Wednesday, May 19, 2010

Fwd: renungan harian online


renungan harian online


Mengalahkan Raksasa

Posted: 18 May 2010 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: 1 Samuel 17:45
=========================
"Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu."

mengalahkan raksasaBetapa bersemangatnya tetangga saya menonton tinju di televisi pada suatu Minggu pagi. Bagi penggemar acara olah raga tinju, tentu momen jual beli pukul dalam sekian ronde tersebut akan sangat menarik. Apalagi jika ada yang sampai terjatuh, atau setidaknya jual beli pukulan itu dilakukan dalam intensitas tinggi. Ada berbagai kelas yang terdapat dalam tinju, mulai dari kelas bulu hingga kelas berat. Dan masing-masing petinju akan masuk ke dalam kelasnya masing-masing untuk bertanding memperebutkan juara agar pertandingannya seimbang. Artinya, tidaklah mungkin seorang petinju kelas bulu dilaga dengan petinju kelas berat. Ketika salah seorang petinju terpojok, tetangga saya pun berkata: "Lihat itu, menghadapi yang seukuran saja sulitnya bukan main, apalagi kalau menghadapi raksasa yang jauh lebih besar." "Masalah yang kita hadapi kadang jauh lebih besar dari kemampuan kita, kan?" katanya. Ia benar. Dalam hidup kita sering menghadapi raksasa-raksasa, yang jauh lebih besar dari diri kita. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari, tapi bukan berarti tidak bisa kita hadapi, dan tidak mungkin kita atasi.

Apa raksasa yang anda hadapi hari ini? Mungkin kegagalan, penyakit, kemelut rumah tangga, kesulitan keuangan atau kebiasaan buruk yang tidak pernah bisa dihilangkan, atau jenis-jenis kesusahan lainnya. Seringkali masalah-masalah ini menakutkan kita seperti halnya kita menghadapi raksasa yang secara logika tidak mampu kita atasi. Sehebat apapun usaha kita, masalah itu sepertinya tidak terkalahkan. Tapi sebenarnya alkitab berbicara banyak mengenai hal ini, dan ada sebuah kunci yang bisa menjadi senjata andalan kita dalam memenangkan pertarungan melawan raksasa-raksasa ini.

Mari kita lihat sejenak apa yang terjadi ketika Musa mengutus selusin pengintai untuk mengamati tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan, yang berlimpah susu dan madunya seperti yang tercatat dalam Bilangan 13. Setelah mengintai, 10 dari 12 orang itu merasa pesimis karena ternyata bangsa yang berdiam disana merupakan orang-orang raksasa. .."Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami." (ay 32-33). Secara logika tentu tidak mungkin seekor belalang mampu melawan raksasa yang jauh lebih besar bukan? Lalu mari kita pindah ke jaman Daud muda. Ketika itu, bangsa Israel pun menghadapi raksasa. Tidak main-main, di antara para prajurit Filistin ada seorang raksasa berukuran enam hasta sejengkal (kira-kira 3 meter) yang juga membuat para prajurit Israel ketakutan. Yang lain boleh takut, tapi tidak bagi Daud. Daud sepertinya adalah orang terkecil disana, yang bahkan tidak diikutsertakan dalam barisan. Tapi lihatlah ia tampil dengan penuh keyakinan untuk menghadapi seorang raksasa yang jauh lebih besar dari dirinya.

Para pengintai di masa Musa dan para prajurit Israel di jaman Daud muda sama-sama melihat raksasa. 10 dari 12 pengintai berpendapat sama dengan prajurit-prajurit Israel. Mereka sudah kalah sebelum bertempur. Tapi tidaklah demikian bagi Daud. Dan ini menjadi kunci utama bagaimana agar bisa menang menghadapi raksasa. Perhatikan apa kata Daud. "Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu." ( 1 Samuel 17:45). Kita bisa melihat bahwa Daud mampu yakin menang menghadapi raksasa yang berukuran jauh lebih besar darinya karena ia tahu pasti bahwa Tuhan ada bersamanya. Jika Tuhan ada bersamanya, maka tidak ada raksasa apapun, sebesar apapun, yang akan sanggup melawan. Pekerjaannya sebagai penggembala kambing dan domba sepertinya ringan, namun ternyata dalam pekerjaan itupun Daud sering menghadapi bahaya yang jauh lebih besar dari kemampuannya. Tapi lihatlah bahwa Daud sadar betul penyertaan Tuhan sanggup membuat perbedaan. Daud berkata: "Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup." (ay 36). Apakah karena kekuatan Daud sendiri? Tidak. Daud tahu bahwa semua itu mungkin ia lakukan karena ada penyertaan Tuhan dalam hidupnya. "Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." (ay 37). Dan kita tahu bagaimana akhir dari cerita itu. Daud sukses mengalahkan Goliat, seorang raksasa, dan kuncinya adalah penyertaan Tuhan.

Ada banyak raksasa yang harus kita hadapi dalam hidup ini, yang seringkali membuat kita takut dan menyerah sebelum mulai melakukan sesuatu. Ingatlah bahwa kita memiliki senjata andalan untuk menghadapi itu semua. Tuhan menyertai Daud, dan Daud mampu mengalahkan raksasa. Hal yang sama pun bisa terjadi bagi kita. Sekali lagi, kuncinya adalah penyertaan Tuhan yang jauh lebih besar kuasanya dari apapun juga di dalam hidup kita. Yesus mengatakan "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20a). Dan lewat Kristus kita pun telah dianugerahi Roh Kudus yang akan selalu menyertai kita. "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya" (Yohanes 14:16). Ada Tuhan yang selalu bersama dengan kita, dan itu akan memampukan kita untuk menghadapi raksasa-raksasa dalam hidup kita.

Apapun raksasa yang anda hadapi hari ini, apakah itu beban masalah, konflik keluarga, kegagalan, masalah keuangan atau kebiasaan buruk yang sulit dilepaskan dan sebagainya, percayalah anda mampu menghadapi itu semua. Bukan dengan kuat dan gagah diri sendiri, tetapi dengan adanya penyertaan Tuhan. Firman Tuhan jelas berkata "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." (Lukas 1:37). Atau dalam bahasa Inggrisnya dikatakan lebih jelas lagi: "For WITH GOD nothing is ever impossible and no word from God shall be without power or impossible of fulfillment." Perhatikan kata "WITH GOD", alias "DENGAN ALLAH". Tidak ada yang mustahil jika kita bersama dengan Tuhan, termasuk menundukkan raksasa-raksasa yang tengah mempersulit hidup anda. Jangan biarkan raksasa manapun menakut-nakuti diri anda. Tuhan menjanjikan kemenangan, dan jangan biarkan siapapun merampas kemenangan itu dari diri anda. Raksasa mana yang saat ini menguasai diri anda? Kalahkanlah raksasa itu hari ini juga.

Tidak ada raksasa yang mampu mengalahkan kita jika kita berjalan bersama dengan Tuhan
You are subscribed to email updates from renungan harian online
To stop receiving these emails, you may unsubscribe now.
Email delivery powered by Google
Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Tuesday, May 18, 2010

"Aku berdoa supaya tidak menangis"

Gw dpt ini dari blog seseorang yg gw sendiri dah lupa alamat blog nya apa, semoga renungan ini bisa menguatkan siapa saja yang membaca dan kita semua diingatkan utk selalu berpengharapan kepada Tuhan.

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap
mobil mainan yang dimiliki.. Semuanya buatan sendiri,sebab memang begitulah

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya
sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan.
Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah di antaranya. Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa.

Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!". Dor!!! Tanda telah dimulai.
Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat… Semua mobil tu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.

"Ayo..ayo… cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka.
Ahha…sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai.
Dan…
Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya.
"Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?"
Mark terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Mark.
Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain, aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah."

Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua.
Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian.
Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya.
Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya.

Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata.

Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat.
Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah.

Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian.
Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu ujian tersebut.

Amin….


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Friday, May 14, 2010

A Self Reflection - PART I

Impian vs Mimpi

Pekerjaan saya membuat saya berhubungan dengan banyak orang dan akhirnya membuat saya mempunyai kesempatan untuk mengenal karakter dari masing – masing orang. Setiap kali saya akan memulai suatu training (kepada klien maupun kepada karyawan baru) atau presentasi kepada calon customer saya, biasanya saya selalu bertanya kepada mereka tentang kondisi mereka saat ini dan bandingkan dengan beberapa tahun kebelakang lalu tanyakan pada diri sendiri apakah kondisi kita saat ini lebih baik, tidak ada perubahan atau bahkan mengalami kemunduran. Jawabannya ber variasi rata – rata menyatakan mereka lebih baik, tetapi ada juga yang tidak mengalami perubahan dan sedikit sekali yang mengalami kemunduran. Setelah itu, saya tanyakan impian mereka, apa yang mereka bayangkan untuk masa depan mereka, akan menjadi lebih baik ? Mau tetap berjalan di tempat ? Atau malah mundur ? Untuk yang satu ini semua orang rata – rata pasti menjawab bahwa mereka ingin lebih baik daripada saat ini.

Tetapi yang lucunya, walaupun rata – rata orang menginginkan perubahan kearah yang lebih baik, rata – rata orang yang saya tanyakan hal tersebut diatas tidak dapat menggambarkan atau memberikan penjelasan yang lebih detail tentang arti menjadi lebih baik tersebut. Temans, inilah sebenarnya inti dari masalah kita termasuk saya sendiri dalam hal ini, kadang lupa untuk bisa menentukan arah yang pasti untuk kita tuju. Ini sama saja seperti naik ke dalam mobil lalu mengendarai mobil tersebut tanpa tujuan sampai akhirnya kita kehabisan bahan bakar. Atau … ada juga beberapa orang yang tahu dengan jelas mau menuju kemana tetapi lupa untuk menggambar peta dan akhirnya terjebak pada jalan – jalan setapak yang mereka pikir bisa membawa mereka lebih cepat (mereka pikir adalah jalan pintas) yang pada kenyataannya justru menghambat perjalanan mereka dan yang lebih celaka nya lagi malah membuat mereka tidak bisa mencapai tujuan mereka. Orang – orang tipe ini sebenarnya merupakan orang – orang yang saya bilang mereka hanya "BERMIMPI" untuk bisa berhasil.

Di sisi lain, saya juga bertemu dengan beberapa orang yang DENGAN TEGAS bisa menyebutkan apa yang mereka mau capai, berapa lama hal tersebut dapat mereka capai, dan apa yang akan mereka lakukan jika hal tersebut tidak berhasil mereka dapatkan. Segelintir orang ini biasanya berhasil mendapatkan apa yang mereka mau, kenapa ? Karena mereka TAHU DAN MAU MENGEJAR IMPIAN mereka.

Naaaaahhh … setelah saya berpanjang lebar menjabarkan hal ini, teman – teman pasti sekarang sudah mengerti dong apa bedanya Impian dengan mimpi ? Sekarang pertanyaanya teman – teman mau menjadi yang mana ? Yang mempunyai impian atau yang hanya bermimpi ? sedikit panduan bagi teman – teman dalam mengejar impian. Sebuah impian itu harus :
1. Bisa dihitung (bisa dalam bentuk nominal misalnya : saya mau mempunyai penghasilan sebesar Rp. 10.000.000 per bulan)
2. Mempunyai target berapa lama impian itu harus dapat dicapai (misalnya : saya mau mempunyai rumah senilai 1 M dalam jangka waktu 5 tahun) karena dengan begitu kita bisa menentukan rencana jangka pendeknya.
3. Harus masuk akal, memang tidak ada yang mustahil, tetapi jika kita seorang sarjana ekonomi tetapi memiliki keinginan untuk menjadi seorang penemu di bidang fisika hal itu merupakan yang mustahil bukan ?
4. Jangan pernah lupa dengan hal yang satu ini …. "Menyerahkan segala sesuatunya ke dalam tangan Tuhan" Yakin dan percayalah bahwa Tuhan pasti akan menyertai setiap langkah kita jika kita benar – benar berserah kepadaNya.
5. Fokus pada tujuan, kadang hal – hal kecil ataupun godaan – godaan kecil bisa membuat kita goyah dari tujuan kita.

Semoga apa yang saya tulis ini bisa menjadi berkat bagi teman – teman semua. Dan akhir kata saya mau bilang "Mari kita kejar impian kita bersama – sama dan menjadi orang yang berhasil dibidang yang kita inginkan"

"Nothing is impossible with God"


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Tuesday, May 11, 2010

Fwd: renungan harian online

Elang dan Lebah

Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ======================
"Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku."

Hari ini istri saya mendapatkan sebuah fakta menarik yang dikirimkan temannya lewat email mengenai burung elang dan lebah. Jika seekor burung elang dikandangkan dalam ukurang sangkar berukuran 2 x 2.5 m, meski atap sangkarnya dibuka, burung elang itu tidak akan bisa terbang. Ternyata burung elang membutuhkan landasan pacu untuk berlari terlebih dahulu sekitar 3 sampai 3.5 m untuk bisa melayang ke angkasa. Di sisi lain, seekor lebah yang terjatuh ke dalam segelas kopi tidak akan bisa kembali terbang pula, karena seekor lebah akan sibuk berputar ke sekeliling gelas sampai mati. Lebah tidak pernah melihat jalan keluar pada bagian atasnya, tetapi hanya akan berusaha mencari jalan keluar lewat pinggiran gelas. Padahal jalan keluar tidak ada di sana, semua jalan tertutup, dan dengan ketidaksadaran lebah untuk melihat jalan keluar di atas, lebah itu pun akan menemui ajalnya. Ini kisah menarik yang seringkali terjadi pada diri kita. Seperti halnya elang dan lebah di atas, kita sering lupa bahwa ada Tuhan di atas segalanya yang sanggup memberikan jawaban, jalan keluar atau pertolongan, tidak peduli seberat apapun masalah yang kita hadapi. Tapi sama seperti lebah di atas, kita seringkali hanya berputar-putar mencari cara untuk melepaskan diri kita dari masalah, terus mengandalkan kekuatan sendiri saja, atau berharap pada manusia lain, bahkan terjerumus ke dalam alternatif-alternatif yang padahal dianggap jahat di mata Tuhan. Dengan kata lain, kita sibuk mencari solusi dengan cara-cara duniawi dan lupa memandang Allah Surgawi kita. Kita sibuk memfokuskan diri kepada masalah lalu lupa kepada Allah yang sanggup menjadi jawaban atas segala keadaan kita hari ini.  Yusuf pernah secara langsung mengalami situasi seperti burung elang di atas ketika ia dijerumuskan ke dalam sumur sempit yang gelap oleh saudara-saudara kandungnya sendiri. "Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair." (Kejadian 37:24). Tidak ada catatan bahwa Yusuf berteriak-teriak ketakutan, memohon belas kasih saudara-saudaranya. Tidak ada catatan bahwa Yusuf merasa panik meski tidak ada yang tahu berapa lama ia akan dibiarkan dalam sumur itu. Jika kita berada dalam situasi seperti itu, mungkin kita akan berpikir bahwa itulah akhir dari hidup kita. Mati pelan-pelan tersiksa disana. Tapi tidak bagi Yusuf. Ia masih melihat cahaya terang dari atas. Dan selama ia masih melihat ada "Terang" dari atas, itu artinya pengharapannya belumlah habis. Masih ada Tuhan, di atas sana, yang sanggup melepaskan dirinya. Mungkin bukan saat itu juga, tapi pada waktunya Tuhan pasti mengangkatnya dan membawanya ke dalam keberhasilan-keberhasilan yang gemilang. Saya yakin itu memenuhi pikiran dan hati Yusuf, karenanya ia tidak pernah bersungut-sungut dan mengeluh meski setelah lepas dari sumur ia masih harus mengalami berbagai penderitaan beberapa tahun lamanya. Jika hari ini anda berada dalam lautan masalah dan merasa terus berputar-putar tanpa hasil yang jelas dengan mengandalkan kekuatan anda sendiri, ini saatnya anda mulai melihat ke atas. Pandanglah Tuhan dan serahkan segala beban anda kepadaNya. Percayalah dengan kesungguhan penuh bahwa Tuhan jauh lebih dari sekedar sanggup untuk membantu anda keluar dari masalah. Tuhan selalu ada beserta anak-anakNya, bahkan dalam kegelapan yang tergelap sekalipun. Daud juga merupakan orang yang mengalami banyak pergumulan hidup sejak masa kecilnya. Tapi lihatlah bagaimana keteguhan hatinya untuk percaya kepada penyertaan Tuhan. "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4). Daripada fokus kepada masalah, yang seringkali tidak membawa keuntungan apapun bagi kita malah akan memberatkan langkah kita lebih dan lebih lagi, mengapa tidak melakukan perubahan dengan memandang ke atas dan mengandalkan Tuhan, yang jauh lebih berkuasa dari apapun juga? Tuhan tidak menginginkan kita menjadi burung elang yang terperangkap dalam sangkar sempit dan tidak bisa terbang meski dengan atap terbuka sekalipun. Dengan penyertaannya, kita dijanjikan seperti ini: "tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." (Yesaya 40:31). Tuhan pun tidak ingin kita seperti lebah yang terus mencari solusi ke kiri dan kanan, berputar-putar tanpa arah dan tujuan, lalu lupa untuk melihat jalan keluar sebenarnya terbentang di atas kita. Firman Tuhan pun berkata: "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7). Bagi orang yang mengandalkan Tuhan, "Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah." (ay 8). Firman yang tepat sama pun hadir lewat Daud. "Berbahagialah orang yang...kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Ketika anda merasa kesulitan dan menderita akibat berbagai masalah yang membebani hidup anda, ingatlah bahwa di atas sana ada Tuhan yang peduli dan mengasihi kita dengan sepenuhnya. Tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk diatasi olehNya. Dan selama kita hidup mengandalkan Tuhan, selama kita berjalan bersamaNya, mengapa kita harus khawatir? Kita bisa belajar dari ketidaksadaran yang dilakukan lebah dan elang di atas agar kita tidak harus berakhir dengan cara yang sama. Solusi selalu ada dalam Tuhan, yang akan selalu menyertai kita dengan kasihNya yang luar biasa meski kita berada dalam lembah kekelaman sekalipun. Ketika sekeliling anda gelap, arahkanlah pandangan pada terang di atas anda You are subscribed to email updates from renungan harian online To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. Email delivery powered by Google Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Monday, May 10, 2010

Fwd: renungan harian online

Sumber: renungan harian online

Every Man For Himself

Ayat bacaan:Yohanes 5:7 ====================== "Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."

