Monday, October 4, 2010

Renungan harian online

Tetap Berbuah

Posted: 03 Oct 2010 08:00 AM PDT
Ayat bacaan: Mazmur 92:15 ===================== "Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar"

Sebuah pohon mangga yang sudah tua tumbuh tidak jauh dari tempat saya mengajar. Meski sudah tua tapi pohon itu masih menghasilkan buah yang besar-besar. Jumlah buah yang dihasilkan pun terlihat tidak sedikit. Pohon mangga itu mengingatkan saya pada usia produktif manusia. Berapa lama sebenarnya kita berada dalam batasan usia yang dianggap produktif? Jika melihat lowongan pekerjaan di koran batasan usia akan terlihat menjadi semakin singkat. Jika anda berusia 35 tahun saja, itu artinya lowongan pekerjaan yang masih memungkinkan bagi anda sudah berkurang jauh. Malah tidak jarang saya melihat batasan usia yang lebih ketat lagi, maksimal 30 tahun. Kita tidak bisa menghentikan waktu. Waktu akan terus berjalan dan sehubungan dengan itu kita pun akan terus semakin tua. Saat ini saya hampir memasuki dasawarsa ke empat dari usia saya. Tapi apakah itu artinya saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi? Dunia mungkin memberi batas untuk kita, tetapi tidak bagi Tuhan. Berapapun umur kita, Tuhan tetap menjanjikan kasih dan kesempatan untuk terus berbuah. Tuhan akan tetap bisa memakai anda secara luar biasa tanpa melihat berapapun umur anda sekarang. Pemazmur menulis seperti ini: "Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita." (Mazmur 92:13-14). Itu janji Tuhan terhadap orang-orang benar. Mereka yang tertanam dan berakar dalam Tuhan akan tetap bertunas dan tumbuh subur. Sampai kapan? Adakah batas usia untuk kita bertunas dan bertumbuh? Alkitab berkata tidak ada. Lihat ayat selanjutnya, "Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar" (ay 15) Hingga masa tua sekalipun, kata firman Tuhan orang-orang benar ini akan terus bertumbuh subur, malah dikatakan masih berbuah, bertambah gemuk dan segar. Masuk akalkah hal ini? Tenaga manusia memang akan menurun. Kemampuan secara umum akan menurun. Kita memang tidak bisa melawan hukum alam mengenai kondisi fisik manusia sejalan dengan usia. Namun itu bukan berarti kita harus pula berhenti berbuah. Bagaimana bisa? Ayat berikut menjelaskan bagaimana itu bisa dimungkinkan. "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 46:4). Kekuatan kita terbatas dan akan menurun, tetapi kekuatan Tuhan tidak akan pernah berkurang. Dan Tuhan menyatakan siap menggendong dan memikul serta menyelamatkan kita sampai seluruh rambut kita putih sekalipun. Ini janji Tuhan. Artinya jelas, Tuhan tetap memiliki rencana bahkan ketika kita sudah tua dan lemah, Tuhan tetap mau pakai kita tanpa melihat umur dan kemampuan kita. Dalam Alkitab kita bisa melihat banyak contoh mengenai orang yang dipakai hingga tua, malah ada pula yang dipakai justru setelah tua. Abraham misalnya. Ia menerima semua janji Tuhan di usia senja, dimana bagi dunia ia mungkin tidak lagi berarti apa-apa. Tapi Alkitab mencatat dengan jelas: "Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal." (Kejadian 24:1). Dan pada kondisi Abraham yang telah tua inilah ia menerima janji akan keturunan. Kapan ia menuai janji itu? Beberapa puluh tahun kemudian, di usia yang sudah sangat lanjut. Nuh juga dipakai pada usia lanjutnya. Dia bahkan harus bekerja keras membangun bahtera. Mengeluhkah Nuh? Sama sekali tidak. Ia setia dan terus melakukan tepat seperti apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Membangun kapal besar, mengumpulkan seluruh hewan sepasang-sepasang. Itu sama sekali tidak gampang, apalagi harus dilakukan ketika secara fisik kondisi tubuh sudah sangat menurun. Kita yang muda saja rasanya tidak sanggup, tapi Nuh bisa. Dan itu karena Allah yang setia tetap berada besertanya, menggendongnya dan memikulnya, sehingga ia sanggup melakukan hal yang bagi dunia akan terlihat sangat mustahil. Kaleb pun sama. Lihat apa katanya ketika ia hendak menuai janji Tuhan. "Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk." (Yosua 14:10-11). Bagaimana orang berusia 85 tahun masih sanggup berkata seperti itu, siap untuk berperang? Dari ketiga tokoh ini kita bisa melihat betapa luar biasanya ketika kita menjadi orang benar yang tertanam di pelataran Allah. Tidak ada kata layu, tidak ada kata habis, malah semakin gemuk dan segar menghasilkan buah-buah yang matang. Mengapa Tuhan harus memakai orang-orang tua

"Riding and Testifying 'till the Kingdom Comes"

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Tuesday, September 28, 2010

RE: [FOB] Fw: renungan harian online

 

Terima kasih infonya Bung Mike, GBU


From: fellowship-of-bikers@googlegroups.com [mailto:fellowship-of-bikers@googlegroups.com] On Behalf Of michaelsahertian@gmail.com
Sent: Tuesday, September 28, 2010 8:27 AM
To: Milis FOB; Blog GW; Blogger FoB
Subject: [FOB] Fw: renungan harian online

 

Renungan yang bagus untuk kita semua

"Riding and Testifying 'till the Kingdom Comes"

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!


From: renungan harian online <secretmindnet@yahoo.com>

Sender: noreply+feedproxy@google.com

Date: Tue, 28 Sep 2010 01:02:35 +0000

To: <michaelsahertian@gmail.com>

Subject: renungan harian online

 

renungan harian online

 


Ibu Pengemis dan Anak Bayinya

Posted: 27 Sep 2010 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: Filipi 2:5
=================
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus."

sepikiran dengan KristusSeorang siswa saya kemarin menceritakan sebuah pengalamannya yang unik. Ia sedang berjalan kaki di sebuah trotoar jalan. Sayup-sayup ia mendengar suara tangisan anak bayi, yang katanya jelas terdengar seperti tangisan bayi yang baru lahir. Ketika ia mencari sumber suara, tampaklah olehnya seorang bayi kecil yang hanya dibungkus koran, terletak sendirian di belakang semak-semak. Tidak lama kemudian sang ibu yang ternyata seorang pengemis datang kesana. Anaknya baru lahir dua bulan, dan ia pun masih terlihat sangat pucat. Siswa saya lalu tergerak oleh rasa belas kasihan dan kemudian memberi seluruh uang di kantongnya, sejumlah Rp 150.000 yang seharusnya dia pakai untuk membayar tes penyaringan masuk di sebuah universitas. Akibat membantu si ibu, ia harus melupakan tes itu, dan ia pun harus berjalan kaki untuk masuk ke kelas dimana saya mengajar. "Capai pak, dan sayang memang harus gagal mengikuti tes, tapi saya merasa sangat lega.." katanya sambil tersenyum. Ia bercerita bahwa si ibu mengucapkan terima kasih sambil menangis terisak-isak. Si ibu dan anak bayi ini hanyalah satu dari ribuan kasus yang sehari-hari terjadi di sekitar kita. Semakin sulitnya kehidupan di muka bumi ini membuat kita semakin mudah menemukan orang-orang yang tengah dihimpit beban hidup dalam berbagai rupa. Siswa saya memilih untuk melakukan perbuatan baik, tetapi ada banyak orang lain yang tidak mau ambil pusing dalam situasi seperti ini.

Welcome to the self-centered world. Sebuah kehidupan dunia yang berisikan orang-orang yang hanya berjuang untuk keselamatan dirinya sendiri. Apapun akan dilakukan, kalau perlu orang lain pun akan dikorbankan demi mencapai tujuan pribadinya sendiri. Dalam dunia yang seperti ini, apa yang dibuat siswa saya tentu sangat langka dan sulit dipercaya. Saya bertanya dalam hati saya, seandainya saya ada di sana waktu itu, akankah saya melakukan hal yang sama, menyerahkan seluruh uang di kantong saya untuk menolong sang ibu dan bayinya? Apakah anda juga akan melakukan hal seperti itu?

Sebagai pengikut Kristus kita seharusnya melakukan hal yang sama. Dalam surat Filipi 2:1-11 kita bisa membaca pesan penting mengenai hal ini. "Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan." (Filipi 2:1). Belas kasihan, penghiburan kasih itu ada di dalam Kristus. Dan oleh karenanya kita sebagai pengikut-pengikut Kristus pun seharusnya sehati, sepikir dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, (ay 2) "dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri." (ay 3). Kita digugah untuk berhenti mementingkan diri sendiri tetapi harus mulai memkirikan orang lain pula. "dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (ay 4). Mengapa demikian? Perhatikanlah ayat selanjutnya "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus." (ay 5). Yesus yang pada dasarnya sama dengan Allah rela melepaskan semuanya. Mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba dan kemudian merendahkan dirinya sedemikian rupa hingga mati di atas kayu salib demi kita semua, orang-orang yang masih berada dalam jerat kebinasaan. Betapa besarnya kasih dan pengorbananNya untuk kita semua. Apabila kita menyatakan diri sebagai sahabat-sahabatNya, sudah seharusnya kita pun melakukan hal yang sama, menaruh pikiran dan perasaan kita seperti apa yang dirasa atau dipikirkan Yesus. Ingatlah bahwa Yesus tidak memandang orang ketika menaruh belas kasihan. Dia siap membantu siapapun tanpa terkecuali selama keberadaanNya dalam rupa seorang hamba di muka bumi ini, bahkan orang-orang asing sekalipun. Dan ingat pula, bukankah Yesus mati untuk menebus dosa seluruh umat manusia dan bukan hanya untuk segelintir orang saja? Jika belas kasih Kristus itu tanpa batas, kita sebagai pengikutNya pun harus memiliki kepedulian dan belas kasih yang sama terhadap sesama kita.

Kita memang tidak diselamatkan oleh perbuatan baik yang kita lakukan. Itu benar. Dalam Titus dikatakan "Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita." (Titus 3:4-7). Bukan perbuatan baik yang menyelamatkan kita, tetapi bukan berarti kita bisa berpangku tangan untuk tidak melakukan apapun yang baik. Seperti yang pernah saya katakan, kita bukan diselamatkan OLEH perbuatan baik, tetapi kita diselamatkan UNTUK melakukan perbuatan baik. Begitu pentingnya untuk menyatakan kasih Kristus yang mengalir dalam diri kita kepada sesama kita yang membutuhkan bantuan, sehingga bahkan dikatakan "Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat." (Ibrani 13:2). Tumpangan kepada orang dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "extend hospitality to strangers." Artinya kita harus siap berbuat baik, doing the kindness bahkan kepada orang yang tidak kita kenal sekalipun alias orang-orang asing. Siapa tahu, satu ketika nanti kita malah menjamu para malaikat tanpa sadar. Firman Tuhan berkata bahwa "..tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2 Timotius 3:17). Dia sudah melengkapi kita untuk melakukan itu semua. Alangkah keterlaluan apabila semua itu hanya kita pendam sendiri untuk kepentingan pribadi.

Pengorbanan yang dilakukan oleh siswa saya itu belumlah sebanding dengan apa yang diberikan Kristus untuk kita semua, tetapi tetap apa yang ia perbuat merupakan sesuatu yang luar biasa yang patut kita puji dan teladani. Menjadi pengikut Kristus berarti menaruh diri kita untuk sepikiran dan seperasaan dengan Kristus. Sudahkah anda menoleh ke sekeliling anda? Ada banyak orang yang saat ini tengah terjepit kesulitan hidup. Ada banyak yang kehilangan harapan, tidak lagi memiliki sukacita dalam hatinya. Anda mungkin bisa berkata, "tapi saya tidak mengenal mereka, buat apa saya harus peduli?" Itu tidak akan pernah cukup sebagai alasan. Saya yakin apabila Yesus masih berjalan di muka bumi hari ini, Dia akan menunjukkan belas kasihNya kepada mereka, siapapun atau apapun latar belakangnya tanpa terkecuali. Sebagai pengikut Kristus, apa yang bisa anda bisa anda perbuat hari ini untuk mereka?

Menjadi pengikut Kristus artinya sepikiran dan seperasaan dengan Kristus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

 

 

Fw: renungan harian online

Renungan yang bagus untuk kita semua

"Riding and Testifying 'till the Kingdom Comes"

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!


From: renungan harian online <secretmindnet@yahoo.com>
Sender: noreply+feedproxy@google.com
Date: Tue, 28 Sep 2010 01:02:35 +0000
To: <michaelsahertian@gmail.com>
Subject: renungan harian online

renungan harian online


Ibu Pengemis dan Anak Bayinya

Posted: 27 Sep 2010 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: Filipi 2:5
=================
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus."

sepikiran dengan KristusSeorang siswa saya kemarin menceritakan sebuah pengalamannya yang unik. Ia sedang berjalan kaki di sebuah trotoar jalan. Sayup-sayup ia mendengar suara tangisan anak bayi, yang katanya jelas terdengar seperti tangisan bayi yang baru lahir. Ketika ia mencari sumber suara, tampaklah olehnya seorang bayi kecil yang hanya dibungkus koran, terletak sendirian di belakang semak-semak. Tidak lama kemudian sang ibu yang ternyata seorang pengemis datang kesana. Anaknya baru lahir dua bulan, dan ia pun masih terlihat sangat pucat. Siswa saya lalu tergerak oleh rasa belas kasihan dan kemudian memberi seluruh uang di kantongnya, sejumlah Rp 150.000 yang seharusnya dia pakai untuk membayar tes penyaringan masuk di sebuah universitas. Akibat membantu si ibu, ia harus melupakan tes itu, dan ia pun harus berjalan kaki untuk masuk ke kelas dimana saya mengajar. "Capai pak, dan sayang memang harus gagal mengikuti tes, tapi saya merasa sangat lega.." katanya sambil tersenyum. Ia bercerita bahwa si ibu mengucapkan terima kasih sambil menangis terisak-isak. Si ibu dan anak bayi ini hanyalah satu dari ribuan kasus yang sehari-hari terjadi di sekitar kita. Semakin sulitnya kehidupan di muka bumi ini membuat kita semakin mudah menemukan orang-orang yang tengah dihimpit beban hidup dalam berbagai rupa. Siswa saya memilih untuk melakukan perbuatan baik, tetapi ada banyak orang lain yang tidak mau ambil pusing dalam situasi seperti ini.

Welcome to the self-centered world. Sebuah kehidupan dunia yang berisikan orang-orang yang hanya berjuang untuk keselamatan dirinya sendiri. Apapun akan dilakukan, kalau perlu orang lain pun akan dikorbankan demi mencapai tujuan pribadinya sendiri. Dalam dunia yang seperti ini, apa yang dibuat siswa saya tentu sangat langka dan sulit dipercaya. Saya bertanya dalam hati saya, seandainya saya ada di sana waktu itu, akankah saya melakukan hal yang sama, menyerahkan seluruh uang di kantong saya untuk menolong sang ibu dan bayinya? Apakah anda juga akan melakukan hal seperti itu?

Sebagai pengikut Kristus kita seharusnya melakukan hal yang sama. Dalam surat Filipi 2:1-11 kita bisa membaca pesan penting mengenai hal ini. "Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan." (Filipi 2:1). Belas kasihan, penghiburan kasih itu ada di dalam Kristus. Dan oleh karenanya kita sebagai pengikut-pengikut Kristus pun seharusnya sehati, sepikir dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, (ay 2) "dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri." (ay 3). Kita digugah untuk berhenti mementingkan diri sendiri tetapi harus mulai memkirikan orang lain pula. "dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (ay 4). Mengapa demikian? Perhatikanlah ayat selanjutnya "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus." (ay 5). Yesus yang pada dasarnya sama dengan Allah rela melepaskan semuanya. Mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba dan kemudian merendahkan dirinya sedemikian rupa hingga mati di atas kayu salib demi kita semua, orang-orang yang masih berada dalam jerat kebinasaan. Betapa besarnya kasih dan pengorbananNya untuk kita semua. Apabila kita menyatakan diri sebagai sahabat-sahabatNya, sudah seharusnya kita pun melakukan hal yang sama, menaruh pikiran dan perasaan kita seperti apa yang dirasa atau dipikirkan Yesus. Ingatlah bahwa Yesus tidak memandang orang ketika menaruh belas kasihan. Dia siap membantu siapapun tanpa terkecuali selama keberadaanNya dalam rupa seorang hamba di muka bumi ini, bahkan orang-orang asing sekalipun. Dan ingat pula, bukankah Yesus mati untuk menebus dosa seluruh umat manusia dan bukan hanya untuk segelintir orang saja? Jika belas kasih Kristus itu tanpa batas, kita sebagai pengikutNya pun harus memiliki kepedulian dan belas kasih yang sama terhadap sesama kita.

Kita memang tidak diselamatkan oleh perbuatan baik yang kita lakukan. Itu benar. Dalam Titus dikatakan "Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita." (Titus 3:4-7). Bukan perbuatan baik yang menyelamatkan kita, tetapi bukan berarti kita bisa berpangku tangan untuk tidak melakukan apapun yang baik. Seperti yang pernah saya katakan, kita bukan diselamatkan OLEH perbuatan baik, tetapi kita diselamatkan UNTUK melakukan perbuatan baik. Begitu pentingnya untuk menyatakan kasih Kristus yang mengalir dalam diri kita kepada sesama kita yang membutuhkan bantuan, sehingga bahkan dikatakan "Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat." (Ibrani 13:2). Tumpangan kepada orang dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "extend hospitality to strangers." Artinya kita harus siap berbuat baik, doing the kindness bahkan kepada orang yang tidak kita kenal sekalipun alias orang-orang asing. Siapa tahu, satu ketika nanti kita malah menjamu para malaikat tanpa sadar. Firman Tuhan berkata bahwa "..tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2 Timotius 3:17). Dia sudah melengkapi kita untuk melakukan itu semua. Alangkah keterlaluan apabila semua itu hanya kita pendam sendiri untuk kepentingan pribadi.

Pengorbanan yang dilakukan oleh siswa saya itu belumlah sebanding dengan apa yang diberikan Kristus untuk kita semua, tetapi tetap apa yang ia perbuat merupakan sesuatu yang luar biasa yang patut kita puji dan teladani. Menjadi pengikut Kristus berarti menaruh diri kita untuk sepikiran dan seperasaan dengan Kristus. Sudahkah anda menoleh ke sekeliling anda? Ada banyak orang yang saat ini tengah terjepit kesulitan hidup. Ada banyak yang kehilangan harapan, tidak lagi memiliki sukacita dalam hatinya. Anda mungkin bisa berkata, "tapi saya tidak mengenal mereka, buat apa saya harus peduli?" Itu tidak akan pernah cukup sebagai alasan. Saya yakin apabila Yesus masih berjalan di muka bumi hari ini, Dia akan menunjukkan belas kasihNya kepada mereka, siapapun atau apapun latar belakangnya tanpa terkecuali. Sebagai pengikut Kristus, apa yang bisa anda bisa anda perbuat hari ini untuk mereka?

Menjadi pengikut Kristus artinya sepikiran dan seperasaan dengan Kristus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, July 17, 2010

Renungan Harian Online - Renungan yang bagus nich ...

renungan harian online


Morning/Wake Up Call

Posted: 16 Jul 2010 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: Ibrani 10:25
=====================
"Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."

morning callJika kita menginap di hotel, kita bisa meminta resepsionis atau front desk untuk membangunkan kita di pagi hari supaya tidak kebablasan tidur. Ini dikenal juga dengan istilah morning call atau wake up call. Ini adalah sebuah fasilitas yang tentunya sangat diperlukan karena jarang sekali kita membawa jam weker ketika menginap di hotel. Kita bisa tidur tenang dan nyenyak, tidak perlu khawatir karena kita tahu ada orang yang akan membangunkan kita di pagi hari. Sebuah morning call bukan saja berguna di hotel, tetapi ada waktu-waktu dimana kita akan memerlukannya juga dalam kehidupan kita. Kebiasaan saya yang tidur sampai larut dahulu sering dimanfaatkan teman saya untuk membangunkannya agar bisa melanjutkan tugas-tugas. Dengan mengetahui bahwa saya pasti akan meneleponnya sesuai waktu yang ia inginkan, ia pun bisa beristirahat sejenak sebelum kembali mengerjakan tugasnya.

Sebagai manusia kita tidak mampu hidup sendirian. Dalam kehidupan kerohanian kita pun demikian. Kesadaran bahwa kita tidak diciptakan sendirian, we are not made to live alone, penting untuk kita miliki dalam menjalani kehidupan kita. Hidup ini penuh perjuangan, termasuk pula kehidupan rohani kita yang harus terus berjuang melawan arus dunia dengan segala penyesatan di dalamnya. Segala tantangan dan kesulitan yang kita hadapi ketika melewati hari demi hari ini tentu sangat melelahkan dan selalu berpotensi membuat kita menyerah dan putus asa. Oleh karena itulah kita seharusnya sadar bahwa kita tidak boleh berjuang sendirian. Kita harus menghadapinya bersama-sama dengan rekan-rekan seiman yang bisa saling mendukung, saling bantu, saling menasihati, menegur dan menguatkan. Penulis Ibrani mengingatkan hal ini dengan jelas. "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Apakah itu di gereja, persekutuan dan sebagainya, itu akan sangat berguna untuk dipakai sebagai sarana untuk menjalankan prinsip saling di atas. Kita akan lebih kuat apabila kita bertumbuh bersama-sama.

Selalu saja ada alasan yang bisa kita pakai untuk melewatkan waktu-waktu persekutuan. Banyak tugas, sibuk, lelah, kurang sehat, atau hujan akan menggoda kita untuk melewatkannya. Padahal kita akan kehilangan banyak hal apabila kita melewatkan sekali saja. Pengkotbah meningatkan "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka." (Pengkotbah 4:9)  Dan ayat selanjutnya berbunyi "Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (ay 10). Tidak peduli sekuat apapun kita, kita selalu butuh kehadiran saudara-saudari seiman yang akan siap menolong kita bangkit ketika terjatuh, siap menguatkan di kala lemah, siap meringankan ketika kita berbeban, memberi penghiburan ketika kita berduka. Sebaliknya di lain waktu, kita pun harus siap melakukan ini ketika mereka membutuhkannya.

Semangat kebersamaan dalam bertumbuh ini pun sangat penting di mata Tuhan. Firman Tuhan berkata "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2). Hukum Kristus akan kita penuhi apabila kita peduli satu sama lain, saling bertolong-tolongan dalam segala hal. Tuhan tidak menciptakan kita untuk menjadi individu-individu yang egois, kita diciptakan sebagai mahluk sosial yang harus saling isi satu sama lain untuk menuju ke arah yang lebih baik. Lihatlah dalam kitab Kejadian, dengan tegas Tuhan berkata: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja." (Kejadian 2:18). The Lord said "IT IS NOT GOOD." Ini artinya kebersamaan dalam bertumbuh, semangat kepedulian yang berisi prinsip saling bertolong-tolongan ini merupakan sebuah keharusan yang penting dalam kehendak Tuhan bagi kita. Ada saat dimana kita lemah, bukankah indah apabila kita tahu ada teman-teman yang tidak akan membiarkan kita jatuh? Atau sebaliknya, tidakkah indah jika kita bisa menjadi embun penyejuk dan berkat bagi teman kita yang sedang kesusahan?

Jangan lewatkan kesempatan untuk mengikuti persekutuan, jangan pula melewatkan beribadah bersama, memuji dan menyembah Tuhan, merasakan hadirat Tuhan bersama-sama dengan keluarga dan saudara seiman. Ada banyak manfaat yang bisa dipetik dibalik itu, dan itu akan menutupi begitu banyak kelemahan kita sebagai manusia yang tidak sempurna. Temukan komunitas yang tepat bagi anda, temukan "habitat" anda, dan bertumbuhlah disana. Kelak anda akan merasakan betapa beruntung dan bahagianya memiliki sebuah komunitas yang erat. Let's give the morning call to each other.

Bersekutulah dengan sesama saudara seiman dalam pertumbuhan iman
You are subscribed to email updates from renungan harian online
To stop receiving these emails, you may unsubscribe now.
Email delivery powered by Google
Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Tuesday, June 29, 2010

Tuhan menjawab pada waktuNya bukan waktu kita

Dear bros and sis,

Gw mau share nich. Utk yg sering datang KopDar pasti dah tahu kl gw ngelamar di perusahaan konsultan manajemen dari luar negeri dgn nama IMPAC.

Pada saat itu stlh interview via skype gw akhirnya lolos ke step berikutnya yaitu menjalani Test Online ... Test itu harus gw selesaikan dlm jangka waktu 2 minggu terdiri dari 7 Bab dan beberapa sub bab mereka minta gw utk selesaikan dgn nilai min 80 % dan Puji Tuhan I scored 92,4 %. Seharusnya gw dpt kabar kelanjutan dari proses ini sejak dari 1 - 2 bulanan lalu. Tapiiiiiii ... Selama itu gw gk dpt jawaban apa2 ... Gw coba hub personalia utk Asianya dan jawaban yg gw terima adlh mrk msh nunggu kepastian dari klien mereka. Dan selama bbrp minggu semua panggilan via skype gw gk pernah dijawab.

Pagi ini gw sm Istri doa utk usaha cuci helm, cutting stiker dan lampu LED yg lg gw rintis, intinya gw mau Tuhan memberkati usaha gw ini (thx for the share Sis Jo ... Gw diingatkan utk lakukan ini) dan gw juga bawa ttg IMPAC di doa gw ... Gw cuma bilang semua jawabanMu adalah baik untuk gw ... Diterima atau tidak adalah keputusanMu dan gw akan bersyukur utk itu apapun jawabannya ... And guess what ??? Gw dpt email siang ini yg blg bahwa gw lolos ke next interview di Kamis besok tgl 1 Juli 2010 .... Gilaaaa ... !!! Bro and Sis, gw speechless ... Gw gk nyangka dpt jawaban secepat ini ... Bener2 Tuhan jawab pertanyaan gw ... In His time NOT MINE. Disaat gw sendiri berpikir gw gk lolos dan kyknya gk bkl ada jawaban malah Dia ksh jawaban.

Lesson learned :

"Jangan pernah putus asa, bertekunlah dalam doa dan selalu berpengharapan karena Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan BUKAN yg kita minta didalam waktuNya bukan waktu kita"

"For with HIM everything is possible"

Have a blessed day Bro and Sis

Regards,
Michael S.
michaelsahertian.blogspot.com

Sent from my BlackDragon® smartphone support by Christ Almighty ™

Thursday, June 17, 2010

A Self Reflection - Part II

To Forgive and Forget

"To forgive and forget" … hmmm mendengar atau membaca kalimat ini membuat saya teringat dengan text lagu yang dinyanyikan oleh salah satu grup band yang cukup terkenal beberapa tahun lalu "The Corrs" yang kira – kira bunyinya begini "…… you're forgiven not forgotten …. " Kenapa sich kadang kita bisa memberikan maaf kepada seseorang tapi tidak bisa melupakan ? Dan kenapa kita HARUS memaafkan dan melupakan ??? Apa sich bedanya ??? Mari kita coba telaah yach …. (saya coba angkat dari kisah Daud – pasti semua tahu doong siapa Daud ??)

Pada masa – masa awal perjalanan (pembentukan) Daud menjadi seorang Raja Israel, dia diperhadapkan pada situasi yang sangat sulit. Dari mempunyai pasukan, jabatan dan istri yang cantik (anak dari Raja Saul) menjadi seorang buronan kerajaan yang disebabkan oleh kecemburuan Raja Saul karena Daud LEBIH DIBERKATI, LEBIH DICINTAI oleh Tuhan dan oleh rakyat Israel. Tetapi, di sisi lain, Alkitab juga mencatat bahwa Daud sebenarnya mendapatkan dua kesempatan untuk membunuh Raja Saul :

1. Yang pertama di dalam sebuah gua di wilayah En Gredi. Dimana pada saat Raja Saul membuang hajat di dalam gua yang dimana Daud dan orang-orangnya bersembunyi … tetapi apa yang terjadi ??? Daud tidak mau melakukan itu, ia hanya memotong pucung jubah yang dikenakan oleh Saul, itupun membuat dia merasa bersalah, karena dalam pandangannya, Raja Saul merupakan orang yang diurapi oleh Allah.

2. Tidak lama setelah itu Raja Saul, kembali melakukan pengejaran terhadap Daud, tetapi karena penyertaan Tuhan, sekali lagi Daud mendapatkan kesempatan untuk membunuh Raja Saul pada saat dia dan pasukannya sedang tertidur lelap, kembali disini kita melihat kebesaran hati Daud, ia tidak mencabut nyawa Raja Saul tetapi hanya mengambil tombak dan kendi milik sang Raja.

Kenapa dua kesempatan tersebut dilewatkan oleh Daud, alasannya sederhana … KARENA Saul adalah orang yang diurapi oleh Tuhan. Di sisi lain Daud adalah juga orang yang diurapi oleh Tuhan, hal ini membuat saya percaya bahwa Tuhan lah yang menguasai pikiran Daud (coba teman – teman baca I Samuel 24 – 25, teman teman akan mendapatkan kata – kata .. TUHAN akan ……. TUHAN menyerahkan …….. orang yang diurapi TUHAN …… dimata TUHAN).

Teman – teman, pada saat saya membaca ini saya jadi berpikir tentang orang – orang yang menimbulkan penderitaan di dalam hidup saya. Kadang mudah untuk memberikan pengampunan kepada teman – teman kita, tetapi untuk memberikan pengampunan kepada mereka yang sudah menyebabkan saya menderita ??? Hmmmmm …. NANTI DULU … "You're forgiven but not forgotten !!!" Saya bukanlah orang yang diberkati dengan hati yang mengampuni, untuk beberapa orang mungkin hal itu merupakan hal mudah, memberi maaf, tidak pernah menyimpan dendam atau sakit hati mereka, tapi itu bukan saya … Boro – boro memberikan maaf, jika saya "dipotong" oleh seseorang pada saat saya mengendarai motor, atau berhadapan dengan orang yang mengendarai kendaraan dengan "sruntulan", mengendarai kendaraannya melawan arah lalu lintas, menerobos lampu merah …. Sudah dapat dipastikan jika tidak bisa diberitahu baik – baik pasti akan saya berikan banyak sekali "kasih" (baca : saya kasih banyak makian, pukulan dan tendangan) Tetapi saya diingatkan tentang hal ini oleh Tuhan pada saat saya membaca buku "Facing Your Giants" karangan Max Lucado. Dan saya membaca kisah ini di BAB 6, hati saya terpukul dengan kutipan ayat yang diambil dari Ayub 5:2 - "Sesungguhnya orang bodoh dibunuh oleh sakit hati,dan orang bebal dimatikan oleh iri hati"

Pembalasan dendam memusatkan perhatian kita pada saat – saat paling buruk dalam kehidupan kita. Membuat perhitungan akan terus membuat pandangan kita tertuju pada peristiwa – peristiwa kelam di masa lampau. Inikah yang ingin kita lihat ? Apakah dengan mengulang – ulang dan menghidupkan kembali sakit hati kita (bisa saja dipicu pada saat kita mendengar lagu, kata – kata, atau apapun yang mengingatkan kita akan orang tersebut) akan menjadikan kita sebagai manusia yang lebih baik ? Jawabannya TIDAK !!! Hal tersebut malah justru akan merusak kita.(1)

Orang – orang yang telah menyakiti hati kita akan tetap berada dalam rencana Allah. Jika dia masih hidup, maka hal itu merupakan buktinya: Allah belum putus asa mendidik mereka. Bisa saja mereka tidak mengikuti kehendakNya, keluar dari ajaranNya, TETAPI mereka TIDAK PERNAH keluar dari jangkauanNYA (seperti kisah kera sakti pada saat pertama kali dipanggil oleh Buddha untuk menemani sang biksu suci memulai perjalanan ke barat mencari kitab suci, dia tidak bisa melepaskan diri dari telapak tangan Buddha …. Teman – teman yang Buddha saya pinjam yach analoginya … hehehehehehehe …) Kita menghormati Tuhan jika kita memandang mereka bukan sebagai kegagalanNya, melainkan sebagai bagian dari rencanaNya.

Pembalasan dendam merupakan hakNya, hanya Dia yang memutuskan segala perkara dengan cermat, serahkanlah orang – orang yang sudah menyakiti kita, membuat luka dalam hati kita ke hadapan NYA. Kita bisa membenci apa yang sudah dilakukan oleh orang tersebut tanpa harus membiarkan kebencian merongrong hidup kita.

Pengampunan bukanlah kebodohan. Pengampunan pada intinya ialah memilih untuk memandang orang yang menyakiti kita dengan mata yang berbeda. Mengampuni berarti meneruskan perjalanan, tidak memikirkan pelanggaran itu lagi.Kita hanya mengarahkan pikiran kita tentang mereka ke surga, kita memandang orang – orang tersebut sebagai anak Allah dan pembalasan dendam sekali lagi merupakan tugas Allah.(2)

Jadi sekarang bisa doong "Forgive and Forget ???" bukan lagi "Forgiven but not forgotten ?"
Kita harus memberikan pengampunan karena kita sendiri telah diampuni.
Kita, seperti Raja Saul, sudah diberi pengampunan disisi lain kita juga seperti Daud, dapat memberikan pengampunan dengan leluasa.(3) Sama - sama belajar yuuuks ...

(1),(2),(3) Facing Your Giants, by Max Lucado

michaelsahertian.blogspot.com

Sent from my BlackDragon® smartphone support by Christ Almighty ™

Tuesday, June 1, 2010

Hasil Fellowship FoB 28/05/2010

Bro and Sis,

Ada bbrp hasil dari Fellowship FoB 28/05/2010, sbb :
1. KopDar FoB tiap Rabu tetap ada dgn setiap hari Rabu Minggu Pertama di House of FoB - Petukangan
2. Krn banyak yg komplain tidak bs kumpul di hari Rabu, kita coba utk menggeser ke hari Jumat ... Mulai diperkenalkan di Jumat minggu pertama, FoB kumpul di Rumah Cing Mamat (blkg Kantor Walikota Jakarta Selatan yg baru)
3. Fellowship tiap Jumat minggu ke 2 dan ke 4
4. Di Minggu ke 4 Latihan VG FoB pukul 19:00 WIB di Tnh Abang (sblm Fellowship) dilatih oleh Bung Jerry Paays
5. Tim DoPel (Doa & Pelayanan) FoB telah dibentuk dgn Koordinator sementara Bro Michael
6. FoB akan mengadakan BakSos dgn Koordinator Cing Mamat dan Bro Michel Kotten.
7. FoB akan membuka hubungan dgn Bikers for Christ Indonesia (dijembatani oleh Sis Jo)

Mudah2an FoB bs semakin bertumbuh dan menjadi saksi hidup bagi pelayanan Tuhan.
"Riding and Testifying 'till The Kingdom Comes"

www.fellowshipofbikers.org

Sent from my FoBerry® smartphone powered by Christ Almighty