Tuesday, June 29, 2010
Tuhan menjawab pada waktuNya bukan waktu kita
Gw mau share nich. Utk yg sering datang KopDar pasti dah tahu kl gw ngelamar di perusahaan konsultan manajemen dari luar negeri dgn nama IMPAC.
Pada saat itu stlh interview via skype gw akhirnya lolos ke step berikutnya yaitu menjalani Test Online ... Test itu harus gw selesaikan dlm jangka waktu 2 minggu terdiri dari 7 Bab dan beberapa sub bab mereka minta gw utk selesaikan dgn nilai min 80 % dan Puji Tuhan I scored 92,4 %. Seharusnya gw dpt kabar kelanjutan dari proses ini sejak dari 1 - 2 bulanan lalu. Tapiiiiiii ... Selama itu gw gk dpt jawaban apa2 ... Gw coba hub personalia utk Asianya dan jawaban yg gw terima adlh mrk msh nunggu kepastian dari klien mereka. Dan selama bbrp minggu semua panggilan via skype gw gk pernah dijawab.
Pagi ini gw sm Istri doa utk usaha cuci helm, cutting stiker dan lampu LED yg lg gw rintis, intinya gw mau Tuhan memberkati usaha gw ini (thx for the share Sis Jo ... Gw diingatkan utk lakukan ini) dan gw juga bawa ttg IMPAC di doa gw ... Gw cuma bilang semua jawabanMu adalah baik untuk gw ... Diterima atau tidak adalah keputusanMu dan gw akan bersyukur utk itu apapun jawabannya ... And guess what ??? Gw dpt email siang ini yg blg bahwa gw lolos ke next interview di Kamis besok tgl 1 Juli 2010 .... Gilaaaa ... !!! Bro and Sis, gw speechless ... Gw gk nyangka dpt jawaban secepat ini ... Bener2 Tuhan jawab pertanyaan gw ... In His time NOT MINE. Disaat gw sendiri berpikir gw gk lolos dan kyknya gk bkl ada jawaban malah Dia ksh jawaban.
Lesson learned :
"Jangan pernah putus asa, bertekunlah dalam doa dan selalu berpengharapan karena Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan BUKAN yg kita minta didalam waktuNya bukan waktu kita"
"For with HIM everything is possible"
Have a blessed day Bro and Sis
Regards,
Michael S.
michaelsahertian.blogspot.com
Sent from my BlackDragon® smartphone support by Christ Almighty ™
Thursday, June 17, 2010
A Self Reflection - Part II
"To forgive and forget" … hmmm mendengar atau membaca kalimat ini membuat saya teringat dengan text lagu yang dinyanyikan oleh salah satu grup band yang cukup terkenal beberapa tahun lalu "The Corrs" yang kira – kira bunyinya begini "…… you're forgiven not forgotten …. " Kenapa sich kadang kita bisa memberikan maaf kepada seseorang tapi tidak bisa melupakan ? Dan kenapa kita HARUS memaafkan dan melupakan ??? Apa sich bedanya ??? Mari kita coba telaah yach …. (saya coba angkat dari kisah Daud – pasti semua tahu doong siapa Daud ??)
Pada masa – masa awal perjalanan (pembentukan) Daud menjadi seorang Raja Israel, dia diperhadapkan pada situasi yang sangat sulit. Dari mempunyai pasukan, jabatan dan istri yang cantik (anak dari Raja Saul) menjadi seorang buronan kerajaan yang disebabkan oleh kecemburuan Raja Saul karena Daud LEBIH DIBERKATI, LEBIH DICINTAI oleh Tuhan dan oleh rakyat Israel. Tetapi, di sisi lain, Alkitab juga mencatat bahwa Daud sebenarnya mendapatkan dua kesempatan untuk membunuh Raja Saul :
1. Yang pertama di dalam sebuah gua di wilayah En Gredi. Dimana pada saat Raja Saul membuang hajat di dalam gua yang dimana Daud dan orang-orangnya bersembunyi … tetapi apa yang terjadi ??? Daud tidak mau melakukan itu, ia hanya memotong pucung jubah yang dikenakan oleh Saul, itupun membuat dia merasa bersalah, karena dalam pandangannya, Raja Saul merupakan orang yang diurapi oleh Allah.
2. Tidak lama setelah itu Raja Saul, kembali melakukan pengejaran terhadap Daud, tetapi karena penyertaan Tuhan, sekali lagi Daud mendapatkan kesempatan untuk membunuh Raja Saul pada saat dia dan pasukannya sedang tertidur lelap, kembali disini kita melihat kebesaran hati Daud, ia tidak mencabut nyawa Raja Saul tetapi hanya mengambil tombak dan kendi milik sang Raja.
Kenapa dua kesempatan tersebut dilewatkan oleh Daud, alasannya sederhana … KARENA Saul adalah orang yang diurapi oleh Tuhan. Di sisi lain Daud adalah juga orang yang diurapi oleh Tuhan, hal ini membuat saya percaya bahwa Tuhan lah yang menguasai pikiran Daud (coba teman – teman baca I Samuel 24 – 25, teman teman akan mendapatkan kata – kata .. TUHAN akan ……. TUHAN menyerahkan …….. orang yang diurapi TUHAN …… dimata TUHAN).
Teman – teman, pada saat saya membaca ini saya jadi berpikir tentang orang – orang yang menimbulkan penderitaan di dalam hidup saya. Kadang mudah untuk memberikan pengampunan kepada teman – teman kita, tetapi untuk memberikan pengampunan kepada mereka yang sudah menyebabkan saya menderita ??? Hmmmmm …. NANTI DULU … "You're forgiven but not forgotten !!!" Saya bukanlah orang yang diberkati dengan hati yang mengampuni, untuk beberapa orang mungkin hal itu merupakan hal mudah, memberi maaf, tidak pernah menyimpan dendam atau sakit hati mereka, tapi itu bukan saya … Boro – boro memberikan maaf, jika saya "dipotong" oleh seseorang pada saat saya mengendarai motor, atau berhadapan dengan orang yang mengendarai kendaraan dengan "sruntulan", mengendarai kendaraannya melawan arah lalu lintas, menerobos lampu merah …. Sudah dapat dipastikan jika tidak bisa diberitahu baik – baik pasti akan saya berikan banyak sekali "kasih" (baca : saya kasih banyak makian, pukulan dan tendangan) Tetapi saya diingatkan tentang hal ini oleh Tuhan pada saat saya membaca buku "Facing Your Giants" karangan Max Lucado. Dan saya membaca kisah ini di BAB 6, hati saya terpukul dengan kutipan ayat yang diambil dari Ayub 5:2 - "Sesungguhnya orang bodoh dibunuh oleh sakit hati,dan orang bebal dimatikan oleh iri hati"
Pembalasan dendam memusatkan perhatian kita pada saat – saat paling buruk dalam kehidupan kita. Membuat perhitungan akan terus membuat pandangan kita tertuju pada peristiwa – peristiwa kelam di masa lampau. Inikah yang ingin kita lihat ? Apakah dengan mengulang – ulang dan menghidupkan kembali sakit hati kita (bisa saja dipicu pada saat kita mendengar lagu, kata – kata, atau apapun yang mengingatkan kita akan orang tersebut) akan menjadikan kita sebagai manusia yang lebih baik ? Jawabannya TIDAK !!! Hal tersebut malah justru akan merusak kita.(1)
Orang – orang yang telah menyakiti hati kita akan tetap berada dalam rencana Allah. Jika dia masih hidup, maka hal itu merupakan buktinya: Allah belum putus asa mendidik mereka. Bisa saja mereka tidak mengikuti kehendakNya, keluar dari ajaranNya, TETAPI mereka TIDAK PERNAH keluar dari jangkauanNYA (seperti kisah kera sakti pada saat pertama kali dipanggil oleh Buddha untuk menemani sang biksu suci memulai perjalanan ke barat mencari kitab suci, dia tidak bisa melepaskan diri dari telapak tangan Buddha …. Teman – teman yang Buddha saya pinjam yach analoginya … hehehehehehehe …) Kita menghormati Tuhan jika kita memandang mereka bukan sebagai kegagalanNya, melainkan sebagai bagian dari rencanaNya.
Pembalasan dendam merupakan hakNya, hanya Dia yang memutuskan segala perkara dengan cermat, serahkanlah orang – orang yang sudah menyakiti kita, membuat luka dalam hati kita ke hadapan NYA. Kita bisa membenci apa yang sudah dilakukan oleh orang tersebut tanpa harus membiarkan kebencian merongrong hidup kita.
Pengampunan bukanlah kebodohan. Pengampunan pada intinya ialah memilih untuk memandang orang yang menyakiti kita dengan mata yang berbeda. Mengampuni berarti meneruskan perjalanan, tidak memikirkan pelanggaran itu lagi.Kita hanya mengarahkan pikiran kita tentang mereka ke surga, kita memandang orang – orang tersebut sebagai anak Allah dan pembalasan dendam sekali lagi merupakan tugas Allah.(2)
Jadi sekarang bisa doong "Forgive and Forget ???" bukan lagi "Forgiven but not forgotten ?"
Kita harus memberikan pengampunan karena kita sendiri telah diampuni.
Kita, seperti Raja Saul, sudah diberi pengampunan disisi lain kita juga seperti Daud, dapat memberikan pengampunan dengan leluasa.(3) Sama - sama belajar yuuuks ...
(1),(2),(3) Facing Your Giants, by Max Lucado
michaelsahertian.blogspot.com
Sent from my BlackDragon® smartphone support by Christ Almighty ™
Tuesday, June 1, 2010
Hasil Fellowship FoB 28/05/2010
Ada bbrp hasil dari Fellowship FoB 28/05/2010, sbb :
1. KopDar FoB tiap Rabu tetap ada dgn setiap hari Rabu Minggu Pertama di House of FoB - Petukangan
2. Krn banyak yg komplain tidak bs kumpul di hari Rabu, kita coba utk menggeser ke hari Jumat ... Mulai diperkenalkan di Jumat minggu pertama, FoB kumpul di Rumah Cing Mamat (blkg Kantor Walikota Jakarta Selatan yg baru)
3. Fellowship tiap Jumat minggu ke 2 dan ke 4
4. Di Minggu ke 4 Latihan VG FoB pukul 19:00 WIB di Tnh Abang (sblm Fellowship) dilatih oleh Bung Jerry Paays
5. Tim DoPel (Doa & Pelayanan) FoB telah dibentuk dgn Koordinator sementara Bro Michael
6. FoB akan mengadakan BakSos dgn Koordinator Cing Mamat dan Bro Michel Kotten.
7. FoB akan membuka hubungan dgn Bikers for Christ Indonesia (dijembatani oleh Sis Jo)
Mudah2an FoB bs semakin bertumbuh dan menjadi saksi hidup bagi pelayanan Tuhan.
"Riding and Testifying 'till The Kingdom Comes"
www.fellowshipofbikers.org
Sent from my FoBerry® smartphone powered by Christ Almighty
Wednesday, May 19, 2010
Fwd: renungan harian online
renungan harian online |
| Posted: 18 May 2010 08:00 AM PDT Ayat bacaan: 1 Samuel 17:45 ========================= "Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu." Apa raksasa yang anda hadapi hari ini? Mungkin kegagalan, penyakit, kemelut rumah tangga, kesulitan keuangan atau kebiasaan buruk yang tidak pernah bisa dihilangkan, atau jenis-jenis kesusahan lainnya. Seringkali masalah-masalah ini menakutkan kita seperti halnya kita menghadapi raksasa yang secara logika tidak mampu kita atasi. Sehebat apapun usaha kita, masalah itu sepertinya tidak terkalahkan. Tapi sebenarnya alkitab berbicara banyak mengenai hal ini, dan ada sebuah kunci yang bisa menjadi senjata andalan kita dalam memenangkan pertarungan melawan raksasa-raksasa ini. Mari kita lihat sejenak apa yang terjadi ketika Musa mengutus selusin pengintai untuk mengamati tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan, yang berlimpah susu dan madunya seperti yang tercatat dalam Bilangan 13. Setelah mengintai, 10 dari 12 orang itu merasa pesimis karena ternyata bangsa yang berdiam disana merupakan orang-orang raksasa. .."Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami." (ay 32-33). Secara logika tentu tidak mungkin seekor belalang mampu melawan raksasa yang jauh lebih besar bukan? Lalu mari kita pindah ke jaman Daud muda. Ketika itu, bangsa Israel pun menghadapi raksasa. Tidak main-main, di antara para prajurit Filistin ada seorang raksasa berukuran enam hasta sejengkal (kira-kira 3 meter) yang juga membuat para prajurit Israel ketakutan. Yang lain boleh takut, tapi tidak bagi Daud. Daud sepertinya adalah orang terkecil disana, yang bahkan tidak diikutsertakan dalam barisan. Tapi lihatlah ia tampil dengan penuh keyakinan untuk menghadapi seorang raksasa yang jauh lebih besar dari dirinya. Para pengintai di masa Musa dan para prajurit Israel di jaman Daud muda sama-sama melihat raksasa. 10 dari 12 pengintai berpendapat sama dengan prajurit-prajurit Israel. Mereka sudah kalah sebelum bertempur. Tapi tidaklah demikian bagi Daud. Dan ini menjadi kunci utama bagaimana agar bisa menang menghadapi raksasa. Perhatikan apa kata Daud. "Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu." ( 1 Samuel 17:45). Kita bisa melihat bahwa Daud mampu yakin menang menghadapi raksasa yang berukuran jauh lebih besar darinya karena ia tahu pasti bahwa Tuhan ada bersamanya. Jika Tuhan ada bersamanya, maka tidak ada raksasa apapun, sebesar apapun, yang akan sanggup melawan. Pekerjaannya sebagai penggembala kambing dan domba sepertinya ringan, namun ternyata dalam pekerjaan itupun Daud sering menghadapi bahaya yang jauh lebih besar dari kemampuannya. Tapi lihatlah bahwa Daud sadar betul penyertaan Tuhan sanggup membuat perbedaan. Daud berkata: "Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup." (ay 36). Apakah karena kekuatan Daud sendiri? Tidak. Daud tahu bahwa semua itu mungkin ia lakukan karena ada penyertaan Tuhan dalam hidupnya. "Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." (ay 37). Dan kita tahu bagaimana akhir dari cerita itu. Daud sukses mengalahkan Goliat, seorang raksasa, dan kuncinya adalah penyertaan Tuhan. Ada banyak raksasa yang harus kita hadapi dalam hidup ini, yang seringkali membuat kita takut dan menyerah sebelum mulai melakukan sesuatu. Ingatlah bahwa kita memiliki senjata andalan untuk menghadapi itu semua. Tuhan menyertai Daud, dan Daud mampu mengalahkan raksasa. Hal yang sama pun bisa terjadi bagi kita. Sekali lagi, kuncinya adalah penyertaan Tuhan yang jauh lebih besar kuasanya dari apapun juga di dalam hidup kita. Yesus mengatakan "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20a). Dan lewat Kristus kita pun telah dianugerahi Roh Kudus yang akan selalu menyertai kita. "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya" (Yohanes 14:16). Ada Tuhan yang selalu bersama dengan kita, dan itu akan memampukan kita untuk menghadapi raksasa-raksasa dalam hidup kita. Apapun raksasa yang anda hadapi hari ini, apakah itu beban masalah, konflik keluarga, kegagalan, masalah keuangan atau kebiasaan buruk yang sulit dilepaskan dan sebagainya, percayalah anda mampu menghadapi itu semua. Bukan dengan kuat dan gagah diri sendiri, tetapi dengan adanya penyertaan Tuhan. Firman Tuhan jelas berkata "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." (Lukas 1:37). Atau dalam bahasa Inggrisnya dikatakan lebih jelas lagi: "For WITH GOD nothing is ever impossible and no word from God shall be without power or impossible of fulfillment." Perhatikan kata "WITH GOD", alias "DENGAN ALLAH". Tidak ada yang mustahil jika kita bersama dengan Tuhan, termasuk menundukkan raksasa-raksasa yang tengah mempersulit hidup anda. Jangan biarkan raksasa manapun menakut-nakuti diri anda. Tuhan menjanjikan kemenangan, dan jangan biarkan siapapun merampas kemenangan itu dari diri anda. Raksasa mana yang saat ini menguasai diri anda? Kalahkanlah raksasa itu hari ini juga. Tidak ada raksasa yang mampu mengalahkan kita jika kita berjalan bersama dengan Tuhan |
| You are subscribed to email updates from renungan harian online To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
Tuesday, May 18, 2010
"Aku berdoa supaya tidak menangis"
Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap
mobil mainan yang dimiliki.. Semuanya buatan sendiri,sebab memang begitulah
Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya
sendiri.
Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan.
Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah di antaranya. Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa.
Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!". Dor!!! Tanda telah dimulai.
Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat… Semua mobil tu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.
"Ayo..ayo… cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka.
Ahha…sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai.
Dan…
Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima kasih."
Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya.
"Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?"
Mark terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Mark.
Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain, aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah."
Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.
Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua.
Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian.
Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya.
Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya.
Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata.
Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat.
Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah.
Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian.
Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu ujian tersebut.
Amin….
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Friday, May 14, 2010
A Self Reflection - PART I
Pekerjaan saya membuat saya berhubungan dengan banyak orang dan akhirnya membuat saya mempunyai kesempatan untuk mengenal karakter dari masing – masing orang. Setiap kali saya akan memulai suatu training (kepada klien maupun kepada karyawan baru) atau presentasi kepada calon customer saya, biasanya saya selalu bertanya kepada mereka tentang kondisi mereka saat ini dan bandingkan dengan beberapa tahun kebelakang lalu tanyakan pada diri sendiri apakah kondisi kita saat ini lebih baik, tidak ada perubahan atau bahkan mengalami kemunduran. Jawabannya ber variasi rata – rata menyatakan mereka lebih baik, tetapi ada juga yang tidak mengalami perubahan dan sedikit sekali yang mengalami kemunduran. Setelah itu, saya tanyakan impian mereka, apa yang mereka bayangkan untuk masa depan mereka, akan menjadi lebih baik ? Mau tetap berjalan di tempat ? Atau malah mundur ? Untuk yang satu ini semua orang rata – rata pasti menjawab bahwa mereka ingin lebih baik daripada saat ini.
Tetapi yang lucunya, walaupun rata – rata orang menginginkan perubahan kearah yang lebih baik, rata – rata orang yang saya tanyakan hal tersebut diatas tidak dapat menggambarkan atau memberikan penjelasan yang lebih detail tentang arti menjadi lebih baik tersebut. Temans, inilah sebenarnya inti dari masalah kita termasuk saya sendiri dalam hal ini, kadang lupa untuk bisa menentukan arah yang pasti untuk kita tuju. Ini sama saja seperti naik ke dalam mobil lalu mengendarai mobil tersebut tanpa tujuan sampai akhirnya kita kehabisan bahan bakar. Atau … ada juga beberapa orang yang tahu dengan jelas mau menuju kemana tetapi lupa untuk menggambar peta dan akhirnya terjebak pada jalan – jalan setapak yang mereka pikir bisa membawa mereka lebih cepat (mereka pikir adalah jalan pintas) yang pada kenyataannya justru menghambat perjalanan mereka dan yang lebih celaka nya lagi malah membuat mereka tidak bisa mencapai tujuan mereka. Orang – orang tipe ini sebenarnya merupakan orang – orang yang saya bilang mereka hanya "BERMIMPI" untuk bisa berhasil.
Di sisi lain, saya juga bertemu dengan beberapa orang yang DENGAN TEGAS bisa menyebutkan apa yang mereka mau capai, berapa lama hal tersebut dapat mereka capai, dan apa yang akan mereka lakukan jika hal tersebut tidak berhasil mereka dapatkan. Segelintir orang ini biasanya berhasil mendapatkan apa yang mereka mau, kenapa ? Karena mereka TAHU DAN MAU MENGEJAR IMPIAN mereka.
Naaaaahhh … setelah saya berpanjang lebar menjabarkan hal ini, teman – teman pasti sekarang sudah mengerti dong apa bedanya Impian dengan mimpi ? Sekarang pertanyaanya teman – teman mau menjadi yang mana ? Yang mempunyai impian atau yang hanya bermimpi ? sedikit panduan bagi teman – teman dalam mengejar impian. Sebuah impian itu harus :
1. Bisa dihitung (bisa dalam bentuk nominal misalnya : saya mau mempunyai penghasilan sebesar Rp. 10.000.000 per bulan)
2. Mempunyai target berapa lama impian itu harus dapat dicapai (misalnya : saya mau mempunyai rumah senilai 1 M dalam jangka waktu 5 tahun) karena dengan begitu kita bisa menentukan rencana jangka pendeknya.
3. Harus masuk akal, memang tidak ada yang mustahil, tetapi jika kita seorang sarjana ekonomi tetapi memiliki keinginan untuk menjadi seorang penemu di bidang fisika hal itu merupakan yang mustahil bukan ?
4. Jangan pernah lupa dengan hal yang satu ini …. "Menyerahkan segala sesuatunya ke dalam tangan Tuhan" Yakin dan percayalah bahwa Tuhan pasti akan menyertai setiap langkah kita jika kita benar – benar berserah kepadaNya.
5. Fokus pada tujuan, kadang hal – hal kecil ataupun godaan – godaan kecil bisa membuat kita goyah dari tujuan kita.
Semoga apa yang saya tulis ini bisa menjadi berkat bagi teman – teman semua. Dan akhir kata saya mau bilang "Mari kita kejar impian kita bersama – sama dan menjadi orang yang berhasil dibidang yang kita inginkan"
"Nothing is impossible with God"
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Tuesday, May 11, 2010
Fwd: renungan harian online
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ======================
"Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku."
Hari ini istri saya mendapatkan sebuah fakta menarik yang dikirimkan temannya lewat email mengenai burung elang dan lebah. Jika seekor burung elang dikandangkan dalam ukurang sangkar berukuran 2 x 2.5 m, meski atap sangkarnya dibuka, burung elang itu tidak akan bisa terbang. Ternyata burung elang membutuhkan landasan pacu untuk berlari terlebih dahulu sekitar 3 sampai 3.5 m untuk bisa melayang ke angkasa. Di sisi lain, seekor lebah yang terjatuh ke dalam segelas kopi tidak akan bisa kembali terbang pula, karena seekor lebah akan sibuk berputar ke sekeliling gelas sampai mati. Lebah tidak pernah melihat jalan keluar pada bagian atasnya, tetapi hanya akan berusaha mencari jalan keluar lewat pinggiran gelas. Padahal jalan keluar tidak ada di sana, semua jalan tertutup, dan dengan ketidaksadaran lebah untuk melihat jalan keluar di atas, lebah itu pun akan menemui ajalnya. Ini kisah menarik yang seringkali terjadi pada diri kita. Seperti halnya elang dan lebah di atas, kita sering lupa bahwa ada Tuhan di atas segalanya yang sanggup memberikan jawaban, jalan keluar atau pertolongan, tidak peduli seberat apapun masalah yang kita hadapi. Tapi sama seperti lebah di atas, kita seringkali hanya berputar-putar mencari cara untuk melepaskan diri kita dari masalah, terus mengandalkan kekuatan sendiri saja, atau berharap pada manusia lain, bahkan terjerumus ke dalam alternatif-alternatif yang padahal dianggap jahat di mata Tuhan. Dengan kata lain, kita sibuk mencari solusi dengan cara-cara duniawi dan lupa memandang Allah Surgawi kita. Kita sibuk memfokuskan diri kepada masalah lalu lupa kepada Allah yang sanggup menjadi jawaban atas segala keadaan kita hari ini. Yusuf pernah secara langsung mengalami situasi seperti burung elang di atas ketika ia dijerumuskan ke dalam sumur sempit yang gelap oleh saudara-saudara kandungnya sendiri. "Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair." (Kejadian 37:24). Tidak ada catatan bahwa Yusuf berteriak-teriak ketakutan, memohon belas kasih saudara-saudaranya. Tidak ada catatan bahwa Yusuf merasa panik meski tidak ada yang tahu berapa lama ia akan dibiarkan dalam sumur itu. Jika kita berada dalam situasi seperti itu, mungkin kita akan berpikir bahwa itulah akhir dari hidup kita. Mati pelan-pelan tersiksa disana. Tapi tidak bagi Yusuf. Ia masih melihat cahaya terang dari atas. Dan selama ia masih melihat ada "Terang" dari atas, itu artinya pengharapannya belumlah habis. Masih ada Tuhan, di atas sana, yang sanggup melepaskan dirinya. Mungkin bukan saat itu juga, tapi pada waktunya Tuhan pasti mengangkatnya dan membawanya ke dalam keberhasilan-keberhasilan yang gemilang. Saya yakin itu memenuhi pikiran dan hati Yusuf, karenanya ia tidak pernah bersungut-sungut dan mengeluh meski setelah lepas dari sumur ia masih harus mengalami berbagai penderitaan beberapa tahun lamanya. Jika hari ini anda berada dalam lautan masalah dan merasa terus berputar-putar tanpa hasil yang jelas dengan mengandalkan kekuatan anda sendiri, ini saatnya anda mulai melihat ke atas. Pandanglah Tuhan dan serahkan segala beban anda kepadaNya. Percayalah dengan kesungguhan penuh bahwa Tuhan jauh lebih dari sekedar sanggup untuk membantu anda keluar dari masalah. Tuhan selalu ada beserta anak-anakNya, bahkan dalam kegelapan yang tergelap sekalipun. Daud juga merupakan orang yang mengalami banyak pergumulan hidup sejak masa kecilnya. Tapi lihatlah bagaimana keteguhan hatinya untuk percaya kepada penyertaan Tuhan. "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4). Daripada fokus kepada masalah, yang seringkali tidak membawa keuntungan apapun bagi kita malah akan memberatkan langkah kita lebih dan lebih lagi, mengapa tidak melakukan perubahan dengan memandang ke atas dan mengandalkan Tuhan, yang jauh lebih berkuasa dari apapun juga? Tuhan tidak menginginkan kita menjadi burung elang yang terperangkap dalam sangkar sempit dan tidak bisa terbang meski dengan atap terbuka sekalipun. Dengan penyertaannya, kita dijanjikan seperti ini: "tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." (Yesaya 40:31). Tuhan pun tidak ingin kita seperti lebah yang terus mencari solusi ke kiri dan kanan, berputar-putar tanpa arah dan tujuan, lalu lupa untuk melihat jalan keluar sebenarnya terbentang di atas kita. Firman Tuhan pun berkata: "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7). Bagi orang yang mengandalkan Tuhan, "Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah." (ay 8). Firman yang tepat sama pun hadir lewat Daud. "Berbahagialah orang yang...kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Ketika anda merasa kesulitan dan menderita akibat berbagai masalah yang membebani hidup anda, ingatlah bahwa di atas sana ada Tuhan yang peduli dan mengasihi kita dengan sepenuhnya. Tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk diatasi olehNya. Dan selama kita hidup mengandalkan Tuhan, selama kita berjalan bersamaNya, mengapa kita harus khawatir? Kita bisa belajar dari ketidaksadaran yang dilakukan lebah dan elang di atas agar kita tidak harus berakhir dengan cara yang sama. Solusi selalu ada dalam Tuhan, yang akan selalu menyertai kita dengan kasihNya yang luar biasa meski kita berada dalam lembah kekelaman sekalipun. Ketika sekeliling anda gelap, arahkanlah pandangan pada terang di atas anda You are subscribed to email updates from renungan harian online To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. Email delivery powered by Google Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone