa ia akan menjadi bapa dari sejumlah besar bangsa (Kejadian 17:4). Itu dijanjikan ketika ia tidak lagi berada dalam masa subur. Abraham dan istrinya, Sara, sudah jauh melewati masa-masa itu! Masa dimana masih memungkinkan bagi mereka untuk memperoleh keturunan. Satu saja sudah sulit diterima akal, apalagi menjadi bapa sejumlah besar bangsa? Ditambah lagi Sara dikatakan mandul sepanjang hidupnya. (Kejadian 11:30). Bayangkan, bagaimana sepasang suami istri tua, kakek dan nenek yang mandul, dapat mempunyai anak, yang akan membentuk sejumlah besar bangsa? Tidak, itu tidak masuk akal sama sekali. Tuhan ternyata tahu pergumulan Abraham, yang waktu itu masih dikenal dengan Abram. Untuk membantunya, Tuhan pun memberi gambaran yang menurut saya sangat indah dan puitis. "Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." (Kejadian 15:5). Saya membayangkan Abram menatap bintang-bintang yang berkerlipan di langit malam. Saya membayangkan Abram mulai menghitung bintang itu satu persatu, sambil mata hatinya terus dipenuhi dengan janji Tuhan. Sama seperti kita, Abraham pun manusia yang punya akal. Sedikit banyak ia pasti bingung dengan apa yang dijanjikan Tuhan itu. Namun iman yang dimiliki Abraham menjadi faktor pembeda utama antara dirinya dengan kita yang masih bergumul untuk mampu mempercayai firman Tuhan. Dikatakan demikian: "Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." (ay 6). Tidak masuk akal, tapi ia mampu percaya sepenuhnya, hingga hal itu pun mendapat pengakuan dari Tuhan sebagai kebenaran. Wow. Iman. Itulah pembedanya. Tidak heran jika Abraham dikenal sebagai bapa orang beriman. Berkali-kali ia menghadapi ujian iman yang terus menerus ia menangi. Dan kita tahu yang terjadi kemudian, janji Tuhan itu menjadi kenyataan dalam hidupnya. Iman seperti itulah yang dapat kita contoh dari sosok Abraham, sebuah iman yang mampu meyakinkan kita bahkan terhadap hal yang paling mustahil sekalipun. Penulis Ibrani pun menggambarkan hal ini. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Itulah iman, yang mampu mendasari segala harapan kita dan mampu pula menjadi bukti sebelum kita bisa melihat kenyataannya secara riil. Jika sulit bagi anda saat ini untuk bisa mengamini firman Tuhan berlaku bagi kita, teruslah renungkan firman Tuhan. Luangkan waktu untuk membayangkan janji Tuhan itu, teruslah renungkan hingga image dari janji Tuhan itu secara perlahan terbentuk dalam diri anda sampai mencapai kepenuhan. Renungkan, renungkan dan renungkan terus, pusatkan perhatian kepada janji-janji Tuhan yang telah dinyatakan dalam Alkitab. Dan anda bisa memperolehnya tepat seperti apa yang telah dibuktikan Abraham dalam hidupnya. Tidak akan pernah sia-sia untuk merenungkan firman Tuhan, karena dikatakan bahwa orang "yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-2). Seperti Abraham menatap bintang dan mulai menghitung satu persatu sambil membentuk gambaran nyata dalam hatinya hingga jadi, demikian pula kita harus mulai mengambil waktu untuk merenungkan firman Tuhan, hingga gambaran janji Tuhan menjadi nyata di dalam diri kita. Pada saatnya, kita akan melihat bahwa tidak satupun janji Tuhan yang sia-sia, dan juga berlaku bagi kita tanpa terkecuali. Renungkan firman Tuhan dan bentuklah gambarannya dalam diri anda hingga mencapai kepenuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Thursday, April 15, 2010

Fw: renungan harian online

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


From: renungan harian online <secretmindnet@yahoo.com>
Date: Thu, 15 Apr 2010 01:17:57 +0000
To: <michaelsahertian@gmail.com>
Subject: renungan harian online

renungan harian online


Kerikil-Kerikil Tajam

Posted: 14 Apr 2010 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: 1 Raja Raja 19:4
=========================
"Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."

kerikil tajam, masalah kecilMemiliki sepatu dengan sol yang tidak berfungsi baik agaknya merepotkan di kala hujan. Dua sepatu yang saya miliki ternyata memiliki masalah dengan solnya, sehingga sepatu itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan cepat kaus kaki yang saya pakai basah, dan beberapa butir kerikil dan pasir basah pun masuk ke dalam sepatu, membuat saya tidak nyaman berjalan bahkan terganggu akibat butir-butiran pasir dan kerikil itu. Ukurannya kecil, tapi mampu membuat saya terganggu dalam melangkah. Jika dibiarkan berada di sana untuk waktu yang lama benda-benda kecil itu pasti akan mampu menimbulkan rasa sakit pada telapak kaki saya. Mengapa saya menyinggung soal ini? Karena seringkali kita bukan dikalahkan oleh masalah besar, namun justru oleh masalah yang kecil, yang mungkin datang tepat setelah kita mengalami sesuatu yang besar dari Tuhan.


Pernahkah anda mengalami masalah tepat setelah anda mengalami sesuatu yang besar? Saya kira ini pernah dialami oleh banyak orang. Saya baru saja mengalami hal tersebut, dan itu sangatlah tidak mudah. Ternyata manusia memang rentan dalam menghadapi masalah. Ketika masalah besar mampu teratasi dengan baik, meski dengan keajaiban luar biasa dari Tuhan yang mustahil bagi logika kita sekalipun, kita bisa setiap saat dijatuhkan oleh perkara-perkara yang relatif lebih kecil, yang datang setelahnya. Ketika kita mampu mengatasi batu-batu besar, kita malah tersandung dalam kerikil-kerikil yang kecil namun ternyata cukup tajam untuk melemahkan kita. Dalam beberapa kisah yang tercatat dalam Alkitab kita bisa mendapatkan contoh yang sama. Salah satunya adalah dalam kisah Elia.

Kurang apa hebatnya Elia? Dia dikenal sebagai "nabi api" yang mampu menurunkan api dari Surga. Pada kesempatan lain, ia juga mampu menurunkan hujan lewat doanya sehingga ia pun dikenal sebagai "nabi hujan". seperti yang bisa kita baca dalam Yakobus 5:17-18. Elia pernah dengan gemilang mengalahkan bukan satu, bukan dua, bukan tiga tapi tidak kurang dari 450 nabi Baal di atas gunung Karmel lewat penyertaan Tuhan. (bacalah 1 Raja Raja 18:20-46). Elia berhasil membuktikan bahwa Allah Abraham, Ishak dan Israel adalah Allah yang sesungguhnya. Begitu luar biasa, Elia telah mengalami langsung bagaimana penyertaan Tuhan mampu memberikan kemenangan demi kemenangan dalam perkara berat sekalipun. Namun ternyata Elia adalah manusia juga sama seperti kita yang bisa patah ketika mendapat tekanan, yang justru relatif lebih kecil dibanding apa yang telah mampu ia atasi sebelumnya.

Tepat ketika Izebel mendengar Elia menumpas semua nabi Baal, Izebel pun mengeluarkan ancaman terhadap Elia. "maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: "Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu." (1 Raja Raja 19:2). Jika mengalahkan 450 nabi Baal saja bisa, apalagi Tuhan langsung yang berperkara di sana, ancaman Izebel seharusnya tidak akan cukup untuk menakut-nakuti Elia. Itu logikanya. Namun yang terjadi, ternyata ancaman ini cukup efektif untuk melemahkan mentalnya. Elia ternyata ketakutan. (ay 3). "Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." (ay 4). Begitu takutnya hingga ia pun sampai putus asa bahkan ingin mati saja. Lihatlah bahwa hal seperti ini bisa terjadi pada seorang nabi yang diberkati secara luar biasa.

Dalam kesempatan lain kita mendapati kisah yang kurang lebih sama. Lihat bagaimana Tuhan menunjukkan kuasaNya meluputkan bangsa Israel dari kejaran tentara Firaun dengan membelah Laut Teberau, bangsa Israel sudah kembali putus asa ketika mereka sampai di Mara, sebuah tempat yang airnya pahit dan tidak dapat diminum. Lagi-lagi disini kita melihat bagaimana rentannya manusia menghadapi masalah. Baru saja mukjizat Tuhan turun secara luar biasa dalam masalah besar, bangsa Israel bisa patah akibat masalah yang relatif lebih kecil dibanding apa yang mereka alami sebelumnya.

Kedua kisah ini memberi pelajaran berharga bagi kita. Ketika kita mampu menghadapi masalah besar, berhati-hatilah dengan masalah-masalah yang cenderung kita anggap kecil. Kondisi-kondisi seperti ini selalu bisa dimanfaatkan iblis untuk merusak iman kita, membuat kita putus asa dan kehilangan harapan. Kita bisa dibuat seolah-olah begitu tertekan dan dengan segera melupakan bagaimana luar biasanya kuasa penyertaan Tuhan yang turun atas kita, melepaskan kita dari masalah besar di waktu sebelumnya. Agar tidak tergelincir seperti halnya Elia dan bangsa Israel waktu itu, kita harus terus mengingat bagaimana Tuhan mampu melepaskan kita dari kesesakan di waktu lalu. Jika dulu bisa, mengapa sekarang tidak? Firman Tuhan berkata "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4:13). Jika ini janji Tuhan, Allah yang setia, mengapa kita harus ragu? Memang, jika kita mengandalkan kekuatan sendiri yang terbatas ini maka tentu akan sulit, namun jangan lupa bahwa kita memiliki Allah yang kuasaNya tak terbatas. Secara indah Daud melukiskan ini seperti berikut: "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" (Mazmur 42:6, 42:12, 43:5).

Ada masa-masa dimana kita diserang lewat masalah kecil ketika baru saja mengalami keajaiban pertolongan Tuhan. Ada kalanya kita tersandung dalam situasi yang relatif lebih sederhana padahal kita baru saja memenangi pergumulan iman yang berat. Ada masa dimana kita mampu melompati batu besar namun kerikil tajam bisa melemahkan kita. Dalam situasi demikian, ingatlah bagaimana Tuhan melepaskan diri kita. Berhentilah panik, takut atau ragu, jangan putus asa dan kehilangan semangat serta harapan. Tapi tetaplah berdiri kuat, karena jika dahulu Tuhan sanggup, kali ini pun Dia pasti sanggup. Berhati-hatilah terhadap masalah yang kecil dan percayalah bahwa Tuhan selalu ada dan bisa melepaskan kita dari jerat masalah berukuran apapun.

"Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (Roma 8:31)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho