Wednesday, May 19, 2010

Fwd: renungan harian online


renungan harian online


Mengalahkan Raksasa

Posted: 18 May 2010 08:00 AM PDT

Ayat bacaan: 1 Samuel 17:45
=========================
"Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu."

mengalahkan raksasaBetapa bersemangatnya tetangga saya menonton tinju di televisi pada suatu Minggu pagi. Bagi penggemar acara olah raga tinju, tentu momen jual beli pukul dalam sekian ronde tersebut akan sangat menarik. Apalagi jika ada yang sampai terjatuh, atau setidaknya jual beli pukulan itu dilakukan dalam intensitas tinggi. Ada berbagai kelas yang terdapat dalam tinju, mulai dari kelas bulu hingga kelas berat. Dan masing-masing petinju akan masuk ke dalam kelasnya masing-masing untuk bertanding memperebutkan juara agar pertandingannya seimbang. Artinya, tidaklah mungkin seorang petinju kelas bulu dilaga dengan petinju kelas berat. Ketika salah seorang petinju terpojok, tetangga saya pun berkata: "Lihat itu, menghadapi yang seukuran saja sulitnya bukan main, apalagi kalau menghadapi raksasa yang jauh lebih besar." "Masalah yang kita hadapi kadang jauh lebih besar dari kemampuan kita, kan?" katanya. Ia benar. Dalam hidup kita sering menghadapi raksasa-raksasa, yang jauh lebih besar dari diri kita. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari, tapi bukan berarti tidak bisa kita hadapi, dan tidak mungkin kita atasi.

Apa raksasa yang anda hadapi hari ini? Mungkin kegagalan, penyakit, kemelut rumah tangga, kesulitan keuangan atau kebiasaan buruk yang tidak pernah bisa dihilangkan, atau jenis-jenis kesusahan lainnya. Seringkali masalah-masalah ini menakutkan kita seperti halnya kita menghadapi raksasa yang secara logika tidak mampu kita atasi. Sehebat apapun usaha kita, masalah itu sepertinya tidak terkalahkan. Tapi sebenarnya alkitab berbicara banyak mengenai hal ini, dan ada sebuah kunci yang bisa menjadi senjata andalan kita dalam memenangkan pertarungan melawan raksasa-raksasa ini.

Mari kita lihat sejenak apa yang terjadi ketika Musa mengutus selusin pengintai untuk mengamati tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan, yang berlimpah susu dan madunya seperti yang tercatat dalam Bilangan 13. Setelah mengintai, 10 dari 12 orang itu merasa pesimis karena ternyata bangsa yang berdiam disana merupakan orang-orang raksasa. .."Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami." (ay 32-33). Secara logika tentu tidak mungkin seekor belalang mampu melawan raksasa yang jauh lebih besar bukan? Lalu mari kita pindah ke jaman Daud muda. Ketika itu, bangsa Israel pun menghadapi raksasa. Tidak main-main, di antara para prajurit Filistin ada seorang raksasa berukuran enam hasta sejengkal (kira-kira 3 meter) yang juga membuat para prajurit Israel ketakutan. Yang lain boleh takut, tapi tidak bagi Daud. Daud sepertinya adalah orang terkecil disana, yang bahkan tidak diikutsertakan dalam barisan. Tapi lihatlah ia tampil dengan penuh keyakinan untuk menghadapi seorang raksasa yang jauh lebih besar dari dirinya.

Para pengintai di masa Musa dan para prajurit Israel di jaman Daud muda sama-sama melihat raksasa. 10 dari 12 pengintai berpendapat sama dengan prajurit-prajurit Israel. Mereka sudah kalah sebelum bertempur. Tapi tidaklah demikian bagi Daud. Dan ini menjadi kunci utama bagaimana agar bisa menang menghadapi raksasa. Perhatikan apa kata Daud. "Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu." ( 1 Samuel 17:45). Kita bisa melihat bahwa Daud mampu yakin menang menghadapi raksasa yang berukuran jauh lebih besar darinya karena ia tahu pasti bahwa Tuhan ada bersamanya. Jika Tuhan ada bersamanya, maka tidak ada raksasa apapun, sebesar apapun, yang akan sanggup melawan. Pekerjaannya sebagai penggembala kambing dan domba sepertinya ringan, namun ternyata dalam pekerjaan itupun Daud sering menghadapi bahaya yang jauh lebih besar dari kemampuannya. Tapi lihatlah bahwa Daud sadar betul penyertaan Tuhan sanggup membuat perbedaan. Daud berkata: "Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup." (ay 36). Apakah karena kekuatan Daud sendiri? Tidak. Daud tahu bahwa semua itu mungkin ia lakukan karena ada penyertaan Tuhan dalam hidupnya. "Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." (ay 37). Dan kita tahu bagaimana akhir dari cerita itu. Daud sukses mengalahkan Goliat, seorang raksasa, dan kuncinya adalah penyertaan Tuhan.

Ada banyak raksasa yang harus kita hadapi dalam hidup ini, yang seringkali membuat kita takut dan menyerah sebelum mulai melakukan sesuatu. Ingatlah bahwa kita memiliki senjata andalan untuk menghadapi itu semua. Tuhan menyertai Daud, dan Daud mampu mengalahkan raksasa. Hal yang sama pun bisa terjadi bagi kita. Sekali lagi, kuncinya adalah penyertaan Tuhan yang jauh lebih besar kuasanya dari apapun juga di dalam hidup kita. Yesus mengatakan "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20a). Dan lewat Kristus kita pun telah dianugerahi Roh Kudus yang akan selalu menyertai kita. "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya" (Yohanes 14:16). Ada Tuhan yang selalu bersama dengan kita, dan itu akan memampukan kita untuk menghadapi raksasa-raksasa dalam hidup kita.

Apapun raksasa yang anda hadapi hari ini, apakah itu beban masalah, konflik keluarga, kegagalan, masalah keuangan atau kebiasaan buruk yang sulit dilepaskan dan sebagainya, percayalah anda mampu menghadapi itu semua. Bukan dengan kuat dan gagah diri sendiri, tetapi dengan adanya penyertaan Tuhan. Firman Tuhan jelas berkata "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." (Lukas 1:37). Atau dalam bahasa Inggrisnya dikatakan lebih jelas lagi: "For WITH GOD nothing is ever impossible and no word from God shall be without power or impossible of fulfillment." Perhatikan kata "WITH GOD", alias "DENGAN ALLAH". Tidak ada yang mustahil jika kita bersama dengan Tuhan, termasuk menundukkan raksasa-raksasa yang tengah mempersulit hidup anda. Jangan biarkan raksasa manapun menakut-nakuti diri anda. Tuhan menjanjikan kemenangan, dan jangan biarkan siapapun merampas kemenangan itu dari diri anda. Raksasa mana yang saat ini menguasai diri anda? Kalahkanlah raksasa itu hari ini juga.

Tidak ada raksasa yang mampu mengalahkan kita jika kita berjalan bersama dengan Tuhan
You are subscribed to email updates from renungan harian online
To stop receiving these emails, you may unsubscribe now.
Email delivery powered by Google
Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Tuesday, May 18, 2010

"Aku berdoa supaya tidak menangis"

Gw dpt ini dari blog seseorang yg gw sendiri dah lupa alamat blog nya apa, semoga renungan ini bisa menguatkan siapa saja yang membaca dan kita semua diingatkan utk selalu berpengharapan kepada Tuhan.

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap
mobil mainan yang dimiliki.. Semuanya buatan sendiri,sebab memang begitulah

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya
sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan.
Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah di antaranya. Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa.

Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!". Dor!!! Tanda telah dimulai.
Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat… Semua mobil tu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.

"Ayo..ayo… cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka.
Ahha…sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai.
Dan…
Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya.
"Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?"
Mark terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Mark.
Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain, aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah."

Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua.
Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian.
Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya.
Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya.

Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata.

Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat.
Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah.

Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian.
Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu ujian tersebut.

Amin….


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Friday, May 14, 2010

A Self Reflection - PART I

Impian vs Mimpi

Pekerjaan saya membuat saya berhubungan dengan banyak orang dan akhirnya membuat saya mempunyai kesempatan untuk mengenal karakter dari masing – masing orang. Setiap kali saya akan memulai suatu training (kepada klien maupun kepada karyawan baru) atau presentasi kepada calon customer saya, biasanya saya selalu bertanya kepada mereka tentang kondisi mereka saat ini dan bandingkan dengan beberapa tahun kebelakang lalu tanyakan pada diri sendiri apakah kondisi kita saat ini lebih baik, tidak ada perubahan atau bahkan mengalami kemunduran. Jawabannya ber variasi rata – rata menyatakan mereka lebih baik, tetapi ada juga yang tidak mengalami perubahan dan sedikit sekali yang mengalami kemunduran. Setelah itu, saya tanyakan impian mereka, apa yang mereka bayangkan untuk masa depan mereka, akan menjadi lebih baik ? Mau tetap berjalan di tempat ? Atau malah mundur ? Untuk yang satu ini semua orang rata – rata pasti menjawab bahwa mereka ingin lebih baik daripada saat ini.

Tetapi yang lucunya, walaupun rata – rata orang menginginkan perubahan kearah yang lebih baik, rata – rata orang yang saya tanyakan hal tersebut diatas tidak dapat menggambarkan atau memberikan penjelasan yang lebih detail tentang arti menjadi lebih baik tersebut. Temans, inilah sebenarnya inti dari masalah kita termasuk saya sendiri dalam hal ini, kadang lupa untuk bisa menentukan arah yang pasti untuk kita tuju. Ini sama saja seperti naik ke dalam mobil lalu mengendarai mobil tersebut tanpa tujuan sampai akhirnya kita kehabisan bahan bakar. Atau … ada juga beberapa orang yang tahu dengan jelas mau menuju kemana tetapi lupa untuk menggambar peta dan akhirnya terjebak pada jalan – jalan setapak yang mereka pikir bisa membawa mereka lebih cepat (mereka pikir adalah jalan pintas) yang pada kenyataannya justru menghambat perjalanan mereka dan yang lebih celaka nya lagi malah membuat mereka tidak bisa mencapai tujuan mereka. Orang – orang tipe ini sebenarnya merupakan orang – orang yang saya bilang mereka hanya "BERMIMPI" untuk bisa berhasil.

Di sisi lain, saya juga bertemu dengan beberapa orang yang DENGAN TEGAS bisa menyebutkan apa yang mereka mau capai, berapa lama hal tersebut dapat mereka capai, dan apa yang akan mereka lakukan jika hal tersebut tidak berhasil mereka dapatkan. Segelintir orang ini biasanya berhasil mendapatkan apa yang mereka mau, kenapa ? Karena mereka TAHU DAN MAU MENGEJAR IMPIAN mereka.

Naaaaahhh … setelah saya berpanjang lebar menjabarkan hal ini, teman – teman pasti sekarang sudah mengerti dong apa bedanya Impian dengan mimpi ? Sekarang pertanyaanya teman – teman mau menjadi yang mana ? Yang mempunyai impian atau yang hanya bermimpi ? sedikit panduan bagi teman – teman dalam mengejar impian. Sebuah impian itu harus :
1. Bisa dihitung (bisa dalam bentuk nominal misalnya : saya mau mempunyai penghasilan sebesar Rp. 10.000.000 per bulan)
2. Mempunyai target berapa lama impian itu harus dapat dicapai (misalnya : saya mau mempunyai rumah senilai 1 M dalam jangka waktu 5 tahun) karena dengan begitu kita bisa menentukan rencana jangka pendeknya.
3. Harus masuk akal, memang tidak ada yang mustahil, tetapi jika kita seorang sarjana ekonomi tetapi memiliki keinginan untuk menjadi seorang penemu di bidang fisika hal itu merupakan yang mustahil bukan ?
4. Jangan pernah lupa dengan hal yang satu ini …. "Menyerahkan segala sesuatunya ke dalam tangan Tuhan" Yakin dan percayalah bahwa Tuhan pasti akan menyertai setiap langkah kita jika kita benar – benar berserah kepadaNya.
5. Fokus pada tujuan, kadang hal – hal kecil ataupun godaan – godaan kecil bisa membuat kita goyah dari tujuan kita.

Semoga apa yang saya tulis ini bisa menjadi berkat bagi teman – teman semua. Dan akhir kata saya mau bilang "Mari kita kejar impian kita bersama – sama dan menjadi orang yang berhasil dibidang yang kita inginkan"

"Nothing is impossible with God"


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Tuesday, May 11, 2010

Fwd: renungan harian online

Elang dan Lebah

Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ======================
"Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku."

Hari ini istri saya mendapatkan sebuah fakta menarik yang dikirimkan temannya lewat email mengenai burung elang dan lebah. Jika seekor burung elang dikandangkan dalam ukurang sangkar berukuran 2 x 2.5 m, meski atap sangkarnya dibuka, burung elang itu tidak akan bisa terbang. Ternyata burung elang membutuhkan landasan pacu untuk berlari terlebih dahulu sekitar 3 sampai 3.5 m untuk bisa melayang ke angkasa. Di sisi lain, seekor lebah yang terjatuh ke dalam segelas kopi tidak akan bisa kembali terbang pula, karena seekor lebah akan sibuk berputar ke sekeliling gelas sampai mati. Lebah tidak pernah melihat jalan keluar pada bagian atasnya, tetapi hanya akan berusaha mencari jalan keluar lewat pinggiran gelas. Padahal jalan keluar tidak ada di sana, semua jalan tertutup, dan dengan ketidaksadaran lebah untuk melihat jalan keluar di atas, lebah itu pun akan menemui ajalnya. Ini kisah menarik yang seringkali terjadi pada diri kita. Seperti halnya elang dan lebah di atas, kita sering lupa bahwa ada Tuhan di atas segalanya yang sanggup memberikan jawaban, jalan keluar atau pertolongan, tidak peduli seberat apapun masalah yang kita hadapi. Tapi sama seperti lebah di atas, kita seringkali hanya berputar-putar mencari cara untuk melepaskan diri kita dari masalah, terus mengandalkan kekuatan sendiri saja, atau berharap pada manusia lain, bahkan terjerumus ke dalam alternatif-alternatif yang padahal dianggap jahat di mata Tuhan. Dengan kata lain, kita sibuk mencari solusi dengan cara-cara duniawi dan lupa memandang Allah Surgawi kita. Kita sibuk memfokuskan diri kepada masalah lalu lupa kepada Allah yang sanggup menjadi jawaban atas segala keadaan kita hari ini.  Yusuf pernah secara langsung mengalami situasi seperti burung elang di atas ketika ia dijerumuskan ke dalam sumur sempit yang gelap oleh saudara-saudara kandungnya sendiri. "Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair." (Kejadian 37:24). Tidak ada catatan bahwa Yusuf berteriak-teriak ketakutan, memohon belas kasih saudara-saudaranya. Tidak ada catatan bahwa Yusuf merasa panik meski tidak ada yang tahu berapa lama ia akan dibiarkan dalam sumur itu. Jika kita berada dalam situasi seperti itu, mungkin kita akan berpikir bahwa itulah akhir dari hidup kita. Mati pelan-pelan tersiksa disana. Tapi tidak bagi Yusuf. Ia masih melihat cahaya terang dari atas. Dan selama ia masih melihat ada "Terang" dari atas, itu artinya pengharapannya belumlah habis. Masih ada Tuhan, di atas sana, yang sanggup melepaskan dirinya. Mungkin bukan saat itu juga, tapi pada waktunya Tuhan pasti mengangkatnya dan membawanya ke dalam keberhasilan-keberhasilan yang gemilang. Saya yakin itu memenuhi pikiran dan hati Yusuf, karenanya ia tidak pernah bersungut-sungut dan mengeluh meski setelah lepas dari sumur ia masih harus mengalami berbagai penderitaan beberapa tahun lamanya. Jika hari ini anda berada dalam lautan masalah dan merasa terus berputar-putar tanpa hasil yang jelas dengan mengandalkan kekuatan anda sendiri, ini saatnya anda mulai melihat ke atas. Pandanglah Tuhan dan serahkan segala beban anda kepadaNya. Percayalah dengan kesungguhan penuh bahwa Tuhan jauh lebih dari sekedar sanggup untuk membantu anda keluar dari masalah. Tuhan selalu ada beserta anak-anakNya, bahkan dalam kegelapan yang tergelap sekalipun. Daud juga merupakan orang yang mengalami banyak pergumulan hidup sejak masa kecilnya. Tapi lihatlah bagaimana keteguhan hatinya untuk percaya kepada penyertaan Tuhan. "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4). Daripada fokus kepada masalah, yang seringkali tidak membawa keuntungan apapun bagi kita malah akan memberatkan langkah kita lebih dan lebih lagi, mengapa tidak melakukan perubahan dengan memandang ke atas dan mengandalkan Tuhan, yang jauh lebih berkuasa dari apapun juga? Tuhan tidak menginginkan kita menjadi burung elang yang terperangkap dalam sangkar sempit dan tidak bisa terbang meski dengan atap terbuka sekalipun. Dengan penyertaannya, kita dijanjikan seperti ini: "tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." (Yesaya 40:31). Tuhan pun tidak ingin kita seperti lebah yang terus mencari solusi ke kiri dan kanan, berputar-putar tanpa arah dan tujuan, lalu lupa untuk melihat jalan keluar sebenarnya terbentang di atas kita. Firman Tuhan pun berkata: "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7). Bagi orang yang mengandalkan Tuhan, "Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah." (ay 8). Firman yang tepat sama pun hadir lewat Daud. "Berbahagialah orang yang...kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Ketika anda merasa kesulitan dan menderita akibat berbagai masalah yang membebani hidup anda, ingatlah bahwa di atas sana ada Tuhan yang peduli dan mengasihi kita dengan sepenuhnya. Tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk diatasi olehNya. Dan selama kita hidup mengandalkan Tuhan, selama kita berjalan bersamaNya, mengapa kita harus khawatir? Kita bisa belajar dari ketidaksadaran yang dilakukan lebah dan elang di atas agar kita tidak harus berakhir dengan cara yang sama. Solusi selalu ada dalam Tuhan, yang akan selalu menyertai kita dengan kasihNya yang luar biasa meski kita berada dalam lembah kekelaman sekalipun. Ketika sekeliling anda gelap, arahkanlah pandangan pada terang di atas anda You are subscribed to email updates from renungan harian online To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. Email delivery powered by Google Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Monday, May 10, 2010

Fwd: renungan harian online

Sumber: renungan harian online

Every Man For Himself

Ayat bacaan:Yohanes 5:7 ====================== "Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."

"Sumbangan lagi, sumbangan lagi... nanti dulu deh, untuk beli mobil saja belum cukup.." kata seseorang pada suatu kali ketika melihat peminta sumbangan tengah berada tidak jauh darinya. Ia mungkin hanya bercanda, tetapi itu adalah gambaran sebagian besar orang yang selalu merasa kekurangan dan tidak pernah merasa cukup. Kita cenderung menimbun dan menimbun dan merasa rugi untuk menabur. Bahkan perpuluhan pun menjadi perdebatan, apakah harus tepat 10% atau serelanya. Begitu banyak masalah di sekitar kita, begitu banyak orang yang butuh bantuan di sekeliling kita, itu faktanya. Padahal seandainya saja orang-orang percaya mengikuti apa yang disuarakan Kristus mengenai saling tolong menolong, sekiranya kita mengimani betul bagaimana kasih Allah, maka rasanya jumlah orang yang menderita bisa menurun dengan sangat drastis. Dalam hal kerohanian pun begitu. Kita semua ingin selamat, tidak satupun dari kita yang ingin berakhir dalam penyesalan kekal, namun berapa banyak di antara kita yang peduli kepada nasib begitu banyak saudara-saudara kita lainnya? Every man for himself, yang penting kita selamat. Itu pola pikir dunia yang sayangnya banyak pula dianut oleh orang-orang percaya. Dan itu bukanlah sebuah sikap yang diinginkan oleh Tuhan dari anak-anakNya. Mari kita lihat lagi kisah kedatangan Yesus ke kolam Betesda dalam Yohanes 5:1-18. Kolam Betesda adalah tempat dimana orang-orang sakit bisa berharap untuk disembuhkan. Ada malaikat-malaikat yang muncul sewaktu-waktu di sana, dan begitu air diguncangkan oleh para malaikat itu, maka orang sakit yang pertama kali masuk menceburkan diri ke kolam akan sembuh, apapun penyakitnya. Tidaklah heran jika ada begitu banyak orang sakit berada di setiap serambi atau koridor yang menuju ke kolam. Jika kemarin yang saya angkat menjadi tulisan adalah kepedulian Yesus terhadap orang-orang berdosa, maka hari ini mari kita lihat bagaimana sifat mementingkan diri sendiri sudah berlangsung sejak dahulu kala. Ketika itu ada seorang yang sudah mengalami sakit selam 38 tahun lamanya (ay 5) dan Yesus pun hadir menemuinya seraya bertanya, "Maukah engkau sembuh?" (ay 6). Lihatlah bagaimana jawaban orang tersebut: "Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." (ay 7). Seperti itulah manusia pada umumnya, yang hanya peduli kepada keselamatan diri sendiri tanpa mau memikirkan orang lain. Apa yang terjadi jika ada yang sembuh? Sepertinya mereka akan langsung pulang tanpa mempedulikan orang lain yang menderita disana. Mengapa tidak bergantian saja? Karena seperti itulah gambaran sifat banyak orang, hanya mementingkan dirinya sendiri. Every man for himself. Hal seperti itu tidaklah diinginkan oleh Tuhan. Kita diselamatkan untuk menyelamatkan. Karena itulah Yesus sendiri memberi Amanat Agung yang bisa kita baca dalam Matius 28:18-20. Sikap mementingkan diri sendiri tidaklah menggambarkan pribadi Allah sama sekali, dan itu pun tidak sesuai dengan perintah agar kita bisa menjadi terang dan garam di dunia ini. Jika kita melihat bagaimana cara hidup jemaat mula-mula seperti yang tertulis dalam kitab Kisah Para Rasul, kita akan melihat sendiri betapa cara hidup kita saat ini begitu jauh melenceng dari sikap mereka. Jemaat mula-mula memiliki kepedulian yang besar terhadap saudara-saudara mereka. Alkitab menyatakannya seperti ini: "Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing." (Kisah Para Rasul 2:44-45). Dan hal ini kemudian diulangi lagi dalam Pasal berikutnya. "Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama" (4:32). Tidak heran jika dikatakan "tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka" (ay 34), dan dengan demikian Tuhan berkenan dan terus menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (2:47). Bayangkan jika semua orang percaya memiliki sikap seperti itu, saya yakin kita akan melihat kebangunan rohani dan pemulihan secara besar-besaran di dunia ini. Selama sikap mementingkan diri sendiri masih menjadi bagian dalam hidup kita, maka jangan berharap kita mampu melihat hal tersebut. Yesus sendiri menginginkan kita untuk mengasihi sesama kita seperti halnya Dia sendiri mengasihi kita. (Yohanes 13:34). Hanya dengan cara itulah kita mampu memenuhi hukum Kristus. Paulus mengingatkan kita: "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2). Yohanes pun mengingatkan hal yang sama: "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17). Ya, bagaimana kita bisa mengaku sebagai anak-anak Allah yang memiliki kasih Allah dalam diri kita jika kita masih berhitung untung rugi dalam membantu sesama kita? Bagaimana kita bisa memproklamirkan diri sebagai pengikut Kristus jika kita masih tega berdiam diri melihat orang-orang yang ditimpa kesulitan? Itu bukan gambaran anak-anak Tuhan seperti yang Dia kehendaki. Oleh karena itu, mari kita hari ini lebih peka terhadap kesulitan saudara-saudara kita, tanpa memandang siapa mereka dan dari mana mereka berasal. Ingatlah bahwa Tuhan mengasihi mereka semua, sama seperti Tuhan mengasihi kita, dan kita diminta untuk mau berempati dan menolong mereka sebesar-besar kemampuan kita. Perhatikan sekeliling anda, adakah orang yang tengah kesulitan? Jika ada, mengapa tidak mulai mengulurkan tangan dan menyampaikan kasih Kristus kepada mereka saat ini juga? Tuhan mencukupi bahkan memberi kelimpahan kepada kita, pakailah itu untuk memberkati sesama You are subscribed to email updates from renungan harian online To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. Email delivery powered by Google Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Friday, May 7, 2010

Fwd: renungan harian online

Sumber: renungan harian online

Ujian Kesabaran

Ayat bacaan: Kejadian 40:23 ========================

"Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya."

Pernahkah anda merasa kesal ketika apa yang anda katakan dilupakan orang? Bagi saya itu seperti sebuah ujian kesabaran. Sebagai pengajar seringkali saya merasa kesal ketika siswa-siswi saya lupa terhadap apa yang sudah saya ajarkan. Padahal saya sudah mengulang-ulang pelajaran agar diingat, dan seharusnya mereka bisa mencatat dan kemudian membaca kembali sebelum pelajaran berlangsung. Tidak jarang pula mereka sudah lupa padahal baru saja saya katakan. Atau ketika mereka mengaku lupa mengerjakan tugas, atau malah ketika mereka lupa ada jadwal kuliah. Merasa kesal ketika menghadapi kelupaan seseorang adalah hal yang kita alami sehari-hari. Anggaplah itu sebuah ujian kesabaran, karena kita sendiri yang repot jika kita terus membiarkan diri kita dikuasai kekesalan. Mari kita lihat sebuah contoh mengenai kelupaan yang jauh lebih buruk dari yang biasa kita alami dalam Alkitab melalui kisah Yusuf. Ketika Yusuf berada dalam penjara, Yusuf mengartikan mimpi dari seorang kepala juru minum dan juru roti yang sama-sama sedang dipenjara bersamanya. Mimpi itu mengarah kepada kebebasan juru minum dan kematian juru roti tu dalam waktu 3 hari. Yusuf pun berpesan kepada sang juru minuman seperti ini: "Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini." (Kejadian 40:14). Tepat seperti yang diartikan Yusuf, 3 hari kemudian semua itu terjadi. Sang Juru minuman yang telah bebas seharusnya mengingat Yusuf dan mengupayakan dengan serius agar Yusuf pun bisa menghirup udara kebebasan lagi. Tapi apa yang terjadi? Ia melupakan Yusuf. Alkitab mencatatnya demikian: "Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya." (ay 23). Bayangkan seandainya kita di posisi Yusuf, tidakkah kita akan kesal? Ini bukan berbicara mengenai satu-dua hari, tetapi dalam Alkitab kita mengetahui bahwa Yusuf dilupakan selama dua tahun! (41:1). Artinya Yusuf harus mengurut dada dan bersabar selama itu, dan selama masa penantian itu dia tidak tahu kapan ia akan mendapatkan kebebasannya. Hanya menanti dan terus menanti, berharap dan terus berharap. Setelah 2 tahun, akhirnya juru minuman itu mengatakan kepada Firaun mengenai Yusuf (ay 9) dan Yusuf pun mendapatkan kembali kebebasannya. Apa yang dialami Yusuf adalah sebuah contoh ekstrim bagaimana kita harus bersabar menghadapi kelupaan seseorang. Dua tahun menanti tanpa kepastian dalam penjara yang gelap dan pengap, itu tentu berat bukan? Belum lagi rasa kecewa atau sakit hati yang mungkin timbul karena merasa dilupakan atau malah dikhianati. Tapi Yusuf tampaknya tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh emosi atau dendam seperti itu. Yusuf juga tidak membiarkan dirinya menyerah dalam keputus-asaan. Apa yang menjadi kunci dari kesabaran Yusuf mengalami berbagai masalah adalah penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Kita bisa melihat hal itu dalam beberapa ayat, seperti "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya.."(39:2) atau "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu." (ay 21). Yusuf menyadari betul bahwa dalam proses yang tidak mengenakkan sekalipun, Tuhan ada besertanya, dan itu lebih dari cukup untuk membuatnya bisa bersabar menghadapi masalah. Tidak saja Yusuf yang menyadari, tetapi penyertaan Tuhan itu pun dapat dirasakan oleh orang-orang yang berhadapan dengannya. "Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya..." (ay 3-4a). Firaun sekalipun bisa merasakan bahwa Yusuf adalah "seorang yang penuh dengan Roh Allah." (41:38). Itu kunci dari sikap Yusuf agar bisa terus bersabar, karena jelas jika ia mengandalkan kemampuan dirinya sendiri untuk bersabar hanyalah akan sia-sia saja. Bagaimana dengan kita? Apakah kita tengah diuji menghadapi batas-batas kesabaran kita saat ini? Apakah situasi sudah membuat anda kesal dan tertekan hingga mulai kehilangan kesabaran? Apakah orang-orang disekitar anda saat ini tengah mencoba menguji kesabaran anda? Ini saatnya untuk melihat kisah Yusuf. Seperti halnya Yusuf, Tuhan pun telah berjanji bahwa Dia akan selalu menyertai kita pula. "..Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5). Sadarilah bahwa dalam kondisi tidak mengenakkan sekalipun sesungguhnya Tuhan ada bersama kita. Let's check our resource, find Him in our hearts, and feel that He actually IS with us all the time. Dan kesabaran kita tidak akan pernah sia-sia. Jika anda merasa tidak bisa sabar lagi hari-hari ini, bersandarlah pada Tuhan yang selalu ada bersama diri anda. Jangan pernah ragukan kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup anda, sehingga anda tidak perlu lagi tertekan oleh kekesalan. Bersabarlah menunggu waktu Tuhan, dan pegang terus dengan keyakinan teguh bahwa Tuhan mengasihi dan menyertai anda. Let's fight our impatience with trusting Him! "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12) You are subscribed to email updates from renungan harian online To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. Email delivery powered by Google Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Wednesday, May 5, 2010

Fwd: renungan harian online

Sumber: renungan harian online

Ingat Selalu Akan Tuhan

Ayat bacaan: Ibrani 12:3 =====================

"Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa."

Tidak gampang untuk berjuang, berusaha lebih baik lagi dalam segala hal dari hari ke hari. Ada banyak orang yang memotivasi dirinya dengan mengingat orang-orang yang mereka kasihi, atau yang sudah berjasa dan berkorban bagi mereka. Tidak jarang teman-teman saya yang berasal dari perantauan membawa foto orang tuanya kemanapun mereka pergi agar mereka tetap memiliki fokus dan tujuan. Ada kalanya keletihan akibat beratnya beban kerja atau beban hidup membuat semangat kita lemah bahkan akhirnya menyerah dalam keputus-asaan. Ada saat-saat tertentu dimana saya merasa sangat lelah dan jenuh, tetapi membayangkan senyum istri saya akan membuat saya kembali bergairah untuk mengerjakan yang terbaik dalam apapun yang sedang saya lakukan. Mengingat orang-orang yang kita kasihi atau mereka yang telah berjasa dalam hidup kita biasanya mampu membuat kita kembali bersemangat. Jika mereka ini saja sudah mampu mengembalikan semangat kita, apalagi Tuhan. Itulah sebabnya kita diajak untuk selalu mengingat Tuhan dalam tiap langkah, terutama ketika kita sedang didera keletihan akibat beban berat yang bisa melemahkan dan membuat kita putus asa. Setelah dalam beberapa hari terakhir kita melihat hal-hal penting yang patut diingat dalam menjalani perlombaan iman, hari ini kita melihat sebuah lagi pesan penting yang tertulis dalam kitab Ibrani. Melepaskan beban dan dosa yang memberatkan kita, ketekunan, dan fokus kepada Kristus seperti yang tertulis dalam Ibrani 12:1-2, hari ini kita melihat ayat selanjutnya. "Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa." (Ibrani 12:3). Ini merupakan tips berikutnya yang perlu kita ingat agar kita mampu keluar sebagai pemenang dalam perlombaan yang sudah diwajibkan bagi kita semua selama hidup masih berlangsung. Jika kita membaca di Alkitab, ada begitu banyak tokoh yang pengalaman hidupnya begitu mencengangkan, bukan karena kehebatan mereka tetapi karena pertolongan Tuhan. Lihatlah sebuah contoh, misalnya Daud. Ketika Goliat mencemooh barisan tentara Israel dan membuat mereka dicekam ketakutan dan kebimbangan, Daud yang masih sangat muda tampil dengan penuh keyakinan di medan pertempuran. Apa yang membuat Daud berani dan yakin menang dalam menghadapi musuh yang jauh lebih besar dengan atribut perang lengkap? Kita bisa membaca dengan jelas tentang apa yang ada di benak Daud saat itu. "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya." (1 Samuel 17:34-35). Pengalaman pribadi Daud bersama penyertaan Tuhan setiap kali ia menggembalakan domba telah membuat imannya terus bertumbuh. Ia terbentuk menjadi seseorang yang tahu betul bagaimana luar biasanya jika Tuhan ada bersamanya. Daud melanjutkan: "Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup." (ay 36). Bagi Daud, Goliat si raksasa tidaklah lebih dari hewan buas yang setiap hari ia hadapi. Dan dari pengalamannya, Daud mampu mengambil sebuah kesimpulan: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." (1 Samuel 17:37). Perhatikan, Daud tidak takut dan tidak ragu menghadapi Goliat bukan karena ia ahli perang, bukan karena ia memiliki senjata rahasia mematikan, namun ia bisa demikian karena ia mengingat bagaimana luar biasanya penyertaan Tuhan sepanjang hidupnya. That's the faith, dan kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ketika Daud mengingat Tuhan dan penyertaanNya, ia pun menjadi tidak takut dan kemudian berani menghadapi tantangan yang begitu besar. Keyakinan Daud yang didasarkan kepada pengalamanNya bersama Tuhan membuatnya berhasil mengalahkan Goliat hanya dengan bersenjatakan umban dan batu. Masalah boleh saja datang. Besar atau kecil, itu bukan soal. Apa yang menjadi soal adalah apakah kita mau terus mengingat Tuhan atau kita malah melupakanNya dan memilih untuk fokus terhadap permasalahan-permasalahan yang ada. Demikian pula dalam perjalanan hidup kita, yang bagaikan mengikuti perlombaan, akan selalu ada banyak masalah, beban, tekanan dan kesulitan hidup yang terus datang silih berganti. Semua itu tidak bisa kita hindari. Tapi kita tidak perlu takut jika kita selalu ingat akan Tuhan. Jika Tuhan pernah melepaskan kita dari masalah di masa lalu, kenapa kali ini Dia tidak sanggup? Kalaupun anda belum pernah mengalami mukjizat Tuhan turun secara luar biasa, di sepanjang Alkitab kita bisa menemukan begitu banyak contoh mengenai keajaiban melawan logika manusia yang terjadi pada para tokoh. Tadi kita sudah menyinggung pengalaman Daud. Ingatkah anda bagaimana Sadrakh, Mesakh dan Abednego selamat dari perapian menyala-nyala, dan Daniel selamat dalam gua singa? Atau ingatkah anda bagaimana Tuhan menyelamatkan bangsa Israel dari kejaran Firaun dan pasukannya dengan membelah Laut Teberau dalam Keluaran 14:15-31? Ada begitu banyak lagi contoh-contoh lainnya mengenai bagaimana penyertaan Tuhan mampu membuat perbedaan, bahkan yang tidak terpikirkan sekalipun sanggup Dia lakukan dan itu sudah terbukti berkali-kali. Jika dahulu Dia sanggup melakukan itu, mengapa sekarang tidak? Jika bagi mereka itu terbukti, mengapa tidak bagi anda dan saya? Beban dan masalah akan selalu hadir sepanjang hidup kita. Tapi dengan mengingat Tuhan senantiasa kita pun akan mampu terhindar dari kelemahan dan keputus-asaan. Kepada bangsa Israel, Musa pun mengingatkan hal yang sama. "Jika sekiranya engkau berkata dalam hatimu: Bangsa-bangsa ini lebih banyak dari padaku, bagaimanakah aku dapat menghalaukan mereka? maka janganlah engkau takut kepada mereka; ingatlah selalu apa yang dilakukan TUHAN, Allahmu, terhadap Firaun dan seluruh Mesir,yakni cobaan-cobaan besar, yang kaulihat dengan matamu sendiri, tanda-tanda dan mujizat-mujizat, tangan yang kuat dan lengan yang teracung, yang dipakai TUHAN, Allahmu, untuk membawa engkau keluar. Demikianlah juga akan dilakukan TUHAN, Allahmu, terhadap segala bangsa yang engkau takuti." (Ulangan 7:17-19). Jangan fokus kepada masalah dan kemudian melupakan Tuhan, tetapi sebaliknya ingatlah selalu akan Dia, yang sudah berjanji akan selalu menyertai kita. Bukan hanya untuk saat ini saja, tetapi dikatakan sampai akhir zaman. Artinya Tuhan menyatakan bahwa kita tidak akan pernah dibiarkan sendirian, dan penyertaanNya akan selalu mampu membuat perbedaan. Jika demikian, mengapa kita harus takut? Dan itu akan membuat kita mampu menyelesaikan perlombaan hingga keluar menjadi pemenang. Berbagai langkah telah jelas dinyatakan lewat Firman Tuhan. Tuhan tidak sekedar menyuruh kita berlomba dan membiarkan kita, tetapi Dia telah menyediakan langkah-langkah yang jika kita lakukan akan mampu membawa kita berhasil dalam menyelesaikan perlombaan. Siapkah anda memenangkan perlombaan? Sekali lagi, untuk menang kita harus membuang beban dan dosa yang merintangi kita, senantiasa bertekun, fokus dengan mata yang tertuju pada Kristus dan jangan pernah melupakanNya. Semua ini akan mampu membawa kita meraih mahkota kehidupan seperti yang telah dijanjikan Tuhan di depan sana. Mari kita selesaikan sisa perlombaan ini dan keluar sebagai pemenang. Ingatlah selalu akan Tuhan agar kita tidak menjadi lemah dan menyerah putus asa You are subscribed to email updates from renungan harian online To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. Email delivery powered by Google Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone