Monday, May 3, 2010

Orang saleh yang binasa karena kesalehannya - A Self Reflection

Sumber Bacaan :
Pengkhotbah 7 : 15

Di hari Jumat lalu tanggal 30 April 2010, merupakan hari terakhir di bulan April dan seperti biasanya agenda FoB adalah mengadakan PD dwi mingguan dan merupakan PD yang kedua karena memang kegiatan ini baru saja dicanangkan di bulan April (lihat postingan saya sebelum ini)
Walaupun yang datang tidak sebanyak di dua minggu lalu, karena mungkin kurangnya sosialisasi di Kopdar, Milis, maupun FB, ditambah lagi dengan akhir bulan dan hari Jumat pula …. (khan kalo akhir bulan banyak kerjaan dikantor karena lagi tutup buku, sedangkan hari Jumat hari KopDar aka kumpul bareng komunitas motor … heheheheheheeheh) tapi ibadah tetap dilaksanakan.
Seperti pada yang ulasan pertama kali, kali inipun gw mencoba untuk menjabarkan apa yang gw dapet dengan bahasa gw sendiri dan dalam persepsi gw.
Temans, kalo kita bicara orang fasik atau orang2 yang gak kenal Tuhan ataupun orang2 yang gak pernah berbuat baik, adalah sangat wajar kalo mereka binasa … bener gak ??? Nah … kalo orang benar atau orang saleh binasa karena kesalehannya gimana coba ? Pertanyaan selanjutnya "Kok bisa yach ???" ya bisa donks … ini nich jawabannya … ada tiga perkara kenapa orang saleh binasa karena kesalehannya :
Coba teman – teman baca II Tawarikh 25 : 2 (lebih enak sich kalo baca semuanya yaitu II Tawarikh 1 – 28) disitu dikisahkan tentang Raja Amazia, beliau merupakan salah satu Raja Israel yang melakukan apa yang benar di mata Tuhan TETAPI ia tidak melakukan itu dengan segenap hatinya … kenapa ? Karena dia masih mendendam, dia tidak mau membereskan hatinya coba teman – teman buka lagi Matius 5:23 – 24, Tuhan meminta kita untuk berdamai dengan semua orang, bahkan jika kita di tengah – tengah peribadahan dan teringat akan amarah kita terhadap orang lain, kita disarankan untuk meninggalkan peribadahan tersebut, berdamai dengan orang yang dimaksud lalu melanjutkan kembali ibadah kita.
Refleksi diri : Bagaimana dengan kita ? Sudahkah kita berdamai dengan orang – orang yang sudah kita sakiti atau bahkan yang menyakiti kita? Siapkah kita melakukan hal tersebut ?
Orang percaya yang tinggi hati (lihat Pengkhotbah 7 : 20) kadang seseorang yang merasa dirinya saleh menyangka bahwa ia tidak mempunyai kesalahan, ia cenderung memandang rendah orang lain yang dianggapnya masih belum benar, akhirnya ia terjebak dalam pikirannya sendiri yang menganggap bahwa ia paling benar (tentu teman-teman ingat orang – orang Farisi khan ? yang selalu menganggap dirinya lebih benar daripada orang lain)
Refleksi diri : Apakah kita juga secara tidak sadar melakukan hal tersebut ? Menghakimi sesame kita akan kesalahan mereka dan tidak mau melihat kedalam diri sendiri terlebih dahulu dan mengenal diri sendiri. Apakah kita cenderung menghakimi orang lain dan berlindung di balik alibi bahwa kita berusaha mengingatkan mereka akan kesalahan mereka ? Atau malah kita menjadi tukang gossip yang membicarakan kejelekan orang lain dan merasa diri kita paling benar ???
Orang percaya yang keras hati (Yakobus 4 : 17) ini dia nich yang lebih bahaya … Kita tahu caranya berbuat baik, tetapi tidak melakukannya … waduuuuhhhh … attttttuuuuuuuutttttt ….
Teman – teman,Tuhan tidak melihat hasil, Tuhan tidak melihat siapa kita, Tuhan MELIHAT proses, janganlah kita berorientasi pada hasil tetapi lihatlah prosesnya, jika prosesnya benar niscaya hasilnya benar, ingatlah satu jari menunjuk 3 jari menunjuk balik kepada kita. Semua sama di hadapan Tuhan, dan satu lagi … Bukan orang benar yang Tuhan panggil tetapi orang yang tidak benar karena orang sehat tidak perlu dokter orang yang sakitlah yang perlu dokter.Mari kita sama – sama berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik bagi Tuhan, diri kita sendiri, keluarga kita, dan lingkungan kita. Marilah kita saling mengingatkan tanpa menghakimi satu atas yang lainnya.

"Manusia melihat apa yang ada di depan mata, tapi Tuhan lebih melihat hati daripada pencapaian"


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

No comments: