Monday, October 25, 2010

Renungan harian online - Menanggapi Firman Tuhan dengan Sepenuhnya


renungan harian online


Menanggapi Firman Tuhan dengan Sepenuhnya

Posted: 23 Oct 2010 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: Yohanes 1:12
=========================
"Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya"

menanggapi firman TuhanSulitkah mengajar anak yang bandel? Tanyakan kepada sepupu saya, maka ia akan langsung bercerita panjang lebar bagaimana lelahnya dia setiap hari mengasuh anaknya. Ketiganya masih balita dengan kenakalan yang kurang lebih sama. Mereka akan berlari kesana kemari. Meleng sedikit saja sesuatu bisa terjadi pada mereka. Kemarin ketika kami makan siang bersama, ketiga anaknya saling berebutan sendok dan garpu lalu melemparkannya ke segala arah. Lalu salah satu terjatuh dan langsung menangis keras. Sepupu saya pun menghampiri anaknya dan berkata, "itulah, siapa suruh bandel? Lain kali dengar kata-kata mama supaya kamu tidak jatuh dan sakit.." Semua orang tua akan senang sekali jika anak-anak mereka mau mendengarkan nasihat mereka. Masalahnya, sebagai anak kita sebenarnya mendengar, namun hanya sedikit yang patuh dan mau menurutinya. Telinga kita mendengar, namun sikap, tindakan dan perbuatan kita sama sekali tidak mencerminkan apa yang kita dengar. Dan akibatnya, ada banyak kerugian yang akan kita alami berawal dari ketidak-acuhan kita terhadap petuah atau nasihat orang tua.

Jika terhadap orang tua kita di dunia kita berbuat demikian, terhadap Bapa pun kita bisa melakukan hal yang sama. Sebagian besar dari kita mungkin sudah sering mendengarkan Firman Tuhan, tetapi apakah kita sudah menanggapi, mentaati dan menghidupinya? Sebagian orang akan terus melakukan hal-hal yang menyenangkan dirinya tanpa mempedulikan apa kata Tuhan mengenai apa yang diperbuatnya. Mendengar Firman cukup lewat kotbah, cukup hari Minggu saja, dan setelah itu mereka akan kembali pada kehidupan duniawinya. Injil bukan lagi hal yang asing bagi kita, tetapi sudahkah kita menangkap esensi dasar dari kebenaran yang terkandung di dalamNya? Sudahkah kita memperhatikan dengan seksama bagaimana kehidupan kita dan menjaganya agar berita luar biasa tentang keselamatan lewat Kristus yang diberitakan lewat Injil tidak sampai luput dari kita?

Injil secara fisik mungkin hanya terlihat sebagai sekumpulan tulisan saja. Namun sebenarnya Injil mengandung kebenaran yang mampu menembus hati, yang berasal dari kalimat-kalimat Allah sendiri. Lihatlah gambaran siapa sesungguhnya diri kita, manusia. "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." (Roma 3:23). Ini kondisi yang memperihatinkan. Kita digambarkan sebagai orang-orang berdosa, yang dengan sendirinya membuat kita kehilangan kemuliaan Allah. Semua manusia gagal mencapai standar kebenaran yang sempurna dari Tuhan. Ganjaran dari ini semua jelas, kita seharusnya binasa dengan mengenaskan. Tapi lihatlah bagaimana Tuhan mengasihi kita. Meski semuanya salah kita, Tuhan tidak menginginkan kita berakhir seperti itu. Lalu Injil mengatakan "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Atau lihat pula Firman Tuhan lewat Petrus: "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh." (1 Petrus 3:18). Kasih yang begitu besar sanggup menggerakkan Tuhan untuk menebus kita, bahkan dengan mengorbankan AnakNya yang tunggal sekalipun. "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." (1 Petrus 1:18-19).

Cerita keselamatan ini bukan lagi hal yang baru bagi kita. Tetapi tentu tidak cukup jika kita hanya mengetahui karya Tuhan yang agung kini tanpa mau mulai berbuat sesuatu untuk menanggapi dan melakukannya secara pribadi, yang berasal dari keputusan kita sendiri. Alkitab berkata: "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya." (Yohanes 1:12). Apa yang diberikan Tuhan ini adalah sebuah kasih karunia yang begitu luar biasa besarnya. Dari orang berdosa, yang gagal mencapai standar kelayakan bagi Tuhan, ternyata kita malah diberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita. Tidakkah itu seharusnya mampu menggerakkan hati kita untuk bersyukur dan memutuskan untuk menghargai segala kebaikan Tuhan yang luar biasa itu sepenuhnya?

Firman Tuhan juga berkata "Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup." (1 Yohanes 5:12). Ini sebuah jaminan yang diberikan Tuhan kepada kita lewat Kristus. Dengan menerima Kristus, Dia dengan sendirinya telah masuk ke dalam hidup kita, dan dengan demikian kita pun dianugerahkan hidup yang kekal. "Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." (Yohanes 14:6-7). Hanya lewat Kristus kita bisa datang kepada Bapa. Hanya lewat Dia kita memperoleh jalan dan kebenaran dan hidup. Hanya lewat Dia kita diselamatkan, dan hanya lewat Dia pula kita bisa mengenal Bapa, bahkan dikatakan telah melihatNya. Sebuah anugerah yang sungguh besar yang alangkah keterlaluan jika kita sia-siakan.

Sudahkah kita menanggapi dengan benar dari apa yang diberikan Tuhan kepada kita? Lewat Kristus kita memperoleh keselamatan kekal dan diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Sudahkah kita benar-benar menyadari hal itu? Sudahkah kita menanggapi terang rohani yang telah diberikan Allah kepada kita, dan sudahkah kita menyalurkan terang itu kepada orang-orang di sekitar kita seperti apa yang diperintahkan Tuhan? Mendengar Firman Tuhan itu baik, tetapi alangkah sia-sianya apabila kita tidak menghidupinya. Jangan-jangan kita masih menjadi pendengar yang baik, namun perilaku, tindakan, pikiran dan perbuatan kita sama sekali tidak mencerminkan apa yang telah kita dengar. "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (Yakobus 1:22). Patuh terhadap nasihat orang tua merupakan sebuah keharusan demi kebaikan kita sendiri, patuh terhadap Tuhan tentu jauh lebih penting lagi. Hari ini mari kita sama-sama hidup dengan kebenaran firman Tuhan, menjadi pelaku-pelaku firman, menyesuaikan perilaku kita dengan apa yang kita baca atau dengar dari semua tulisan yang diilhamkan Tuhan sendiri yang tercatat dalam Alkitab. Hiduplah sebagai anak-anak Terang, berfungsilah sebagai terang dan garam dunia, dan tetaplah hidup dengan iman teguh akan Yesus,Tuhan dan Juru Selamat kita. Jangan biarkan anugerah luar biasa besar ini menguap sia-sia akibat kebandelan kita.

Lewat Kristus kita memperoleh keselamatan kekal dan diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah
You are subscribed to email updates from renungan harian online
To stop receiving these emails, you may unsubscribe now.
Email delivery powered by Google
Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Friday, October 8, 2010

Renungan harian online

"Riding and Testifying 'till the Kingdom Comes"
www.fellowshipofbikers.org
fellowship-of-bikers@googlegroups.com


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!


From: renungan harian online <secretmindnet@yahoo.com>
Sender: noreply+feedproxy@google.com
Date: Fri, 08 Oct 2010 00:37:37 +0000
To: <michaelsahertian@gmail.com>
Subject: renungan harian online

renungan harian online


Curhat

Posted: 07 Oct 2010 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: Mazmur 142:3
=====================
"Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya."

curhatApakah anda termasuk orang yang hobi curhat? Jika ya, anda termasuk salah satu dari banyak orang yang tidak suka memendam masalah di dalam hati. Saya pun termasuk orang yang demikian. Ketika ada masalah yang mengganggu pikiran, maka sayapun akan segera membicarakannya dengan orang-orang terdekat, seperti kepada istri saya misalnya, atau sahabat yang bisa saya percaya. Setelah dibicarakan, ada solusi atau tidak biasanya hati akan terasa lebih lapang. Psikolog pun menggunakan cara seperti ini untuk membantu orang-orang yang mengalami gangguan pikiran atau perasaan. Curahan hati dan perasaan biasanya tidak kita tumpahkan kepada semua orang, karena biasanya menyangkut masalah pribadi. Cukuplah orang-orang yang kita percaya dan kenal sangat dekat saja yang mendengar. Jika kita sembarangan bercerita, bukan saja respon yang datang malah bisa melemahkan, atau bisa pula semua yang kita ceritakan akan disebarkan kemana-mana. Bukannya melegakan malah menambah masalah. Kepada orang terdekat pun sebenarnya curhat tidaklah 100% efektif. Bisa jadi mereka tengah sibuk, pikirannya sedang fokus kepada hal lain, atau mereka sedang kecapaian dan sedang tidak mood untuk mendengar keluh kesah kita. Bagaimana pula dengan orang yang tidak mempunyai sahabat dekat? Apakah tidak ada satupun lagi yang bisa diharapkan untuk mendengar keluh kesah kita?

Tentu saja ada. Jangan lupa bahwa kita punya Tuhan yang sangat mengasihi kita dan sangat setia akan kasihNya. Kepada Tuhan kita bisa dengan aman menceritakan segalanya, yang paling rahasia sekalipun tanpa harus takut dipermalukan. Selain itu, Tuhan tidak pernah terlalu sibuk untuk kita. Dia tidak akan pernah menolak, Dia tidak akan memojokkan kita. Dia tidak membatasi tema atau latar belakang permasalahan yang kita alami yang ingin kita utarakan kepadaNya. Tidak itu saja, Tuhan pun pasti punya solusi atas masalah apapun yang kita alami, bahkan sudah berjanji untuk memberikan kelegaan kepada setiap kita yang berbeban berat. (Matius 11:28).

Daud tahu betul bahwa ia punya Tuhan yang akan dengan senang hati menampung segala keluh kesahnya. "Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya." (Mazmur 142:3). Ini ia katakan ketika ia sedang berada dalam pengejaran dan tengah bersembunyi di dalam gua. Dalam keadaan kalut seperti itu, Daud tentu tidak memiliki siapa-siapa untuk diajak bicara atau dimintai pertolongan. Tapi Daud tahu bahwa ia punya Tuhan yang selalu ada bersamanya. Bagi Daud demikian, bagi kita pun tentu sama. Kita bisa datang kapanpun kepada Tuhan untuk menyampaikan keluh kesah kita tentang apapun. Masalah mungkin tidak langsung selesai saat itu juga, tetapi bukankah rasanya sangat melegakan memiliki Sosok yang sangat bisa dipercaya, punya kuasa mengatasi apapun, dan yang selalu siap menampung ungkapan hati kita kapan saja dan dimana saja?

Seperti halnya kepada sahabat kita, membangun kedekatan dengan Tuhan merupakan satu faktor mutlak yang akan membuat kita selalu ingat untuk datang kepada Tuhan ketika kita menghadapi persoalan apapun. Daud kita kenal sebagai orang yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Tuhan sejak kecil. Saya yakin sejak kecil ia sudah mempercayakan Tuhan sebagai Sosok terdekat untuk diajak curhat mengenai apapun. Dan Daud pun telah merasakan segala manfaatnya secara langsung. Karena itulah ia bisa berkata "Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku." (Mazmur 62:2). Berbagai pengalaman pribadinya dalam hal berbagi dengan Tuhan jelas banyak, dan kita bisa melihat semua itu dalam Alkitab. Bukan hanya Daud saja, tetapi banyak tokoh-tokoh lain dalam Alkitab pun mengalami hal itu, bahkan ada banyak orang dari masa ke masa hingga hari ini sekalipun memiliki kesaksian mereka tersendiri mengenai hal ini. Pemazmur mengatakan: "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:2). Sejak jaman dulu kepedulian Tuhan sudah sangat terbukti, hingga hari ini pun kita masih terus melihat buktinya lewat banyak kesaksian orang lain atau kesaksian kita sendiri.

Tuhan tahu bahwa curhat merupakan kebutuhan penting bagi manusia. Dia tidak pernah terlalu sibuk atau malas untuk mendengarkan suara anak-anakNya. Dia adalah Bapa yang setia, Bapa yang baik, Bapa yang penuh kasih yang selalu ada bersama kita dalam setiap saat. Ada kalanya kita tidak bisa berkata apa-apa akibat beratnya beban yang menimpa kita, dan Tuhan pun tahu bahwa keadaan seperti ini bisa menimpa kita kapan saja. Dan lihatlah bagaimana kepedulian Tuhan akan hal ini. Ada Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita yang akan sangat membantu ketika kita berada dalam situasi seperti itu. "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan." (Roma 8:26). Baik secara langsung maupun lewat Roh, Tuhan akan selalu siap mendengarkan kita, memberi kelegaan bahkan jawaban atau solusi atas masalah seberat apapun.

Apapun masalah yang menimpa anda, ingatlah bahwa ada Tuhan yang selalu menyediakan diriNya sebagai tempat kita menumpahkan curahan hati kita. Tuhan bisa kita percaya dan tidak akan pernah gagal untuk diandalkan. Dia siap mendengarkan anda hari ini. Maukah anda datang kepadaNya dan menceritakan apa yang anda alami hari ini?

Tuhan tidak pernah membiarkan anak-anakNya berbeban berat sendirian

Monday, October 4, 2010

Renungan harian online

Tetap Berbuah

Posted: 03 Oct 2010 08:00 AM PDT
Ayat bacaan: Mazmur 92:15 ===================== "Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar"

Sebuah pohon mangga yang sudah tua tumbuh tidak jauh dari tempat saya mengajar. Meski sudah tua tapi pohon itu masih menghasilkan buah yang besar-besar. Jumlah buah yang dihasilkan pun terlihat tidak sedikit. Pohon mangga itu mengingatkan saya pada usia produktif manusia. Berapa lama sebenarnya kita berada dalam batasan usia yang dianggap produktif? Jika melihat lowongan pekerjaan di koran batasan usia akan terlihat menjadi semakin singkat. Jika anda berusia 35 tahun saja, itu artinya lowongan pekerjaan yang masih memungkinkan bagi anda sudah berkurang jauh. Malah tidak jarang saya melihat batasan usia yang lebih ketat lagi, maksimal 30 tahun. Kita tidak bisa menghentikan waktu. Waktu akan terus berjalan dan sehubungan dengan itu kita pun akan terus semakin tua. Saat ini saya hampir memasuki dasawarsa ke empat dari usia saya. Tapi apakah itu artinya saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi? Dunia mungkin memberi batas untuk kita, tetapi tidak bagi Tuhan. Berapapun umur kita, Tuhan tetap menjanjikan kasih dan kesempatan untuk terus berbuah. Tuhan akan tetap bisa memakai anda secara luar biasa tanpa melihat berapapun umur anda sekarang. Pemazmur menulis seperti ini: "Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita." (Mazmur 92:13-14). Itu janji Tuhan terhadap orang-orang benar. Mereka yang tertanam dan berakar dalam Tuhan akan tetap bertunas dan tumbuh subur. Sampai kapan? Adakah batas usia untuk kita bertunas dan bertumbuh? Alkitab berkata tidak ada. Lihat ayat selanjutnya, "Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar" (ay 15) Hingga masa tua sekalipun, kata firman Tuhan orang-orang benar ini akan terus bertumbuh subur, malah dikatakan masih berbuah, bertambah gemuk dan segar. Masuk akalkah hal ini? Tenaga manusia memang akan menurun. Kemampuan secara umum akan menurun. Kita memang tidak bisa melawan hukum alam mengenai kondisi fisik manusia sejalan dengan usia. Namun itu bukan berarti kita harus pula berhenti berbuah. Bagaimana bisa? Ayat berikut menjelaskan bagaimana itu bisa dimungkinkan. "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 46:4). Kekuatan kita terbatas dan akan menurun, tetapi kekuatan Tuhan tidak akan pernah berkurang. Dan Tuhan menyatakan siap menggendong dan memikul serta menyelamatkan kita sampai seluruh rambut kita putih sekalipun. Ini janji Tuhan. Artinya jelas, Tuhan tetap memiliki rencana bahkan ketika kita sudah tua dan lemah, Tuhan tetap mau pakai kita tanpa melihat umur dan kemampuan kita. Dalam Alkitab kita bisa melihat banyak contoh mengenai orang yang dipakai hingga tua, malah ada pula yang dipakai justru setelah tua. Abraham misalnya. Ia menerima semua janji Tuhan di usia senja, dimana bagi dunia ia mungkin tidak lagi berarti apa-apa. Tapi Alkitab mencatat dengan jelas: "Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal." (Kejadian 24:1). Dan pada kondisi Abraham yang telah tua inilah ia menerima janji akan keturunan. Kapan ia menuai janji itu? Beberapa puluh tahun kemudian, di usia yang sudah sangat lanjut. Nuh juga dipakai pada usia lanjutnya. Dia bahkan harus bekerja keras membangun bahtera. Mengeluhkah Nuh? Sama sekali tidak. Ia setia dan terus melakukan tepat seperti apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Membangun kapal besar, mengumpulkan seluruh hewan sepasang-sepasang. Itu sama sekali tidak gampang, apalagi harus dilakukan ketika secara fisik kondisi tubuh sudah sangat menurun. Kita yang muda saja rasanya tidak sanggup, tapi Nuh bisa. Dan itu karena Allah yang setia tetap berada besertanya, menggendongnya dan memikulnya, sehingga ia sanggup melakukan hal yang bagi dunia akan terlihat sangat mustahil. Kaleb pun sama. Lihat apa katanya ketika ia hendak menuai janji Tuhan. "Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk." (Yosua 14:10-11). Bagaimana orang berusia 85 tahun masih sanggup berkata seperti itu, siap untuk berperang? Dari ketiga tokoh ini kita bisa melihat betapa luar biasanya ketika kita menjadi orang benar yang tertanam di pelataran Allah. Tidak ada kata layu, tidak ada kata habis, malah semakin gemuk dan segar menghasilkan buah-buah yang matang. Mengapa Tuhan harus memakai orang-orang tua

"Riding and Testifying 'till the Kingdom Comes"

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!