"Sumbangan lagi, sumbangan lagi... nanti dulu deh, untuk beli mobil saja belum cukup.." kata seseorang pada suatu kali ketika melihat peminta sumbangan tengah berada tidak jauh darinya. Ia mungkin hanya bercanda, tetapi itu adalah gambaran sebagian besar orang yang selalu merasa kekurangan dan tidak pernah merasa cukup. Kita cenderung menimbun dan menimbun dan merasa rugi untuk menabur. Bahkan perpuluhan pun menjadi perdebatan, apakah harus tepat 10% atau serelanya. Begitu banyak masalah di sekitar kita, begitu banyak orang yang butuh bantuan di sekeliling kita, itu faktanya. Padahal seandainya saja orang-orang percaya mengikuti apa yang disuarakan Kristus mengenai saling tolong menolong, sekiranya kita mengimani betul bagaimana kasih Allah, maka rasanya jumlah orang yang menderita bisa menurun dengan sangat drastis. Dalam hal kerohanian pun begitu. Kita semua ingin selamat, tidak satupun dari kita yang ingin berakhir dalam penyesalan kekal, namun berapa banyak di antara kita yang peduli kepada nasib begitu banyak saudara-saudara kita lainnya? Every man for himself, yang penting kita selamat. Itu pola pikir dunia yang sayangnya banyak pula dianut oleh orang-orang percaya. Dan itu bukanlah sebuah sikap yang diinginkan oleh Tuhan dari anak-anakNya. Mari kita lihat lagi kisah kedatangan Yesus ke kolam Betesda dalam Yohanes 5:1-18. Kolam Betesda adalah tempat dimana orang-orang sakit bisa berharap untuk disembuhkan. Ada malaikat-malaikat yang muncul sewaktu-waktu di sana, dan begitu air diguncangkan oleh para malaikat itu, maka orang sakit yang pertama kali masuk menceburkan diri ke kolam akan sembuh, apapun penyakitnya. Tidaklah heran jika ada begitu banyak orang sakit berada di setiap serambi atau koridor yang menuju ke kolam. Jika kemarin yang saya angkat menjadi tulisan adalah kepedulian Yesus terhadap orang-orang berdosa, maka hari ini mari kita lihat bagaimana sifat mementingkan diri sendiri sudah berlangsung sejak dahulu kala. Ketika itu ada seorang yang sudah mengalami sakit selam 38 tahun lamanya (ay 5) dan Yesus pun hadir menemuinya seraya bertanya, "Maukah engkau sembuh?" (ay 6). Lihatlah bagaimana jawaban orang tersebut: "Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." (ay 7). Seperti itulah manusia pada umumnya, yang hanya peduli kepada keselamatan diri sendiri tanpa mau memikirkan orang lain. Apa yang terjadi jika ada yang sembuh? Sepertinya mereka akan langsung pulang tanpa mempedulikan orang lain yang menderita disana. Mengapa tidak bergantian saja? Karena seperti itulah gambaran sifat banyak orang, hanya mementingkan dirinya sendiri. Every man for himself. Hal seperti itu tidaklah diinginkan oleh Tuhan. Kita diselamatkan untuk menyelamatkan. Karena itulah Yesus sendiri memberi Amanat Agung yang bisa kita baca dalam Matius 28:18-20. Sikap mementingkan diri sendiri tidaklah menggambarkan pribadi Allah sama sekali, dan itu pun tidak sesuai dengan perintah agar kita bisa menjadi terang dan garam di dunia ini. Jika kita melihat bagaimana cara hidup jemaat mula-mula seperti yang tertulis dalam kitab Kisah Para Rasul, kita akan melihat sendiri betapa cara hidup kita saat ini begitu jauh melenceng dari sikap mereka. Jemaat mula-mula memiliki kepedulian yang besar terhadap saudara-saudara mereka. Alkitab menyatakannya seperti ini: "Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing." (Kisah Para Rasul 2:44-45). Dan hal ini kemudian diulangi lagi dalam Pasal berikutnya. "Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama" (4:32). Tidak heran jika dikatakan "tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka" (ay 34), dan dengan demikian Tuhan berkenan dan terus menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (2:47). Bayangkan jika semua orang percaya memiliki sikap seperti itu, saya yakin kita akan melihat kebangunan rohani dan pemulihan secara besar-besaran di dunia ini. Selama sikap mementingkan diri sendiri masih menjadi bagian dalam hidup kita, maka jangan berharap kita mampu melihat hal tersebut. Yesus sendiri menginginkan kita untuk mengasihi sesama kita seperti halnya Dia sendiri mengasihi kita. (Yohanes 13:34). Hanya dengan cara itulah kita mampu memenuhi hukum Kristus. Paulus mengingatkan kita: "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2). Yohanes pun mengingatkan hal yang sama: "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17). Ya, bagaimana kita bisa mengaku sebagai anak-anak Allah yang memiliki kasih Allah dalam diri kita jika kita masih berhitung untung rugi dalam membantu sesama kita? Bagaimana kita bisa memproklamirkan diri sebagai pengikut Kristus jika kita masih tega berdiam diri melihat orang-orang yang ditimpa kesulitan? Itu bukan gambaran anak-anak Tuhan seperti yang Dia kehendaki. Oleh karena itu, mari kita hari ini lebih peka terhadap kesulitan saudara-saudara kita, tanpa memandang siapa mereka dan dari mana mereka berasal. Ingatlah bahwa Tuhan mengasihi mereka semua, sama seperti Tuhan mengasihi kita, dan kita diminta untuk mau berempati dan menolong mereka sebesar-besar kemampuan kita. Perhatikan sekeliling anda, adakah orang yang tengah kesulitan? Jika ada, mengapa tidak mulai mengulurkan tangan dan menyampaikan kasih Kristus kepada mereka saat ini juga? Tuhan mencukupi bahkan memberi kelimpahan kepada kita, pakailah itu untuk memberkati sesama You are subscribed to email updates from renungan harian online To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. Email delivery powered by Google Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Friday, May 7, 2010

Fwd: renungan harian online

Sumber: renungan harian online

Ujian Kesabaran

Ayat bacaan: Kejadian 40:23 ========================

"Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya."

Pernahkah anda merasa kesal ketika apa yang anda katakan dilupakan orang? Bagi saya itu seperti sebuah ujian kesabaran. Sebagai pengajar seringkali saya merasa kesal ketika siswa-siswi saya lupa terhadap apa yang sudah saya ajarkan. Padahal saya sudah mengulang-ulang pelajaran agar diingat, dan seharusnya mereka bisa mencatat dan kemudian membaca kembali sebelum pelajaran berlangsung. Tidak jarang pula mereka sudah lupa padahal baru saja saya katakan. Atau ketika mereka mengaku lupa mengerjakan tugas, atau malah ketika mereka lupa ada jadwal kuliah. Merasa kesal ketika menghadapi kelupaan seseorang adalah hal yang kita alami sehari-hari. Anggaplah itu sebuah ujian kesabaran, karena kita sendiri yang repot jika kita terus membiarkan diri kita dikuasai kekesalan. Mari kita lihat sebuah contoh mengenai kelupaan yang jauh lebih buruk dari yang biasa kita alami dalam Alkitab melalui kisah Yusuf. Ketika Yusuf berada dalam penjara, Yusuf mengartikan mimpi dari seorang kepala juru minum dan juru roti yang sama-sama sedang dipenjara bersamanya. Mimpi itu mengarah kepada kebebasan juru minum dan kematian juru roti tu dalam waktu 3 hari. Yusuf pun berpesan kepada sang juru minuman seperti ini: "Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini." (Kejadian 40:14). Tepat seperti yang diartikan Yusuf, 3 hari kemudian semua itu terjadi. Sang Juru minuman yang telah bebas seharusnya mengingat Yusuf dan mengupayakan dengan serius agar Yusuf pun bisa menghirup udara kebebasan lagi. Tapi apa yang terjadi? Ia melupakan Yusuf. Alkitab mencatatnya demikian: "Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya." (ay 23). Bayangkan seandainya kita di posisi Yusuf, tidakkah kita akan kesal? Ini bukan berbicara mengenai satu-dua hari, tetapi dalam Alkitab kita mengetahui bahwa Yusuf dilupakan selama dua tahun! (41:1). Artinya Yusuf harus mengurut dada dan bersabar selama itu, dan selama masa penantian itu dia tidak tahu kapan ia akan mendapatkan kebebasannya. Hanya menanti dan terus menanti, berharap dan terus berharap. Setelah 2 tahun, akhirnya juru minuman itu mengatakan kepada Firaun mengenai Yusuf (ay 9) dan Yusuf pun mendapatkan kembali kebebasannya. Apa yang dialami Yusuf adalah sebuah contoh ekstrim bagaimana kita harus bersabar menghadapi kelupaan seseorang. Dua tahun menanti tanpa kepastian dalam penjara yang gelap dan pengap, itu tentu berat bukan? Belum lagi rasa kecewa atau sakit hati yang mungkin timbul karena merasa dilupakan atau malah dikhianati. Tapi Yusuf tampaknya tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh emosi atau dendam seperti itu. Yusuf juga tidak membiarkan dirinya menyerah dalam keputus-asaan. Apa yang menjadi kunci dari kesabaran Yusuf mengalami berbagai masalah adalah penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Kita bisa melihat hal itu dalam beberapa ayat, seperti "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya.."(39:2) atau "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu." (ay 21). Yusuf menyadari betul bahwa dalam proses yang tidak mengenakkan sekalipun, Tuhan ada besertanya, dan itu lebih dari cukup untuk membuatnya bisa bersabar menghadapi masalah. Tidak saja Yusuf yang menyadari, tetapi penyertaan Tuhan itu pun dapat dirasakan oleh orang-orang yang berhadapan dengannya. "Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya..." (ay 3-4a). Firaun sekalipun bisa merasakan bahwa Yusuf adalah "seorang yang penuh dengan Roh Allah." (41:38). Itu kunci dari sikap Yusuf agar bisa terus bersabar, karena jelas jika ia mengandalkan kemampuan dirinya sendiri untuk bersabar hanyalah akan sia-sia saja. Bagaimana dengan kita? Apakah kita tengah diuji menghadapi batas-batas kesabaran kita saat ini? Apakah situasi sudah membuat anda kesal dan tertekan hingga mulai kehilangan kesabaran? Apakah orang-orang disekitar anda saat ini tengah mencoba menguji kesabaran anda? Ini saatnya untuk melihat kisah Yusuf. Seperti halnya Yusuf, Tuhan pun telah berjanji bahwa Dia akan selalu menyertai kita pula. "..Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5). Sadarilah bahwa dalam kondisi tidak mengenakkan sekalipun sesungguhnya Tuhan ada bersama kita. Let's check our resource, find Him in our hearts, and feel that He actually IS with us all the time. Dan kesabaran kita tidak akan pernah sia-sia. Jika anda merasa tidak bisa sabar lagi hari-hari ini, bersandarlah pada Tuhan yang selalu ada bersama diri anda. Jangan pernah ragukan kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup anda, sehingga anda tidak perlu lagi tertekan oleh kekesalan. Bersabarlah menunggu waktu Tuhan, dan pegang terus dengan keyakinan teguh bahwa Tuhan mengasihi dan menyertai anda. Let's fight our impatience with trusting Him! "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12) You are subscribed to email updates from renungan harian online To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. Email delivery powered by Google Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Wednesday, May 5, 2010

Fwd: renungan harian online

Sumber: renungan harian online

Ingat Selalu Akan Tuhan

Ayat bacaan: Ibrani 12:3 =====================

"Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa."

Tidak gampang untuk berjuang, berusaha lebih baik lagi dalam segala hal dari hari ke hari. Ada banyak orang yang memotivasi dirinya dengan mengingat orang-orang yang mereka kasihi, atau yang sudah berjasa dan berkorban bagi mereka. Tidak jarang teman-teman saya yang berasal dari perantauan membawa foto orang tuanya kemanapun mereka pergi agar mereka tetap memiliki fokus dan tujuan. Ada kalanya keletihan akibat beratnya beban kerja atau beban hidup membuat semangat kita lemah bahkan akhirnya menyerah dalam keputus-asaan. Ada saat-saat tertentu dimana saya merasa sangat lelah dan jenuh, tetapi membayangkan senyum istri saya akan membuat saya kembali bergairah untuk mengerjakan yang terbaik dalam apapun yang sedang saya lakukan. Mengingat orang-orang yang kita kasihi atau mereka yang telah berjasa dalam hidup kita biasanya mampu membuat kita kembali bersemangat. Jika mereka ini saja sudah mampu mengembalikan semangat kita, apalagi Tuhan. Itulah sebabnya kita diajak untuk selalu mengingat Tuhan dalam tiap langkah, terutama ketika kita sedang didera keletihan akibat beban berat yang bisa melemahkan dan membuat kita putus asa. Setelah dalam beberapa hari terakhir kita melihat hal-hal penting yang patut diingat dalam menjalani perlombaan iman, hari ini kita melihat sebuah lagi pesan penting yang tertulis dalam kitab Ibrani. Melepaskan beban dan dosa yang memberatkan kita, ketekunan, dan fokus kepada Kristus seperti yang tertulis dalam Ibrani 12:1-2, hari ini kita melihat ayat selanjutnya. "Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa." (Ibrani 12:3). Ini merupakan tips berikutnya yang perlu kita ingat agar kita mampu keluar sebagai pemenang dalam perlombaan yang sudah diwajibkan bagi kita semua selama hidup masih berlangsung. Jika kita membaca di Alkitab, ada begitu banyak tokoh yang pengalaman hidupnya begitu mencengangkan, bukan karena kehebatan mereka tetapi karena pertolongan Tuhan. Lihatlah sebuah contoh, misalnya Daud. Ketika Goliat mencemooh barisan tentara Israel dan membuat mereka dicekam ketakutan dan kebimbangan, Daud yang masih sangat muda tampil dengan penuh keyakinan di medan pertempuran. Apa yang membuat Daud berani dan yakin menang dalam menghadapi musuh yang jauh lebih besar dengan atribut perang lengkap? Kita bisa membaca dengan jelas tentang apa yang ada di benak Daud saat itu. "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya." (1 Samuel 17:34-35). Pengalaman pribadi Daud bersama penyertaan Tuhan setiap kali ia menggembalakan domba telah membuat imannya terus bertumbuh. Ia terbentuk menjadi seseorang yang tahu betul bagaimana luar biasanya jika Tuhan ada bersamanya. Daud melanjutkan: "Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup." (ay 36). Bagi Daud, Goliat si raksasa tidaklah lebih dari hewan buas yang setiap hari ia hadapi. Dan dari pengalamannya, Daud mampu mengambil sebuah kesimpulan: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." (1 Samuel 17:37). Perhatikan, Daud tidak takut dan tidak ragu menghadapi Goliat bukan karena ia ahli perang, bukan karena ia memiliki senjata rahasia mematikan, namun ia bisa demikian karena ia mengingat bagaimana luar biasanya penyertaan Tuhan sepanjang hidupnya. That's the faith, dan kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ketika Daud mengingat Tuhan dan penyertaanNya, ia pun menjadi tidak takut dan kemudian berani menghadapi tantangan yang begitu besar. Keyakinan Daud yang didasarkan kepada pengalamanNya bersama Tuhan membuatnya berhasil mengalahkan Goliat hanya dengan bersenjatakan umban dan batu. Masalah boleh saja datang. Besar atau kecil, itu bukan soal. Apa yang menjadi soal adalah apakah kita mau terus mengingat Tuhan atau kita malah melupakanNya dan memilih untuk fokus terhadap permasalahan-permasalahan yang ada. Demikian pula dalam perjalanan hidup kita, yang bagaikan mengikuti perlombaan, akan selalu ada banyak masalah, beban, tekanan dan kesulitan hidup yang terus datang silih berganti. Semua itu tidak bisa kita hindari. Tapi kita tidak perlu takut jika kita selalu ingat akan Tuhan. Jika Tuhan pernah melepaskan kita dari masalah di masa lalu, kenapa kali ini Dia tidak sanggup? Kalaupun anda belum pernah mengalami mukjizat Tuhan turun secara luar biasa, di sepanjang Alkitab kita bisa menemukan begitu banyak contoh mengenai keajaiban melawan logika manusia yang terjadi pada para tokoh. Tadi kita sudah menyinggung pengalaman Daud. Ingatkah anda bagaimana Sadrakh, Mesakh dan Abednego selamat dari perapian menyala-nyala, dan Daniel selamat dalam gua singa? Atau ingatkah anda bagaimana Tuhan menyelamatkan bangsa Israel dari kejaran Firaun dan pasukannya dengan membelah Laut Teberau dalam Keluaran 14:15-31? Ada begitu banyak lagi contoh-contoh lainnya mengenai bagaimana penyertaan Tuhan mampu membuat perbedaan, bahkan yang tidak terpikirkan sekalipun sanggup Dia lakukan dan itu sudah terbukti berkali-kali. Jika dahulu Dia sanggup melakukan itu, mengapa sekarang tidak? Jika bagi mereka itu terbukti, mengapa tidak bagi anda dan saya? Beban dan masalah akan selalu hadir sepanjang hidup kita. Tapi dengan mengingat Tuhan senantiasa kita pun akan mampu terhindar dari kelemahan dan keputus-asaan. Kepada bangsa Israel, Musa pun mengingatkan hal yang sama. "Jika sekiranya engkau berkata dalam hatimu: Bangsa-bangsa ini lebih banyak dari padaku, bagaimanakah aku dapat menghalaukan mereka? maka janganlah engkau takut kepada mereka; ingatlah selalu apa yang dilakukan TUHAN, Allahmu, terhadap Firaun dan seluruh Mesir,yakni cobaan-cobaan besar, yang kaulihat dengan matamu sendiri, tanda-tanda dan mujizat-mujizat, tangan yang kuat dan lengan yang teracung, yang dipakai TUHAN, Allahmu, untuk membawa engkau keluar. Demikianlah juga akan dilakukan TUHAN, Allahmu, terhadap segala bangsa yang engkau takuti." (Ulangan 7:17-19). Jangan fokus kepada masalah dan kemudian melupakan Tuhan, tetapi sebaliknya ingatlah selalu akan Dia, yang sudah berjanji akan selalu menyertai kita. Bukan hanya untuk saat ini saja, tetapi dikatakan sampai akhir zaman. Artinya Tuhan menyatakan bahwa kita tidak akan pernah dibiarkan sendirian, dan penyertaanNya akan selalu mampu membuat perbedaan. Jika demikian, mengapa kita harus takut? Dan itu akan membuat kita mampu menyelesaikan perlombaan hingga keluar menjadi pemenang. Berbagai langkah telah jelas dinyatakan lewat Firman Tuhan. Tuhan tidak sekedar menyuruh kita berlomba dan membiarkan kita, tetapi Dia telah menyediakan langkah-langkah yang jika kita lakukan akan mampu membawa kita berhasil dalam menyelesaikan perlombaan. Siapkah anda memenangkan perlombaan? Sekali lagi, untuk menang kita harus membuang beban dan dosa yang merintangi kita, senantiasa bertekun, fokus dengan mata yang tertuju pada Kristus dan jangan pernah melupakanNya. Semua ini akan mampu membawa kita meraih mahkota kehidupan seperti yang telah dijanjikan Tuhan di depan sana. Mari kita selesaikan sisa perlombaan ini dan keluar sebagai pemenang. Ingatlah selalu akan Tuhan agar kita tidak menjadi lemah dan menyerah putus asa You are subscribed to email updates from renungan harian online To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. Email delivery powered by Google Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Tuesday, May 4, 2010

Fwd: renungan harian online

Sumber : renungan harian online

Fokus Pada Yesus

Ayat bacaan: Ibrani 12:2 =====================

"Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah."

Saya teringat sebuah iklan yang cukup kocak, menggambarkan seorang pemain bola yang sedang bermain tiba-tiba meninggalkan lapangan dan lari menuju ke toilet karena sakit perut. Fokusnya seketika menjadi berubah dari bertanding menjadi melegakan sakitnya. Bayangkan pula jika seorang pelari yang tengah fokus mengarah pada garis finish tiba-tiba berbelok arah untuk membeli minum, atau tiba-tiba berhenti dan duduk karena capai. Pemandangan-pemandangan seperti ini tentu hampir tidak mungkin kita lihat ketika menonton perlombaan lari di lapangan. Fokus yang melenceng atau fokus yang lemah, yang bisa berubah-ubah arah akan membuat kita gagal. Dalam dunia olah raga seperti itu, dalam dunia bisnis seperti itu, dalam hal apapun di dunia akan sama, apalagi dalam menjalani perlombaan menuju kemenangan dalam Kerajaan Allah. Sebuah fokus sungguhlah penting, karena tanpa fokus yang jelas dan kuat kita tidak akan pernah bisa mencapai apa-apa. Setelah dua hari kemarin kita melihat ayat "Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita." (Ibrani 12:1) yang berisi langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk memenangkan perlombaan iman, yaitu melepaskan beban dan dosa kemudian bertekun, hari ini kita melihat hal lainnya yang penting untuk kita cermati dalam ayat berikutnya. Ayat selanjutnya berbunyi demikian: "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, y

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Monday, May 3, 2010

Orang saleh yang binasa karena kesalehannya - A Self Reflection

Sumber Bacaan :
Pengkhotbah 7 : 15

Di hari Jumat lalu tanggal 30 April 2010, merupakan hari terakhir di bulan April dan seperti biasanya agenda FoB adalah mengadakan PD dwi mingguan dan merupakan PD yang kedua karena memang kegiatan ini baru saja dicanangkan di bulan April (lihat postingan saya sebelum ini)
Walaupun yang datang tidak sebanyak di dua minggu lalu, karena mungkin kurangnya sosialisasi di Kopdar, Milis, maupun FB, ditambah lagi dengan akhir bulan dan hari Jumat pula …. (khan kalo akhir bulan banyak kerjaan dikantor karena lagi tutup buku, sedangkan hari Jumat hari KopDar aka kumpul bareng komunitas motor … heheheheheheeheh) tapi ibadah tetap dilaksanakan.
Seperti pada yang ulasan pertama kali, kali inipun gw mencoba untuk menjabarkan apa yang gw dapet dengan bahasa gw sendiri dan dalam persepsi gw.
Temans, kalo kita bicara orang fasik atau orang2 yang gak kenal Tuhan ataupun orang2 yang gak pernah berbuat baik, adalah sangat wajar kalo mereka binasa … bener gak ??? Nah … kalo orang benar atau orang saleh binasa karena kesalehannya gimana coba ? Pertanyaan selanjutnya "Kok bisa yach ???" ya bisa donks … ini nich jawabannya … ada tiga perkara kenapa orang saleh binasa karena kesalehannya :
Coba teman – teman baca II Tawarikh 25 : 2 (lebih enak sich kalo baca semuanya yaitu II Tawarikh 1 – 28) disitu dikisahkan tentang Raja Amazia, beliau merupakan salah satu Raja Israel yang melakukan apa yang benar di mata Tuhan TETAPI ia tidak melakukan itu dengan segenap hatinya … kenapa ? Karena dia masih mendendam, dia tidak mau membereskan hatinya coba teman – teman buka lagi Matius 5:23 – 24, Tuhan meminta kita untuk berdamai dengan semua orang, bahkan jika kita di tengah – tengah peribadahan dan teringat akan amarah kita terhadap orang lain, kita disarankan untuk meninggalkan peribadahan tersebut, berdamai dengan orang yang dimaksud lalu melanjutkan kembali ibadah kita.
Refleksi diri : Bagaimana dengan kita ? Sudahkah kita berdamai dengan orang – orang yang sudah kita sakiti atau bahkan yang menyakiti kita? Siapkah kita melakukan hal tersebut ?
Orang percaya yang tinggi hati (lihat Pengkhotbah 7 : 20) kadang seseorang yang merasa dirinya saleh menyangka bahwa ia tidak mempunyai kesalahan, ia cenderung memandang rendah orang lain yang dianggapnya masih belum benar, akhirnya ia terjebak dalam pikirannya sendiri yang menganggap bahwa ia paling benar (tentu teman-teman ingat orang – orang Farisi khan ? yang selalu menganggap dirinya lebih benar daripada orang lain)
Refleksi diri : Apakah kita juga secara tidak sadar melakukan hal tersebut ? Menghakimi sesame kita akan kesalahan mereka dan tidak mau melihat kedalam diri sendiri terlebih dahulu dan mengenal diri sendiri. Apakah kita cenderung menghakimi orang lain dan berlindung di balik alibi bahwa kita berusaha mengingatkan mereka akan kesalahan mereka ? Atau malah kita menjadi tukang gossip yang membicarakan kejelekan orang lain dan merasa diri kita paling benar ???
Orang percaya yang keras hati (Yakobus 4 : 17) ini dia nich yang lebih bahaya … Kita tahu caranya berbuat baik, tetapi tidak melakukannya … waduuuuhhhh … attttttuuuuuuuutttttt ….
Teman – teman,Tuhan tidak melihat hasil, Tuhan tidak melihat siapa kita, Tuhan MELIHAT proses, janganlah kita berorientasi pada hasil tetapi lihatlah prosesnya, jika prosesnya benar niscaya hasilnya benar, ingatlah satu jari menunjuk 3 jari menunjuk balik kepada kita. Semua sama di hadapan Tuhan, dan satu lagi … Bukan orang benar yang Tuhan panggil tetapi orang yang tidak benar karena orang sehat tidak perlu dokter orang yang sakitlah yang perlu dokter.Mari kita sama – sama berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik bagi Tuhan, diri kita sendiri, keluarga kita, dan lingkungan kita. Marilah kita saling mengingatkan tanpa menghakimi satu atas yang lainnya.

"Manusia melihat apa yang ada di depan mata, tapi Tuhan lebih melihat hati daripada pencapaian"


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Cara menjadi murid yang dikasihi oleh Tuhan - A self reflection

Jumat 16 April 2010, merupakan hari Jumat yang bersejarah bagi FoB, pada hari Jumat itu untuk pertama kalinya Program PD Dwi Mingguan FoB dimulai. Bertempat di Tanah Abang II No. 33, depan POM Bensin PasPamPres – Jakarta, ibadah tersebut dimulai terlambat dari yang seharusnya dijadwalkan, tetapi semangat teman – teman untuk lebih mengenal dan mengerti akan FirmanNya tidak kendor. Topik yang dibawakan oleh Kak Utro sebagai Pelayan Firman pada malam itu adalah "Murid yang dikasihi oleh Kristus, kenapa dan bagaimana dengan kita ?" Lewat tulisan ini, gw mencoba untuk membagikan apa yang gw dapat malam itu melalui persepsi gw yang penuh keterbatasan sebagai manusia.
Ok, gw mulai yach …
Teman – teman, tau gak siapa aja sich murid yang dikasihi oleh Kristus ? Kalo yang paling dikasihi pasti tau dong ? Siapa dia ??? Yup … benar … Yohanes adalah murid terkasih Kristus. Tapi ternyata di Alkitab mencatat sedikitnya ada 3 orang murid yang dikasihi oleh Kristus … mereka adalah :
Yohanes
Petrus
Yakobus saudara Yohanes
Kenapa mereka dicatat sebagai murid yang dikasihi ? Alkitab juga mencatat sedikitnya ada 4 alasan kenapa mereka dikasihi oleh Kristus, yaitu :
Respons
Apa sich yang dimaksud dengan respons tersebut ? Respons atau dalam bahasa Indonesianya adalah reaksi. Dalam hal ini merupakan reaksi yang di berikan atau diperlihatkan oleh mereka khususnya 4 orang yang pertama kali dipanggil oleh Kristus untuk menjadi muridnya. Teman – teman pasti tahu dong kalo murid2 Kristus tersebut pada awalnya adalah seorang penjala ikan bahasa kerennya adalah nelayan. Mereka dengan sukacita, tanpa banyak bertanya dan alasan LANGSUNG mengikuti panggilan Kristus pada saat mereka dipanggil. (Markus 1:16 – 20)
Ekspresif
Teman – teman, Alkitab juga mencatat bahwa murid – murid yang terdekat dengan Kristus ini merupakan murid – murid yang paling ekspresif dalam mengungkapkan perasaan mereka, mereka akan merasa sangat tersinggung, marah pada saat sesuatu yang tidak wajar terjadi atas Kristus. (Lukas 9:54) dan teman – teman tentu tahu bahwa pada saat Kristus ditangkap, Petruslah orang yang merebut pedang dan memutuskan telinga salah satu hamba Imam Besar yang menangkap Kristus
Hubungan yang intim dengan Kristus
Hubungan mereka sangat dekat dengan Kristus, Alkitab juga mencatat bahwa karena begitu dekatnya mereka, sehingga pada saat Kristus memberikan pengajaran dimanapun dan kapanpun,mereka adalah orang yang berusaha untuk bisa duduk paling dekat dengan Kristus, bahkan Yohanes selalu duduk paling dekat dengan Kristus (1 Yoh 1:1)
Memiliki kerendahan hati
Sehubungan dengan nomor 3 diatas, walaupun mereka sangat ekspresif dan cenderung terkesan sangat emosional didalam mengutarakan pendapat mereka tetapi mereka mempunyai kerendahan hati untuk bertobat. (Lukas 9:51 – 56) dan bagaimana Petrus menuruti Kristus dan tidak berbuat apa-apa pada saat Kristus menyembuhkan telinga yang terpotong oleh Petrus.
Teman – teman, lalu pertanyaannya sekarang adalah Bagaimana dengan kita ? Apakah yang akan kita lakukan pada saat panggilan itu datang ? Siapkah kita untuk langsung meninggalkan semuanya dan pergi untuk melayani Kristus ? ada beberapa hal yang mau gw coba jabarkan disini, aplikasi ke-4 point tersebut diatas dari perspektif gw sendiri, yaitu :
Menerima Panggilan : Teman, melayani Tuhan bukanlah berarti harus meninggalkan pekerjaan kita sekarang dan berubah menjadi pendeta, tetapi kita bisa melayani Tuhan melalui pekerjaan kita, keluarga kita, melalui pikiran, perkataan dan perbuatan kita. Kalo menurut gw nich … dalam segala hal di dalam kehidupan kita jadikanlah itu pelayanan bagi Tuhan dan persembahan yang hidup bagiNya.
Ekspresif : seringkali kita merasa marah pada saat agama kita diolok olok oleh orang lain, seringkali juga kita merasa kesal pada saat ada orang mempertanyakan Trinitas dan kebodohan kita menyembah Tuhan yang ada 3, dan dengan cara apapun kita lalu berusaha untuk memberi pengertian, atau bahkan membalas hal – hal tersebut. Gak perlu teman – teman, Tuhan kita adalah Tuhan yang HIDUP, Allah yang LUAR BIASA, terimalah segala sesuatunya akan Tuhan kita dengan iman dan bebaslah berekspresi dalam imanmu. Banyak kok caranya … contoh : berdoa sebelum memulai segala sesuatu dimanapun dan kapanpun, gak usah malu dan takut di cemooh teman2 karena yang menilai kita bukanlah manusia.
Hubungan yang intim dengan Tuhan : Teman - teman, sesering apa sich kita meninggalkan Tuhan demi hal – hal duniawi ? Sesering apa sich kita meninggalkan pertemuan-pertemuan gereja dan bahkan sudah berapa lama kita tidak ke gereja ? Sesering apa sich kita membaca Firman dibandingkan dengan dengerin music duniawi, bergaul dengan teman-teman kita, nonton sinetron dan hal – hal duniawi lainnya ? Bagaimana kita bisa tahu apa yang Tuhan mau kalau kita sendiri tidak pernah berusaha untuk mengenal Dia melalui firmanNya ?
Memiliki kerendahan hati : Naaaaaaaahhh … yang ini lebih seru nich …. Kadang pada saat kita ditimpa kesukaran, atau ditegor oleh Tuhan apakah kita malah menjauh dariNya ? Atau tidak mau tahu kenapa kita bisa ditegor ??? bagaimana kita bisa memiliki damai sejahtera dari Tuhan jika kita tidak melakukan point 1 s/d 3 tersebut diatas ? Bagaimana kita bisa memiliki kerendahan hati untuk menerima ajaran Tuhan ?
Hehehehehehe … panjang yach ??? Gak sadar ada 3 halaman tentang ini. Tentu teman2 waktu baca tulisan ini bakal punya pendapat gini "Ahhhhh … Si Michael, macam dah suci aja hidupnya" atau "Michael lagi kesambet apa tuch sampe nulis kayak gitu ?" atau bisa juga "Ya ya ya ya … Look who's talking … kayak diri loe dah bikin aja apa yang elo tulis … !!!!" Mau tahu gw bakal jawab apa ? Gw emang belum bener kok, gw sendiri juga merasa banyak kekurangan gw dalam hal ini … dan pada masa – masa sekarang ini gw juga masih belajar untuk menjalani hidup gw dan berusaha membereskan semua masalah hidup gw "didalam Tuhan" gw bukan orang suci atau sok suci, pada saat gw tulis ini, gw berharap supaya gw sendiri selalu diingatkan akan Firman yang gw dapet dan gw diberikan kekuatan hati untuk menjalani semua point tersebut berdasarkan apa yang Tuhan mau BUKAN yang gw mau.

God Bless you all abundantly

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Fwd: renungan harian online

Sumber : Renungan Harian online

Bertekun dalam Perlombaan

Ayat bacaan: Ibrani 12:1 ======================
"Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita."

Ada banyak orang yang berharap mereka mampu meraih sesuatu, terus maju sambil bermalas-malasan. Ada banyak orang yang tidak mau keluar dari zona nyamannya tapi dalam waktu bersamaan berharap ada perubahan dalam hidupnya. Sepeti seorang atlit, kita tidak mungkin mendapatkan keduanya secara bersamaan. Seorang atlit yang hebat, walau ia terlahir dengan talenta luar biasa sekalipun, tetap saja mereka harus melalui serangkaian latihan yang membutuhkan usaha keras. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam tiap hari, menjaga pola makan, terus berlatih dan berlatih lagi dari tahun ke tahun. Bahkan ketika mereka sudah mencapai masa keemasan pun mereka tidak boleh terlena dan berhenti berlatih. Mereka harus siap meninggalkan kenyamanan hidup, mengucapkan selamat tinggal kepada kemalasan dan terus bertekun untuk menggapai impian mereka. Tanpa itu semua, bakat dan kelebihan sebesar apapun yang mereka miliki tidak akan pernah bisa maksimal. Ini merupakan analogi yang tepat dalam perjuangan kita dalam menghadapi perlombaan iman. Setelah kita kemarin melihat satu kesamaan antara seorang atlit dengan kita yang tengah menghadapi perlombaan iman seperti yang digambarkan dalam Alkitab, hari ini kita melihat sebuah lagi perbandingan menarik mengenai kedua hal ini. Mari kita lihat sekali lagi ayat pertama dalam pasal Ibrani 12. "Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita." (Ibrani 12:1). Kemarin kita membahas pentingnya menanggalkan beban dan dosa agar kita bisa berlari dengan ringan tanpa hambatan, sekarang kita lihat

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone